
Dengan tidak melepaskan pangutan bibirnya dan milik istrinya, Arsen menuntunnya menuju ranjang hangat yang sepertinya akan menjadi tempat ternyaman untuk melakukan adegan saling serang dengan istrinya itu.
Kim Jisoo benar-benar menikmatinya saja, sesuai dengan permintaan Arsen. Tanpa melakukan apapun.
Dalam sekejap, bathrobe yang membalut tubuh Jisoo sudah tergeletak sembarangan diatas lantai. Yang artinya, sudah tidak ada sehelai benangpun tersisa, yang dapat menghalangi pandangan.
Merasakan tubuhnya kini polos tak tertutupi apapun, Jisoo memejamkan matanya, erat.
Malu.
Tambah lagi suaminya mulai meraba. Menyentuh bagaian manapun yang ia inginkan, membuat jantung berdegup.
Tubuh keduanya sudah berada diatas ranjang, dalam posisi 'ehem-ehem'.
Arsen menyusuri tubuh polos dihadapannya, dengan tatapan menginginkan.
"Oppa, aku malu." Kim Jisoo menutup wajahnya dengan bantal, memyembunyikan senyumannya disana. Ditatap lama seperti itu membuatnya menjadi salah tingkah.
"Sayang," Arsen menuntun satu tangan istrinya untuk membuka handuk yang masih melilit dipinggangnya. Menunggu Kim Jisoo berinisiatif membukanya hanya akan membuang waktu.
Deg deg, deg deg.
Arsen tak kalah gugup. Namun, ia harus memulainya. Tidak perlu menunggu lama lagi.
"Sayang, kau tidak ingin memainkan pedangku?" bisik Arsen, menggoda.
"Oppa! Aku tidak tahu cara memainkannya."
"Makanya, buka matamu. Kau harus melihatnya lagi. Aku akan mengajarimu memainkannya,"
"Oppa! Aku malu melihatnya. Apa lagi memegangnya."
Aiiis lambat.
Arsen membuka paksa bantal yang masih tertahan erat menutupi wajah istrinya itu.
"Kim Jisoo? Kau... kenapa? Hidungmu, hidungmu berdarah lagi."
"Ya?" Jisoo merabah area hidungnya dan benar saja, darah merah pekat mengalir dari sana. Bahkan bantal yang tadinya menutup wajahnya juga terkena darah.
"Sayang, apa aku nyakitin kamu?"
Arsen mengambil tisu untuk membersihkan hidung istrinya, dengan perasaan gugup
Jisoo menggeleng.
"Aku hanya kelelahan. Ini sudah biasa meskipun jarang terjadi." Jisoo mengangkat tubuhnya, duduk bersandar.
"Kalau begitu, kita ke rumah sakit saja. Aku takut kamu kenapa-kenapa."
"Aku tidak akan mati Oppa, jangan khawatir. Sama sekali tidak apa-apa."
"Benarkah tidak ada yang sakit? Ahhh, apa kau ini ubur-ubur? Kau selalu mengeluarkan tinta saat akan diserang."
"Enak saja ubur-ubur."
Setelah darah sudah tidak keluar, hidung sudah bersih tak berdarah, Arsen merasa legah.
"Ayo, Oppa, sampai dimana tadi? Kita bisa lanjut sekarang." Jisoo menatap tibuh telanj*ang Arsen, dengan segaja memicingkan mata.
"Cssshhh! Kau ini, sudahlah. Istirahat saja dulu, kita lakukan saat kau dalam keadaan baik. Bikin bayi itu butuh tenaga exstra sayang,"
"Ayolah, Oppa! Nanggung."
Jisoo sengaja terlihat bersemangat akan melakukannya, karena dia tahu Arsen tidak akan tega menyentuhnya.
"Sudahlah sayang, ayo tidur saja." berbaring disamping istrinya lalu memberinya pelukan hangat.
__ADS_1
Jisoo pun tertidur dalam dekapan suaminya.
Lelah. Jisoo memang sangatlah lelah. Sebenarnya Ia memang tidak sanggup harus buka segel dan beradu gulat dengan Arsen malam ini.
.
.
Keesokan harinya.
Keluarga Park sedang nikmati sarapan bersama, seperti biasa.
Sesekali Jimin melirik sang kakak penipu-nya sambil menikmati sarapan.
Nikmatilah sarapan terakhirmu di rumah ini, Bae Su Mi.
"Jimin, jangan lupa ke kantor hari ini ya, jangan terlambat. Kamu juga, Given." ujar si Daddy, tepat setelah acara sarapan selesai.
"Kurasa, aku saja yang datang, Dad, mulai hari ini, tidak perlu melibatkan Nuna."
"Apa maksud kamu?" tandas Given, dengan wajah curiga.
"Anak Daddy hanya ada aku. Jadi, jangan memberi saham itu ke nuna."
"Jimin! Bicara apa kamu? Daddy hanya mempercayakannya ke kakak kamu sebelum kamu bisa gantikan posisi Daddy!" marah sang mommy, tak terima atas kelakuan putranya yang dinilai serakah dan tidak mengakui keberadaan kakak perempuannya.
Given, terdiam. Otaknya tengah berpikir keras, menebak segala kemungkinan.
"Ada apa denganmu Jimin? Kau terdengar sangat aneh pagi ini. Apa ada masalah antara kalian berdua?" tandas si daddy, terkesan menuduh putranya.
"Bukankah aku benar, Nuna? Kau bukan kakakku. iya, Kan?" menatap mata Bae SuMi, lekat.
"Jimin!" daddy menggubrak meja.
Sedangkan si Mommy, wanita itu merasa syok mendengar tuduhan konyol putranya, terhadap Given.
Bae Su Mi tersenyum hangat. "Haruskah kita lakukan Tes DNA, adikku?"
"Ini hasil tes antara kau dan daddy, kau dan mommy, bukalah kalau tidak percaya. Bae Su Mi,"
"Jimin! Kau jangan kurang ajar sama nuna-mu!"
Mario dan istrinya sama-sama menyangkal apa yang di katakan Jimin, bahkan sebelum melihat dokumen yang berada di hadapan Given.
Gadis itu tidak berkutik, ia tidak punya keberanian untuk melihat itu.
"Aku yang akan membantumu membukanya, Su Mi," dengan cepat jimin mengambil kembali amplop coklat itu dan menarik keluar sesuatu dari dalamnya.
Mommy, daddy ikut berdiri ditempat. "Jimin, apa yang kau lakukan?"
"Lihatlah ini, Dad, Mom," mengarahkan kertas itu kehadapan wajah kedua orang tuanya.
Deg
Mommy Jen seperti hampir kehilangan keseimbangan. Mario tak kalah terkejut.
"Given, katakan sesuatu! Katakan bahwa ini tidak benar, sayang," Lirih Mommy. Mario ikut menatap gadis itu.
"Jangan memanggilnya Given, Mom! Dia bukan kakakku!" bentak Jimin.
"Dad, Mom, ini tidak benar. Kita harus mengulang tes ini. Mungkin adikku keliru. Jimin, nuna kecewa, kau sudah berubah sekarang. Kenapa kau tidak menyukai dan menganggap nuna lagi? Jimin, apa yang harus nuna lakukan? Hah?"
Given palsu berusaha menyangkal semuanya. Ia bahkan menangis di hadapan keluarga itu.
"Given sayang, cukup Nak, maafkan adik kamu. Dia belum begitu dewasa dalam bersikap." mommy mendekati Su Mi serta memeluknya.
Mario mendekati putranya lalu tanpa aba-aba menghajar putra bungsunya itu dengan satu serangan menggunakan bogem mentahnya.
__ADS_1
"Anak kurang ajar, apa kami mengajarimu serakah? kau sebegitu takutnya perusahaan jatuh ke tangan kakakmu? Sifat sepertimu ini hanya akan merugikan. Minta maaf ke nunamu, sekarang!" sarkas mario.
Jimin mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, lalu tersenyum sinis.
"Baik, lihatlah dan dengar ini baik-baik."
Pria muda itu mengeluarkan ponselnya dengan gaya santai.
Sebuah video ia putar disana.
"Apa Daddy masih tidak percaya padaku?"
Mario melotot menyaksikan video tersebut. "Tidak! Video ini tidak benar kan, Given?"
Bae Su Mi gemetaran. Si Mommy bahkan melepas pelukannya untuk gadis itu. Ia berusaha menggeleng menolak kebanran yang ada.
Disana terlihat, Bae Su Mi bersama seorang wanita yang akrab ia panggil 'ibu'. Terdengar percakapan antar keduanya, yang sedang merencanakan masa depan bersama setelah mendapatkan keuntungan dari keluarga Park.
"Ada apa ini? Apa di rumah ini sedang ada masalah?"
Si Grandma muncul tiba-tiba, membuat semua orang menoleh kearahnya.
Su Mi, gadis itu sepert mendapatkan sebuah cela untuk kabur. Sebelum dirinya benar-benar ketahuan, gadis itu berpikir bahwa ia harus menyelamatkan diri.
"Sumi! Mau kemana kau? Tunggu! Jangan kabur!" Teriak Jimin. Namun, ia tak menyusul gadis itu.
"Daddy, Mommy, lihatkan? Dia lari. Dia ketakutan. Dia adalah penipu dan menipu kita selama ini."
Deg.
Mommy, terduduk kaku. Mario seketika memegang dadanya yang terasa sakit.
"Ada apa ini? Jimin, jelaskan pada Grand'ma!"
Hening. Tak ada yang menjawab.
Park Yoo Ra mendekati kertas putih hasil DNA tersebut, lalu menegang seketika.
"Mereka yang akan menjelaskannya lebih lanjut." Jimin kembali membuka suara, memandang ke arah pintu utama. Dua orang petugas memasuki kediaman itu, menyeret Given palsu dengan tangan yang telah terborgol. Gadis itu tidak berani menatap ke arah keluarga itu.
"Maaf pak Mario, kami akan membawa gadis ini. Ia dilaporkan dan terbukti telah melakukan penipuan terhadap keluarga ini bersama ibu kandungnya. Bukan begitu, saudara Jimin?"
"Benar pak, silahkan bawa dia." jawab Jimin, lugas.
BRRUUK.
Park Yoo Ra, tiba-tiba tergeletak di lantai. Ia begitu syok dan tidak mampu mengetahui kebenaran ini.
"Grandma"
"Eomma! Eomma!"
Anak cucunya dibuat sibuk dan sangat khawatir.
"Tidak! Tidaaak! Ma ... bangun. Jangan begini. Kami juga sangat tidak terima akan hal ini. Kau harus kuat."
Tubuh tua renta Park Yoora segera mereka bawa ke rumah sakit.
"Jimin, kau urus Grandma, daddy sama mommy akan pergi ke kantor polisi." ujar Mario, lirih. Wajah pria setengah baya itu tampak sangat tidak sehat. Begitu pula dengan Jenni, kedua matanya terlihat sedih dan begitu sembab.
"Iya, Dad, Mom, kalian berdua harus kuat. Jangan sakit. Masih ada Jimin disini untuk kalian. Jangan sakit seperti grandma, oke?" Ia peluk kedua orang tuanya itu bersamaan, ketiganya berpelukan untuk saling menguatkan.
.
.
**Guysss. sudah tidak gantung kan?
__ADS_1
Tetap semangat ya...
Sampai jumpaaaaa**.