
Arsen POV.
Jantungku masih menggebu hebat. Tekadku untuk bertemu dengan istriku ternyata tidak sia-sia.
Kami terus menerima dan memberi kepuasan. Benar kata Suga dan J-Hope, rasanya memang nikmat saat benda pusaka-ku mendapat belaian. Akhirnya, pedang kebanggaanku tidak suci lagi. Benda ini bukan lagi milikku sendiri tapi juga milik istriku. Dia bebas mau apakan benda ini, asal jangan mencopotnya.
Apa kami sudah unboxing? Ya... aku sudah unboxing pedangku. Tapi belum menggunakannya seperti seharusnya. Aku sedang menuntun istriku menjuju ke sana. Tapi, ada ketakutan di benakku. Aku takut menyakiti istriku yang baru saja pulih.
"Oppa ..." suaranya menyadarkan aksiku.
"Hm? Apa sayang?" jawabku setengah mend3s4h.
"Apa ini belum cukup?" tanyanya, berat, menahan gejolak.
"Apa kau takut?"
Istriku menggeleng ragu. Jangan lupa, tangannya masih memegang bilah pedangku yang sudah ready sedari tadi.
Tangan polosnya memang tidak melakukan gerakan apapun tapi berhasil memberi rasa bagi pedangku.
Apa yang harus aku lakukan? Lanjut, atau ...
"Sayang, apa lukamu masih terasa sakit?" bisikku.
Dia mengangguk. Aku yakin dia sudah menahan sakit sejak tadi.
Aku memutuskan menyudahinya. Beranjak dari tempat tidurnya dan memasuki kamar mandi. Bagaimanapun hasratku harus tersalurkan.
Setelah beberapa menit, aku berhasil menuntaskannya di kamar mandi. Untuk pertama kalinya aku melakukan hal ini disepanjang sejarah hidupku. Jangan tanya dengan siapa. Tentu saja aku sedang bermain solo.
Satu hal yang aku sayangkan, semburan bibit unggulku terbuang sia-sia. Mungkin saja disana ada bakal calon presiden dan penerus Yorus Grup yang hebat. Aku membuangnya percuma. Bibit unggul pertamaku.
Ah, sudahlah.
"Given, kamu belum tidur sayang?"
Aku tercekat. Baru saja hendak membuka pintu kamar mandi aku tiba-tiba mendengar suara ibu mertuaku.
Ya ... dia pasti datang untuk melihat keadaan putri kesayangannya. Untung saja aku sudah selesai mencumbui istriku. Bayangkan gimana malunya kalau sampai dipergok.
.
Given POV.
Aku sangat gugup saat mommy tiba-tiba masuk ke kamar. Baru kali ini aku merasa tidak menyukai kehadiran mommy di kamarku.
Apa kabar oppa? Dia pasti terjebak di kamar mandiku. Kasihan dia.
"Mom, Given tidak apa-apa kok," jawabku setelah mommy menanyakan kenapa aku belum tidur.
"Mommy khawatir sayang, apa ada yang kamu pikirkan?"
Aku menggeleng mantab.
"Kamu merindukan suamimu?"
Entah kenapa mommy menanyakan itu. Apa hatinya sudah menerima oppa?
Akhirnya mommy keluar dari kamarku setelah aku meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.
Ceklek.
Suamiku keluar dari kamar mandi.
Aku tersenyum dalam keremangan kamar.
"Oppa, kita hampir ketahuan." ujarku, tak enak hati.
Ia kemudian duduk disampingku. Aku memeluknya erat dan dibalas olehnya.
__ADS_1
"Given,"
"Hmmm"
"I love you"
"Benarkah?"
"Hmmm."
"Terima kasih Oppa."
Kami pun berbaring bersama. Aku bisa merasakan betapa dia sangat menyayangiku. Aku berharap, dia bisa merasakan hal yang sama, memyadari bahwa aku juga sangat mencintai dia.
.
.
Dua jam kemudian.
waktu sudah menunjukkan pukul 4 menjelang pagi. Sadar bahwa dirinya harus pergi, Arsen beranjak dan merapikan diri.
"Kurasa ... aku harus pergi, sayang."
"Oke, Oppa."
Keduanya berjalan menuju balkon. Sambil gandengan tangan pula.
"Oppa, nanti malam aku akan ke rumah sakit. Aku mau temani grandma."
"Kalau begitu aku juga akan menemanimu."
"Baiklah, tapi, apa kita harus minta izin daddy?"
"Aku yang akan minta izin ke daddy."
"Oke Oppa, kalau daddy tidak izinkan, Oppa jangan melawan."
Arsen kini siap untuk turun.
"Ven, aku turun yah, jaga dirimu."
Cup.
Menyempatkan diri memberi kiss di pipi istrinya.
"Hati-hati turunnya Oppa, jangan sampai terpeleset."
"Iya, tidak ada garansi jadi aku akan hati-hati. Doakan saja aku tidak ketahuan mommy daddy. Itu jauh lebih beresiko."
.
.
Kediaman Park
"Mom, ada apa? Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu."
Mario memghampiri istrinya yang tengah menata sarapan pagi di meja makan.
"Dad, aku merasa curiga."
"Curiga apa?"
"Semalam aku mencium aroma parfum pria di kamar Given. Apa jangan-jangan Arsen menyelinap ke sana?"
"Pagi Mom, Daddy!"
Given datang dengan wajah lebih berseri dari biasanya. Lebih bersemangat dan terlihat sangat fresh.
__ADS_1
"Given, mommya senang kamu terlihat sangat lebih sehat hari ini. Ada yang bikin happy?"
Jelas, mommy merasa semakin curiga.
"Mommya! Aku laparrrr!"
Jimin muncul dengan wajah bantalnya.
"Jorok, mandi dulu baru gabung sarapan." Given
"Noona, aku kurang tidur. Setelah sarapan aku akan tidur lagi."
"Kurang tidur? Kenapa bisa kurang tidur?" mommy memicing mata.
"Gara-gara seseorang mengganggu tidurku."
"Siapa?"
Uhuk uhuk uhuk.
"Noona, kau tidak apa-apa?" Jimin dengan sigap mendekatkan air mineral ke arah Given yang tiba-tiba saja terbatuk. "Minumlah dulu, Nuna."
"Kau gugup, Nuna? Tenang saja. Aku tidak akan mengatakan soal hyung." bisik Jimin kemudian.
Malam harinya.
Keluarga Park berkumpul di ruang rawat si grandma yang tidak juga bangun.
Mario, Jimin dan Jenni memutuskan untuk pulang sedangkan Given memilih tinggal. Karena telah berangsur pulih, ia merasa bahwa sesekali dirinya perlu menemani sang nenek. Wanita tua yang pernah memberi cap lima pada pipinya.
Grandma, Given disini.
Ia usap jemari yang telah menua itu dengan lembut.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Given menoleh dan kini senyumnya mengembang.
"Oppa!"
Arsen benar-benar datang. Pria itu berjalan menuju istrinya sambil merentang tangan.
"Aku kangen sayang," Arsen memeluk Given dengan sangat erat.
"Aku juga kangen Oppa."
Kduanya menyudahi pelukan setelah beberapa saat.
"Hai, nenek, aku datang menjengukmu. Nek, semoga anda segera bangun dan memberikan restu untuk kami."
Malam semakin larut. Arsen kemudian memadamkan lampu. Keduanya berbaring diatas sofa bed. Suasana yang sangat mendukung untuk memadu kasih. Berduaan diatas tempat tidur dalam keadaan gelap. Tapi, keduanya hanya berpegangan tangan.
"Oppa,"
"Hmmm."
"Oppa yakin kita hanya seperti ini?"
"Apa maksudmu?"
"Aku mau, Oppa."
Given memainkan jari-jarinya. Mulai dari leher hingga turun ke perut Arsen.
"Hei! Jangan macam-macam." Arsen menahan tangan Given yang seperti hendak menuju pedangnya.
"Oppa menolak?"
__ADS_1
"Aku tahu kau tidak serius. Jangan memancingku kalau hanya akan membuatku harus bermain solo di kamar kecil itu."
"Apa? Bermain solo? Apa itu?"