
Arsen, Jimin, Mario, melangkah dengan sangat hati-hati sambil sesekali memanggil gadis itu.
Istriku dan Given ada di gedung gelap ini?
Apa yang telah terjadi dengan istriku?
Apa ini ulah Given yang marah terhadap istriku?
Rasanya Arsen tak tahan untuk bertanya pada dua pria yang bersamanya ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang putri keluarga Park itu lakukan di tempat ini? Kenapa Jimin dan ajahnya terus memanggil nama gadis itu?
"Ada korban disini!" Seru salah seorang petugas, sontak membuat ketiga pria itu berlari kearahnya.
Tampak seorang gadis dengan rambut menutupi seluruh wajahnya, mengenakan dress berwarna cream, tergeletak bersimbah darah.
"Nunaaaa!" Jimin mendekati tubuh tak berdaya itu, memeluknya sambil menangis. Demikian juga dengan Arsen yang langsung menyibak rambut gadis itu untuk melihat wajahnya.
"Kim Ji Soo!" dalam sekejap tubuh gadis itu berpindah kedalam dekapan Arsen.
"Kim Jisoo, sayang, ada apa ini? Sayang, kita ke rumah sakit sekarang, kumohon bertahanlah."
Tidak lagi memperdulikan keberadaan Mario dan Jimin, Arsen berlari menuruni gedung itu dengan bantuan pencahayaan dari pihak petugas.
"Dad, sadar!"
Jimin mengguncang tubuh ayahnya yang tengah bersandar tak berdaya pada tembok.
"ayo susul mereka, Dad."
"Jimin, apa yang telah terjadi dengannya? Apa gadis itu mati? Kita terlambat?"
Mario merasa semua ini adalah salahnya. Kini ia sedikit berharap bahwa Kim Jisoo bukanlah Given, putrinya.
"Dad, dia bukan hanya sekedar seorang gadis. Bisa jadi dia benar-benar Nuna-ku."
Perkataan Jimin membuat hati Mario benar-benar tertusuk.
"Baiklah, mari kita membuktikannya."
Mario dan putranya itu melangkah dengan langkah yang terasa sangat berat.
"Cari orang itu sampai dapat. Jangan biarkan dia lolos." Mario pergi meninggalkan tempat itu, mempercayakan tim yang bertugas untuk mencari pak Bae.
Diperjalanan.
Arsen terus memeluk tubuh istrinya. Menatap wajah itu saja membuat air mata Arsen lolos keluar begitu saja. Namun, ia berusaha tersenyum lembut kearah wajah itu.
Istriku sangat cantik dengan baju ini. Benar, aku yang memintanya berdandan cantik malam ini. Kau sangat penurut, sayang.
Siapa yang melakukan ini, sayang? Bangun dan beritahu aku. Aku akan menghukumnya. Apa Given Park, yang melakukannya?
Tiba di rumah sakit.
Tim medis dengan segera melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap Jisoo.
Arsen menunggu dengan perasaan gelisah. Pria itu kembali meneteskan air mata saat menyadari kemeja yang ia kenakan berlumuran darah milik istrinya.
Jangan kira karena sayang akan baju mahalnya, akan tetapi karena pria itu benar-benar takut jika istrinya kenapa-kenapa.
Ini adalah salahku. Aku tidak menjaganya. Maafkan aku, sayang.
"Hyung, mari kita bicara." suara Jimin tiba-tiba terdengar. Arsen sedikit bertanya dalam hati, kenapa ayah dan anak ini peduli dengan istrinya.
"Kalian datang? Istriku, dia ... -"
__ADS_1
"Ikut aku ke atap, Hyung, mari kita bicara."
Jimin tidak lagi membiarkan Arsen menuntaskan perkataannya.
Tiba di atap rumah sakit.
Jimin berdiri tegak, menarik napasnya dalam-dalam.
"Apa yang ingin kqu bahas denganku?"
Jimin memutar tubuhnya dan secara tiba-tiba ...
BUGH
Melayangkan tinjunya mengenai wajah Arsen, pria itu seketika tersungkur.
Sssssh, Arsen mengusap hidung dan mulutnya yang terasa menghangat karena aliran darah.
Apa salahnya? Kenama bocah ini memukulnya?
Belum sempat Arsen bertanya, Jimin kembali melayangkan satu pukulan lagi. Wajahnya terlihat sangat marah dan memerah.
"Hyung, kenapa kau tidak menjaganya? Hah? Kenapa Nuna sampai seperti itu? Apa yang kau lakukan sehingga membiarkannya mendapat tembakan dua kali?"
Jimin mengeratkan cengkeramannya pada kerah kemeja Arsen yang masih dalam posisi terbaring.
Bruaakkk. Jimin terhempas menjauh.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau memukulku, hah? Kau pikir kau ini siapa?" Sarkas Arsen dengan rahang mengeras. Kini gantian, Arsen yang mencengkeram leher baju Jimin.
"Kenapa, hah? Kenapa kau terlihat begitu marah? Apa benar, kakakmu yang terobsesi padaku itu yang melakukannya? Jawab aku! Dimana perempuan itu? Dia yang lakukan itu pada istriku, iya kan?" Teriak Arsen dengan tatapan marah.
Jimin terdiam membalas tatapan Arsen.
"Jawab! Dimana Given Park? Kau dan ayahmu menyembunyikannya? Hah? Jangan sok peduli pada istriku!"
"Nuna! Nuna! Nuna! Aku muak kau menyebutnya seperti itu. Apa kau sedekat itu dengan istriku? Apa kau ini adiknya? Hah? Atau ... kau menyukai istriku? Hah?"
"Yaa! Aku suka Nuna. Karna kau tidak bisa menjaganya, akan kuambil dia darimu, Hyung."
BUGH.
"Kau berani menyukai istriku?"
Bugh
Arsen meninju wajah Jimin sebanyak 2 kali.
"Park Jimin! Kau benar-benar membuatku muak. Pergilah dari hadapanku sekarang juga, atau ku buang kau dari gedung ini. Arsen mengakhiri kalimat peringatannya dengan menghempas kasar tubuh Jimin.
Arsen kembali berdiri lalu pergi meninggalkan Jimin.
Tunggu saja kau, Hyung, kalau dia terbukti adalah Nunaku, jangan harap kau bisa melihatnya lagi.
Jimin menatap kepergian Arsen dengan tatapqn matanya yang mengeluarkan cairan air mata.
Arsen kembali ke ruang tunggu ditempat ia menunggu sebelumnya. Mario masih berada disana dengan wajahnya yang tertunduk.
"Anda masih di sini? Pulanglah! Aku yang akan menjaga istriku."
Mario mengangkat wajahnya untuk merespon perkataan Arsen.
Srreeet. Pintu ruang pemeriksaan terbuka.
__ADS_1
Seorang dokter keluar dari sana bersama seorang perawat disampingnya.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?"
"Istri anda harus segera di operasi, Pak. Petugas akan membawa dokumen untuk anda tandatangani. Untuk saat ini, kondisi korban sangat kritis karena banyak mengeluarkan darah. Satu lagi, salah satu organ vitalnya terkena peluru. Anda perlu banyak berdoa untuk keselamatan pasien."
Degg...
Ekspresi wajah Mario dan Arsen sama-sama terlihat ketakutan.
"Adakah keluarga yang kebetulan memiliki golongan darah yang sama dengan pasien? Kebetulan stok untuk golongan darah A sedang terbatas. Maafkan kami, Pak, tapi anda harus bertindak cepat."
"Saya dok, saya juga golongan darah A. Saya memang sudah tua, tapi saya rasa saya cikup sehat." Mario dengan tiba-tiba menanggapi sang dokter.
Kenapa orang tua ini peduli pada istriku? Bukankah dia tidak menyukai aku dan seluruh keluargaku?
"Saya juga dok, golongan darah kami sama. Tolong ambil darah saya sebanyak apapun yang dia butuhkan."
Kehadiran Jimin cukup mengejutkan Arsen. Tapi pria itu tidak bisa marah saat ini. Hanya ayah dan anak ini yang bisa menolong Kim JiSoo yang ia cintai.
"Baik, kalian akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Jika benar-benar sehat, akan segera kita lakukan."
Pintu riangan itu kembali terbuka. Beberapa orang mendorong Ranjang pasien dimana Ji Soo berada diatasnya.
"Kita akan pindahkan pasien ke ruang bedah. segera."
Sayang, bertahanlah. Aku mohon.
Arsen terus memegang tangan Jisoo, ikut mengantarnya ke ruang bedah. Sedangkan Jimin dan Mario ke ruang pemeriksaan kesehatan sebelum melakukan proses donor darah.
Beberapa jam berlalu, si kembar datang bersama Min Suga dan J-hope. Keempat orang itu tak kalah terlihat prihatin, tak menyangka bulan madu sahabatnya itu akan gagal total karena peristiwa ini.
Operasi berhasil dilakukan, namun Kim Jisoo belum melewati masa kritis.
Kini ia di pindahkan ke ruang intensif. Arsen tidak sendirian. Kawan-kawannya dengan setia menemani pria itu yang hanya banyak berdiam.
Diam-diam Jimin dan ayahnya meminta pihak rumah sakit untuk melihat kecocokan antara Mario dan Kim Jisoo.
Keesokan harinya, seluruh keluarga Yoris tiba di Seoul dan langsung saja bertandang ke rumah sakit.
Rain sudah tak tahan untuk bertemu dengan kakak sulungnya dan mengamuk ingin mengamuki pria itu.
"Arsen,"
Mama Gina menyapa putranya yang sedang tertunduk sambil menangis di kursi tunggu.
Arsen menoleh ke arah suara dan melihat seluruh keluarganya ada disana.
Melihat penampilan huyungnya yang berantakan dan sangat kotor oleh banyaknya bekas darah pada bajunya, Rain jadi melemah. Apa lagi wajah Arsen yang terlihat sangat sedih, membuat Rain mengurungkan niatnya untuk mengamuk.
Keluarga itu tidak meminta Arsen mengatakan apapun. Mereka hanya memberinya semangat dan tetap jaga kesehatan agar bisa menjaga istrinya yang baru ia nikahi itu.
Boro-boro mau banyak nanya, untuk sekedar ganti pakaian dan membersihkan tubuhnya saja Arsen sepertinya tidak ada minat. Padahal, siapapun tahu jika pria yang ngakunya tampan itu tidak pernah sekali pun terlihat berantakan. Pria itu sangat pembersih. Tapi kali ini berbeda. Ia sudah lupa menghawatirkan dirinya sendiri.
Hari-hari Arsen lalui di rumah sakit. Hari ini, Jisoo telah melewati masa kritisnya. Yang artinya, sebentar lagi mungkin saja ia akan membuka matanya.
"Sayang, apa kau mendengar suaraku?"
"Sayang, bangunlah ... malam pertama menunggu kita, sayang. Aku merindukanmu."
.
.
__ADS_1
Tap tap tap jempol kalian ya guys...
Tengkyuu🥰🥰🥰