Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Kesepakatan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, dering ponselnya membangunkan Arsen. Dengan malas, pria itu menjawab tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


[Halo,]


[Hai bro!] Min Suga menyapa.


[Hmmmm. Ada apa? Tampaknya kau sangat bersemangat mengganggu tidurku.]


[Aku mendengar dari Jem, j4lang jadi-jadianmu itu sudah tertangkap?]


[Hmmm. Itu bukan urusanmu. Jangan bertanya tentangnya.]


[Begini Arsen, sebelum melemparnya ke tengah serigala, biar aku yang menikmatinya lebih dulu. Bagaimana?]


[Jangan mimpi.]


Dengan kesal Arsen mengakhiri pembicaraan tak berguna itu.


Min Suga sialan. Apa dia tidak takut hiu kecilnya terkena bakteri? Celup sana celup sini seenaknya.


Sementara ditempatnya, Min Suga pun mengumpat. "Dasar tidak tahu sopan santun."


Aku sangat penasaran, bagaimana wujud jal4ng baru itu. Tunggu. Apa Arsen berubah pikiran dan menjamahnya sendirian. Dasar pria itu.


........


Jimin mengendarai mobil menuju kampus, dimana ia belajar sebagai mahasiswa baru.


Bukankah itu mobil Noona?


Hati kecil Jimin seperti sedang meminta pria itu untuk mengikuti mobil Given yang sedang melaju di depannya.


Tibalah di sebuah restoran, tampak seorang wanita setengah baya dengan senyum lebar memasuki mobil kakaknya.


Siapa itu? Bukankah orang tua angkat Noona sudah meninggal? Mungkinkah teman atau kerabat Noona?


..........


Waktu makan siang telah tiba. Jisoo pergi ke sebuah restoran yang telah direservasi untuknya dan atasan si kembar, pada sebuah ruang privasi.


Apa dia akan mengancamku? Aku sangat gugup.


"Silahkan Nona, Mari saya antarkan." -seorang pelayan dengan ramahnya meminta Jisoo mengikutinya.


"Silahkan masuk dan tunggulah di dalam Nona."


Jisoo mengiyakan, kemudian mengangguk.


Ini semua salahlu karena telah mengganggu putrinya. Jisoo, terimalah akibatnya sekarang.


Berbagai macam kemungkinan yang bisa saja menimpa dirinya sebentar lagi, kini berkeliaran di benak gadis itu.


Takut.


Hal itu bisa menjadi kesimpulan perasaannya saat ini.


Drreeeet, pintu bergeser, masuklah Mario. Jisoo buru-buru berdiri dan memberi salam.


"Silahkan duduk."


Mario memintanya dengan ramah. Meskipun begitu, gadis itu tetap saja merasa merinding.

__ADS_1


"Ehmmm. Kau pasti bertanya-tanya, kenapa aku mengajakmu bertemu. Namamu Kim Ji Soo, benar?"


Jisoo membuat sedikit gerakan di kepalanya, membenarkan yang Mario katakan.


"Apa yang kau perebutkan dengan putriku tadi malam? Kenapa ibuku sampai menamparmu?"


"Ehmmm."Jisoo seperti sedang menelan sebuah batu dengan susah payah.


"Emmm. Itu ... Emmm,-"


"Apakah laki-laki itu? Kalian memperebutkan Arsen?" -tebak Mario, membuat Jisoo sontak menatap matanya dengan berani.


"Maaf Pak, bu-bukan, saya tidak ada hubungan semacam itu dengan Arsen."


"Kalau begitu ambil ini." -Mendorong sebuah amplop tebal di atas meja.


"Ap-apa ini, pak?"


Gila ... jadi orang tua ini ingin menyingkirkanku dari hadapan oppa itu? Hah, uang segini mana cukup untuk terbebas darinya. Hei! Hutangku sebanyak 200 juta won.


"Ambil itu dan kau harus membuat Arsen mengencanimu."


"Ya?" -terkejut, merasa dirinya telah salah menyimpulkan.


"Ehmmm. Bisa dibilang, ini adalah kesepakatan rahasia antara kita berdua."


"Pak, tapi ... saya,---"


"Bantu saya untuk menghilangkan perasaan putri saya terhadap pria itu. Aku mohon padamu. Aku sangat putus asa karena dia selalu merengek menginginkan Arsen. Saat ini, dia mulai meminta hal itu kepada neneknya."


Kesepakatan macam apa ini? Apa akan ada akibatnya?


"Pak, saya rasa, saya bukan orang yang tepat yang bisa membantu anda. Maaf,"


"Setidaknya, berpura-puralah menjadi kekasihnya di hadapan putriku. Jika kau berhasil, aku akan menambah bayaranmu. Bagaimana?"


"Pak, bagaimana kalau Arsen malah akan memarahi saya?"


"Dia tidak akan marah. Dia mungkin akan berterima kasih padamu, karena dia ... tidak menyukai putriku. Sama seperti aku tidak menyukainya dan tidak berniat terlibat hubungan semacam itu dengan dia dan keluarganya." -jelas Mario.


Waduh, apa mereka adalah musuh sejak zaman Jaseon? Aku merinding.


"Aku beri waktu berpikir dalam waktu 5 menit."


Jisoo pun mulai memikirkan itu secara matang.


Keduanya pun membisu sesaat, membiarkan Jisoo mengambil ruang untuk berpikir.


Baiklah, saya terima kesepakatan ini." ucap Jisoo dengan lugas dan optimis. Selagi mendapatkan uang banyak, kenapa tidak? Pikirnya.


Setelah ini aku akan membicarakannya dengan pria itu.


"Oke, aku sangat senang."


Mario mengulurkan tangan pertanda kesepakatan mereka sudah resmi.


Tak lama, makanan pun datang.


"Ayo, makan sebelum kembali bekerja."


"Terima kasih Pak,"

__ADS_1


Keduanya makan dengan lahap. Mario merasa lega melihat Jisoo menikmati semua hidangan yang tersedia.


"Kau menyukainya?"


"Hehehe. Apa sangat terlihat, Pak? Ini semua adalah makanan Favorit saya."


"Wahh, ternyata ... kita berdua memiliki selera yang sama."


"Iya pak," -kembali Jisoo tersenyum memperlihatkan barisan giginya.


"Jisoo, dimana kau bekerja?"


"Di kantor Kejaksaan pak,"


"Oh, hebat. Adakah cita-citamu yang lain?"


"Sebenarnya saya terpaksa mengubah cita-cita saya Pak, hehe."


"Kenapa begitu?"


"Awalnya, saya memilih Fakultas Design Fashion. Tapi karena nama saya tergeser oleh seseorang, jadi saya memilih Fakultas Hukum kemudian dan mengubah cita-cita saya menjadi seorang Jaksa, atau hakim mungkin," -Lagi, Jisoo tertawa pelan.


"Fshion Design? Wah ... jadi kau suka merancang fashion?"


"Benar pak," Jisoo mengangguk.


Bahkan saya adalah perancang dari salah pakaian olahraga yang sedang di produksikan oleh perusahaan anda.


Jisoo menyombongkan diri dalam hati.


Ya, memang benar, karena putus asa rancangan mereka tidak diterima oleh perusahaan, beberapa waktu lalu si kembar meminta bantuan Jisoo untuk membuat rancangan pakaian olahraga.


"Si kembar itu, adalah dua gadis manis yang sangat bersemangat sebagai designer muda. Mereka tak terpisahkan. Saya kagum dengan semangat mereka. Meskipun putriku sering mengoceh sebagai ketua tim Designer, tapi ... si kembar itu selalu menyikapinya dengan baik. Pasti akan lebih seru jika kamu bergabung dengan mereka Kim Ji soo,"


"Iya pak, tapi ... sayangnya saya menempuh aliran berbeda saat ini. Hehe."


"Jisoo, maaf ya, karena ibuku menamparmu. Dia bahkan pernah menampar adikmu juga."


"Tidak apa-apa pak, aku dan adikku memang salah."


"Ibuku sangat menyayagi kedua cucunya. Karena hanya mereka berdua yang ada sebagai cucu kandungnya. Aku harap, kamu mengerti."


"Iya pak, saya mengerti. Saya memang salah karena lancang mengira ... kalung yang dipakai putri anda sebagai milik saya. Tetapi saya kemudian menyadari itu salah karena istri anda juga memakai itu."


"Maksudmu ... kalung berliontin merah? Kau ... pernah memilikinya?"


Bagaimana bisa? Aku sendiri yang meminta rancangan kalung itu sebagai hadiah untuk putriku dan istriku. Dan itu hanya ada satu-satunya di dunia ini.


"Emmm. Mungkin hanya mirip pak, saya pasti sudah lupa persisnya, karena saya kehilangan itu sejak masih sangat kecil."


Bukan. Aku tidak kehilangan benda itu. Wanita itu yang mengambilnya dariku. Sial. Dimana wanita itu bersembunyi?


.


.


Bersambung.....


Guys guys... jangan lupa ya 🤭.


Maafkan update ketiganya kemarin tertunda. Aku usahakan akan double up hari ini.😉

__ADS_1


Makasiii.


__ADS_2