Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Pisahkan Saja Mereka


__ADS_3

Keesokan harinya, Jimin datang bersama petugas medis ke ruangan rawat Given, mengatakan bahwa dirinya akan segera dipindahkan ke rumah sakit lain. Ini pasti dibawah pengaturan si daddy, yang ingin melakukan yang terbaik intuk putrinya agar bisa sembuh dengan segera.


Bagaimana kalau suamiku datang dan aku tidak disini? Oppa, dimana kamu? Apa oppa melupakanku? Apa tidak ingin melihatku lagi? karena aku adalah Given?


"Jimin, diamana oppa? nuna tidak bisa pindah dari ruangan ini tanpa sepengetahuan suami nuna."


"Nuna, kita akan membawa nuna ke rumah sakit terbaik yang ada di kota ini. Tempat dimana grandma di rawat. Tenanglah, hyung punya ponsel, kan? Dia akan menghubungi jika ingin tahu keberadaan Nuna."


.


.


Ini sudah hari ke tiga Given di rawat di ruang yang berdampingan dengan neneknya. Namun, Arsen tak kunjung memunculkan batang hidungnya.


Apa oppa sibuk mengurus wanitanya yang sedang sakit? Atau perasaannya sudah berubah? Tapi bagaimanapun dia harus datang dan menjelaskan semuanya. Jangan menggantung perasaanku seperti ini.


Ceklek.


Rain muncul dari pintu yang baru saja terbuka. "Nuna, bagaimana perasaanmu?"


"Perasaanku? Apa maksudmu? Bukankah seharusnya tanyakan kabarku dulu?"


"Nuna, apa yang Nuna rasakan setelah mengetahui dari mana Nuna berasal? Nuna pasti bahagia kan?"


"Nuna pasti bahagia. Dia punya adik menyenangkan sepertiku." Jimin nyeletuk dari arah pintu masuk.


"Kau, heh, anak nakal ini. Nuna, kau lebih memilih siapa? Jimin atau aku?"


"Sudah pasti aku, ya kan Nuna?" Jimin.


"Kalian berdua memperebutkan aku sekarang?"


Ceklek,


Pintu kembali terbuka.


Dengan semangat Given mrnoleh ke arah pintu berharap orang yang sedang dinantikannya memunculkan diri.


"Mamah?"


Mama Gina datang bersama Joon.


"Sayang, kamu apa kabar? Apa masih sangat sakit?"

__ADS_1


Yang sakit saat ini adalah hatiku, Mah. Karena ulah putramu yang kau minta aku nikahi.


Jisoo menggeleng serta memberi senyum smirk di sudut bibirnya.


"Malaikat cantik, selamat ya, kau sudah bertemu dengan keluargamu. Aku turut senang."


Given tersenyum. "Terima kasih Joon,"


Saat ini, tinggalah Given dengan mama Gina.


"Given, kamu mungkin bertanya-tanya, kenapa suamimu tidak datang menemanimu. Iya kan?"


"Mah, tidak perlu dijelaskan. Aku tahu dia sedang apa."


"Apa maksudmu? Dia sedang keluar negeri bersama papa. Kau tahu?"


Given menggeleng.


"Ini, dia menitipkan ini untukmu." Mama memberikan sebuah paperbag kepada Given.


"Ponsel baru?"


"Ya ... kata dia ponsel kamu menghilang malam itu. Jadi dia belikan yang baru. Pesannya, kalau sudah terima ini, langsung diaktifkan saja."


Sejenak, perasaan canggung menguasai ruangan saat keduanya bertemu tatap dengan Gina.


"Hai, Jen, Mario, lama tidak bertemu." sapa Gina dengan ramah.


"Dad, Mom, mama Gina ... adalah ibu mertuaku." Given menjelaskan hal yang sudah diketahui oleh ayah ibunya.


Setelah lama tidak bertemu, hanya menyapa sebatas hai saja, mereka tiba-tiba dipertemukan dalam keadaan sudah menjadi besan. Tidak ada yang tahu apa yang kini bati mereka rasakan.


Given dapat melihat raut ketegangan diantara ketiga orangtuanya ini.


"Given, bisa mama pinjam mommy sama daddy kamu? Sepertinya kami perlu membahas sesuatu."


Given mengangguk mengiyakan.


Restoran.


Tiga orang itu kini berhadapan satu meja di reatoran yang tidak jauh dari rumah sakit itu.


"Mario, Jenn, bagaimana ini? Aku bingung mau bilang apa. Menantuku tenyata putri kalian."

__ADS_1


Gina membuka obrolan.


Mario terlihat menarik napas.


"Minta putramu menceraikan putriku."


Mario dan Gina sama-sama tercengang mendengar apa yang baru saja Jenni katakan.


"Jenn, apa maksudmu? Jangan begitu."


"Kenapa? Bukankah menjodohkan mereka adalah ide gilaku saat mereka bocah? Kalian sama sekali tidak setuju kan? Kenapa kalian terkejut? Dan ... Kurasa ... putramu tidak mencintai Given."


Mario berpikir keras lalu berkata :


"Istriku benar. Kita juga tidak bisa menjadi besan. Aku pribadi ... tidak pernah menginginkan hal ini." sambung Mario.


"Tidak bisa. Kalian jangan memutuskan ini sepihak. Anak-anak saling mencintai. Aku bisa melihat itu dari mata mereka." ucap Gina.


"Cinta katamu? Omong kosong. Anakmu itu bahkan tidak menemani Given sejak dia sadarkan diri. Suami macam apa itu? Yang dia inginkan adalah Kim Jisoo. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah menikahi Given, ya kan? Berhenti membelanya. Pisahkan saja mereka berdua."


"Jenn, jangan. Kumohon. Aku tidak rela putraku menduda diusia mudanya. Mereka itu pengantin baru. Please, aku mohon kalian berdua jangan pisahkan mereka." Gina memohon.


"Sudahlah Gin, lagi pula ... kau dan Stefan juga sebenarnya tidak akan merestui jika dari awal dia adalah putriku, kan? Berpisah adalah yang terbaik."


"Mario! Anak-anak berhak bahagia. Biarkan mereka berdua, mereka sudah terlanjur bersatu dalam pernikahan. Bisa saja setelah ini Given hamil dan memberikan kita cucu. Bagaimana?


"Hah. Hamil?" Jenni terkekeh. "Tidak akan ada kehamilan. Mereka bahkan belum melakukan malam pertama." sambung Jenni lagi.


"Apa?" Gina melongo tak percaya. Itu tidak mungkin.


"Kau tahu, malam saat mereka akan menikmati malam pertama, putramu mengabaikan Given karena Kang Ma Ri. Saat itulah Given diculik dan sekarat." Jelas Mario.


Gina tampak sangat tidak percaya.


"Aku sudah menyelidiki semuanya tentang Arsen dan Given malam itu. Sepertinya Arsen tidak benar-benar peduli pada Given. Aku tidak ingin putriku terlibat dengan orang yang belum menuntaskan masa lalunya." sambung pria itu lagi yang mana membuat Gina membungkam.


Arsen? Masih menemui Kang Mari? Kurang ajar! Kau mempermalukan mama!


.


.


Bersambung lg guysss

__ADS_1


__ADS_2