Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Dia Bukan Type-ku


__ADS_3

Joon dengan adiknya, Rain, kebetulan akan beristirahat di kamar yang sama, di satu ranjang yang sama pula. Dua pria bersaudara kandung yang baru bertemu, masih merasa seperti orang asing.


"Hyung, maaf karena pertemuan pertama dulu aku hampir membiarkanmu mati di laut."


"Ya! Aku tak masalah. Kau memang sedikit kurang ajar. Aku memaafkanmu karena ternyata kau adalah adikku."


Keduanya memulai obrolan, berharap bisa akrab dan semakin dekat.


"Hyung, apa orangtua angkat kita baik padamu? Maksudku, apa mereka orang baik?"


"Mereka sangat baik. Kau tidak perlu takut atau khawatir."


Joon menceritakan suka duka bersama keluarga Yoris dan bagaimana perlakuan keluarga itu padanya.


"Apa hyung mengingat orangtua kita? Ku dengar kau sangat pintar. Ingatanmu pasti sangat tajam."


"Papa Stefan bilang, orangtua kita adalah pemilik perusahaan agensi yang dipimpin kak Arsen. Saat waktunya nanti, kita berdua yang akan mengambil alih perusahaan itu."


"Benarkah Hyung? Pantas saja."


"Pantas apa?" Joon menoleh.


"pantas sejak dulu aku merasa bahwa mungkin aku terlahir dari keluarga paling sukses di negara ini." Jawab Tae, dengan nada PD-nya, membuat Joon mengeryitkan dahi.


"Apa selama ini kau hidup sangat susah?"


"Tentu saja. Aku bekerja keras bersama Nuna. Kami bahkan pernah tinggal dengan seorang kakek di gubuk reot. Ahhh, memikirkannya membuatku sedih."


"Jangan memikirkannya lagi. Mulai saat ini kau akan memiliki segalanya. Tanpa kurang satu apapun."


Lelah bercengkrama tentang berbagai topik, dua pemuda itu pun tertidur.


.


.


Pukul 5 pagi Jisoo terbangun dalam keadaan lebih ringan.


uuuummmmh.


"Uppa?"


Gadis itu terkejut melihat sosok manusia tampan itu berada di kamar yang sama dengannya.


Gadis itu melihat sekelilingnya dan benar saja, ini adalah kamar tidurnya.


Ia turun dari kasur nyamannya menuju sofa dimana pria itu masih terlelap.

__ADS_1


Apa tangannya pendarahan semalam? Apa yang dia lakukan disini? Pasien macam apa ini?


Jisoo mengambil kotak P3K, bermaksud baik untuk menggantikan perban pada luka itu, berhubung orangnya masih tidur nyenyak.


Ia pun menyentuh tangan pria itu dengan hari-hati.


Kasihan tanganmu, melihatnya membuatku merasa bersalah.


Beberapa menit kemudian Jisoo berhasil menggantikan peran tenaga medis dengan membalut rapi luka itu seperti semula, tanpa membangunkan si pasien.


20 menit kemudian, Arsen terbangun. Dengan gerak cepat ia mengubah posisinya. Memulihkan kesadaran.


Astagaaa! Kenapa dia bangun lebih dulu?


Rencana akan bangun seawal mungkin agar bisa kembali ke rumah sakit tanpa sepengetahuan Kim Jisoo, kini hanya tinggal rencana. Gadis itu sudah menghilang dari kamar. Arsen sudah terciduk.


"Tunggu! Dia mengganti balutan luka ini?"


Pria itu tersenyum puas mengetahui Kim Jisoo peduli pada lukanya.


Pria itu menuruni tangga, disambut dengan aroma masakan yang sangat menggoda. Tapi bagi pria itu tetap lebih menggoda sang koki.


Untuk mengusir rasa canggung ia pun menyapa Jisoo.


"Pagi! Lagi bikin sarapan? Cuma untuk berdua tapi kau membuat sebanyak ini? Wahh, terlihat sangat enak." menarik kursi, lalu duduk tanpa perintah.


"Yah?" menatap wajah gadis di depannya. "Untukku tidak ada?"


Kim Ji soo menghela napas panjang.


"Jatah sarapanmu sudah pasti ada di rumah sakit. Arsen, kenapa kau ada disini? Bukankah seharusnya kau istirahat dengan tenang dan nyaman di rumah sakit?" -dengan wajah protesnya.


"Jisoo, apa kau tidak mengerti juga? Aku disini karena menghawatirkanmu. Jadi aku menjagamu."


"Khawatirkan saja dirimu sendiri."


Eughhh.


Rasanya pria itu ingin berteriak.


"Aku menyukaimu, Kim Jisoo." ucapnya tenang, langsung disambut oleh kalimat panjang gadis itu.


"Hah, trima kasih oppa, tentu saja oppa suka aku. Selama ini aku sangat baik sudah merawat dan menyayangi adikmu seperti adikku sendiri. Aku bahkan menjual diri hampir menghabiskan malam pertama denganmu, demi dia. Aku sampai membawa kabur 200 juta won-mu karena hidupnya sudah terancam akan berakhir. Aku membayar lunas uangmu dengan berciuman denganmu dan melakukan banyak pekerjaan lainnya. Jadi ... tidak ada alasan untuk tidak menyukaiku. Benarkan, Oppa?"


Hening.


Hening.

__ADS_1


Sungguh bukan itu yang ingin pria ini dengar.


Arsen sama sekali tidak menyangka gadis ini akan mengatakan hal itu disaat ia sedang serius mengungkapkan perasaannya.


"Apa? Jadi kalian berdua ..."


Suara seseorang menyeruak merusak keheningan.


"Mama?"


Entah kenapa mama, papa beserta dua pangeran Kim itu datang ke tempat Jisoo sepagi ini.


Jadi maling 200 juta won itu adalah gadis ini? Sungguh kebetulan yang menarik.


Papa yang mengetahui hal itu sejak awal, hanya tertawa dalam diam.


"Pah! Apa yang telah putramu lakukan? Papa dengar kan? Hampir tidur bersama demi 200 juta won, jadi ini yang kau maksudkan kalian pernah hampir tidur bersama? Arsen, jawab." bentak mama.


Kim Jisoo tertunduk lesu, merasa malu perkataan frontalnya barusan.


"Iya Mah, tapi tidak terjadi. Kami tidak melakukannya. Itu sebabnya dia terpaksa mencurinya dariku. Tapi uang itu bukan masalah sekarang." jelas Arsen. Mau tak mau ia harus menjelaskan peristiwa memalukan itu.


"Nuna," Rain mendekat. "Jadi, Nuna ... semua itu ... kalian berdua ... Nuna dengan pria ini? Dengan Hyung?"


Malu. Bahkan untuk membalas tatapan adiknya itu, Jisoo merasa sangat malu.


"Maaf Rain, itu-"


"Demi aku, Nuna melakukan banyak hal yang tak masuk akal?"


"Rain, -"


"Menikahlah dengan hyung."


"Raiin!"


"Suka atau tidak suka, Nuna harus menikah dengannya. Hyung, bertanggungjawablah! Nikahi Nunaku."


"Rain, tidak terjadi apa-apa antara kami. Dia tidak perlu bertanggung jawab." sela Jisoo dengan nada meninggi.


"Ayo menikah, Kim Jisoo, aku tidak keberatan sama sekali."


Tentu kau tidak keberatan. Itu yang kau inginkan Arsen. Boy, kau akan segera mendapatkannya.


"Kim Ji Soo, kau tidak bersedia menikah dengan putraku?" mama Gina mendekati Ji Soo dengannperasaan harap-harap cemas.


"Tidak. Dia bukan type-ku."

__ADS_1


__ADS_2