
✉Bro, selamat, kau sudah menemukan keluargamu. Aku tarik kata-kataku yang pernah mengatakan bahwa kau ... adalah gembel sok tampan. [Jimin]
Tae-tae menyunggingkan sedikit senyum setelah membaca pesan dari mantan musuhnya sekaligus teman barunya itu.
✉ Tak masalah. Kau memang terlahir menjadi manusia tinggi hati. Aku sedang sibuk. Pernikahan Nuna-ku sedang berlangsung. [Rain]
✉ Iya iya, aku tahu. Tapi ... bolehkah kirim foto nuna-mu? Aku ingin melihat foto pengantinnya. [Jimin]
✉ Untuk apa? Kau tidak sedekat itu dengannya. Kau menyukai nuna-ku? Jauhkan pikiranmu itu. Nuna tidak berminat pada brondong. Lagi pula, dia sudah jadi istri hyung-ku. [Rain]
✉ Ayolah, kirimkan saja. Aku menganggap nuna-mu seperti nuna-ku juga. Bukankah kau mengatakan foto masa kecilnya terlihat mirip nuna-ku? [Jimin]
✉ Aku tarik kembali kata-kata itu. Mereka tidak mirip. Nuna-ku jauh lebih cantik. Dan juga, jaga nuna-mu. Kudengar dia menyukai hyung-ku. Kalau sampai dia nekad mengganggu hyung atau nuna-ku, akan ku buat dia lupa ingatan. Ini ancaman. [Rain]
Setelah mengirim pesan setengah mengancam kepada temannya itu, Rain berjalan menghampiri papa dan mama yang sedang memanggilnya.
✉ Wanita itu ternyata bukan nunaku. Besok pagi akan ku kirim dia ke penjara. [Jimin]
Jimin kemuadian tidak lagi mendapat balasan dari Rain. Tentu saja, temannya itu belum membuka ponselnya lagi.
Pesta berakhir dengan sempurna. Saatnya pasangan pengantin baru itu pulang ke kamar hotel yang sudah dipersiapkan untuk keduanya.
Waktu yang dinanti-nantikan oleh Arsen, dimana mulai malam ini, saat tidur dan bangun akan selalu ada Kim Jisoo di sampingnya.
Berbeda dengan Kim Jisoo, yang tiba-tiba merasakan aura menakutkan disekelilingnya. Gadis itu merasa gugup tak terkira, membayangkan akan hari-harinya bersama dengan Arsen mulai malam ini.
Apa yang akan kualami setelah ini?
"Sen, Jisoo, kalian berdua nikmati malam ini sebaik mungkin. Kami akan pulang dan menunggu kalian di rumah. Beristirahatlah!" papa dan mama beserta seluruh keluarga berpamitan untuk berpisah dengan pasangan itu.
Arsen dan Jisoo memasuki hotel yang katanya tempat dimana kamar pengantin mereka berada. Tak lupa, J-hope dan Suga beserta Arim Areum juga mengikuti dari belakang. Setia banget sampe ngantarin ke kamar pengantin segala sahabatnya.
"Oke, kalian berdua masuklah. Kami mengantar hanya sampai disini." Jhope.
"Tentu saja, siapa bilang kita boleh ikut masuk?" respon Suga.
"Arim, Areum? Kalian tidak menemaniku malam ini?" Jisoo bermaksud menahan kedua sahabatnya itu.
"Csssh! Kau masih malu-malu? Ini malam pertama kalian. Masuklah!" usir Areum, mendorong tubuh langsing itu agar menghilang dari pandangan bersama Arsen.
"Jisoo, siapa yang mandi lebih dulu? Kamu atau aku?"
"Oppa saja" jawab Jisoo, tanpa berpikir panjang.
Arsen yang memang pembersihan dan selalu terlihat fresh dan wangi kapanpun dan dimanapun, tak banyak kata lagi pria itu memasuki kamar mandi.
"Oppa! Apa aku juga harus mandi?" Teriak Jisoo, berharap pria itu mendengar, namun tak ada sahutan.
__ADS_1
Dua puluh menit berlalu, Arsen keluar dengan hanya mengenakan handuk.
"Kim Jisoo, mandilah!"
"Hmmm. Iya, Oppa. Tapi, bantu aku lepaskan gaun ini."
Kim Jisoo membelakangi Arsen.
"Kau sengaja ingin menggodaku?"
Jisoo menggeleng polos.
"Tapi aku tergoda,"
Sreeeeeeeet menurunkan resleting bagian belakan gaun itu dengan sedikit kasar.
"Hati-hati Oppa, gaun ini rancanganku dan pasti sangat mahal."
"Aku malah ingin merobeknya. Aku tidak sabar ingin mencicipi isinya," ucap Arsen, setengah berbisik di telinga Jisoo.
"Tapi aku belum mandi, Oppa. Tunggulah, aku mandi sebentar."
"Baiklah, mandi yang bersih dan jangan lama-lama ya,"
Jisoo mengangguk lalu mengayunkan langkah menuju kamar mandi.
Bagaimana ini? Apa kami benar-benar akan melakukannya malam ini? Lalu bagaimana dengan kontrak yang aku buat? Apa Oppa akan kecewa padaku? Ahhh, semoga aku bisa melakukannya dengan benar.
Tak butuh waktu lama, Jisoo keluar dari kamar mandi, mengenakan bathrobe dan handuk yang menggulung rambutnya. Melihat itu membuat Arsen bangkit dari duduknya, padahal ia sedang serius menonton video pada ponselnya.
"Oppa! Apa kita harus melakukannya malam ini?"
Dasar polos, keluar keluar dari kamar mandi langsung menanyakan perihal melakukan malam pertama. Bahas apa gitu, sebagai pengantar?
"Kenapa? Kau tidak mau? Kau lelah?"
Arsen mendekat dan langsung memeluk istrinya itu. "Apa ... perjanjian satu bulanmu masih berlaku?"
Kim Ji Soo menggeleng. "Tidak berlaku lagi, Oppa. Aku ... akan mempercayaimu."
Arsen tersenyum.
"Kau sudah jatuh cinta padaku?"
Jisoo mengangguk dengan hati-hati. "Mungkin, Oppa, aku ... mau belajar mencintai Oppa."
"Tentu saja. Itu harus. Kau harus mencintaiku juga. I Love You, Jisoo. Aku sangat mencintaimu."
__ADS_1
"Trima kasih, Oppa."
Jisoo membalas pelukan.
Kedua insan itu berpelukan sangat erat.
"Kim Ji Soo,"
"Hmmm?"
"Bagaimana kita memulainya?"
"Bukankah baru saja Oppa menonton tutorialnya? Ku pikir Oppa sudah tahu apa yang harus Dilakukan,"
"Apa kau mau kita paktikkan semuanya?"
"Semuanya?" Jisoo mendongak menatap Arsen. "Aku tidak yakin, Oppa."
"Kenapa tidak yakin?"
"Aku takut tidak bisa melakukannya dengan benar."
"Hmmmm. Kalau begitu, aku akan mengajarimu."
"Oppa sudah sering melakukannya dengan wanita lain?"
Pltuk.
Arsen menyentil jidat istrinya itu. "Kau pikir suamimu ini pria macam apa?"
"Oppa! Sakit." Jisoo meringis manja.
CUP,
Arsen menghadiahi jidat istrinya dengan satu kecupan. "Sorry sayang." Kembali memeluk. "Aku senang akhirnya bisa bebas memelukmu kapan saja dan dimana saja."
Puas hanya memeluk, tangan pria itu perlahan membuat pergerakan. "Aku akan mulai sayang, kau diam dan nikmati saja, oke,"
.
.
Jreng jreng......
Bersumbang.
Eh salah... bersambung..
__ADS_1
YUK GUYS TAP JEMPOL KEREN KALIAN DIMANA SAJA. HEHEHEHE.