Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Apa Dia Mengganggumu?


__ADS_3

"Kenapa wajahmu tegang begitu?" Arsen kembali ke mejanya bersama Jisoo, sedikit terusik karena melihat Jimin yang tengah menatap Jisoo, kekasihnya itu dengan raut wajah tak biasa.


Tersadar akan reaksinya, pria muda itu berdiri. "Silahkan menunggu Hyung, Nuna,"


.


.


Kediaman Yoris.


Mama Gina dan dua pangerannya sudah tiba dengan selamat di Tanah Air. Gina dengan bersemangat ikut menyiapkan makan malam bersama sang koki.


Setelah persiapan makan malam selesai, wanita itu menuju kamar putra-putranya memanggil untuk makan malam.


Mama, papa dan dua pangerannya sudah duduk siap untuk menikmati hidangan.


Rain mengitari bangunan kokoh itu dengan pandangan matanya.


Aku tidak menyangka, akan tinggal di kediaman seluas ini. Level hidupku meningkat dengan drastis. Rasanya bagaikan mimpi aku duduk bersama di ruang makan besar, bersama dengan yang namanya orang tua.


"Tae, kenapa sayang? Ada yang mengganggu pikiranmu?" mama yang memang selalu peka, bertanya, untuk memastikan kenyamanan si bungsu.


"Tidak apa-apa Omma," Tae menggeleng.


"Tae, jika ada hal yang kamu butuhkan, ingin dikatakan dan apa saja rencanamu, katakan saja Boy, Papa akan mengabulkannya." ucap Stefan.


"Baik Appa." Tae mengangguk.


Setelah makan malam selesai, Stefan meminta kedua putranya itu untuk mendatangi ruang kerjanya. "Joon, ajak adikmu ke ruangan papa. Ada yang mau papa bicarakan dengan kalian berdua." pinta Stefan yang diangguki oleh si putra ke dua.


Apa yang mau Stefan katakan adalah perihal kedua orangtua kandung dua putranya itu.


"Papa dan ayah kalian, kami berdua adalah sahabat. Sudah seperti saudara. Itu sebabnya kalian berdua berakhir menjadi putraku, dan aku menjadi ayah kalian untuk menyambung perannya."


Kisah ini adalah hal yang di tunggu-tunggu oleh dua pangeran Kim itu.


"Pah. Apa ayah kami tidak punya keluarga lain?" Joon bertanya, ingin tahu.


"Ayah kalian hanya memiliki beberapa sepupu jauh. Salah satu dari merekalah yang menyebabkan kalian kehilangan keduanya. Sedangkan ibu kalian, dia adalah anak tunggal. Namun, kedua orangtuanya saat ini telah tiada."


"Siapa orang itu, yang telah melakukan semuanya? Kenapa dia tega membuat ayah dan ibu kami pergi untuk selamanya?"


"Tae, orang itu berniat merebut semua milik ayahmu. Perusahaan, maupun istrinya, ibu kalian. Setelah kejadian itu, ia menjadi satu-satunya buronan jadi dia bersembunyi. Kedua orang tua angkatmu lah yang membantu pamanmu menjalankan misi jahatnya. Papa hampir menangkapnya, tapi dia berhasil kabur ke luar negeri. Baru-baru ini, papa mendapat kabar bahwa ternyata dia kabur ke Bangkok. Dia ... bernama Mr. Song. Ini Fotonya." jelas Stefan, panjang lebar, seraya menggeser selembar foto si tersangka yang ia maksud.


"Lalu, apa Papa masih berniat untuk menangkapnya?"


"Joon. Papa memang berniat untuk menghukumnya. Tapi ... ternyata dia sudah meninggal. Dia memiliki seorang putri dan putra. Tidak ada gunanya menghukum mereka."


Tae mengepalkan tangannya.


Akulah yang akan membalas kejahatan orang itu. Kepada keturunannya sekali pun.


.


.

__ADS_1


Arsen dan Jisoo kini menuju supermarket setelah menikmati makan malam.


Dalam waktu 30 menit, satu trolly sudah terisi penuh.


"Oppa, kenapa kau membeli banyak sekali? Jangan boros."


"Ini karena apartemenku menambah penghuni. Lagi pula, kau tidak akan pergi dariku selamanya."


ujar Arsen, seenaknya beranggapan.


Di perjalanan pulang.


"Jisoo, apa tidak ada yang perlu kamu persiapkan untuk pernikahan kita?"


"Yah? A ... mama kamu yang akan siapkan semua."


"Benarkah? Tidak ada yang kamu inginkan? Mungkin sesuatu yang kau butuhkan?"


Tak mengerti apa yang dimaksudkan pria itu, Jisoo menggeleng polos.


"Baiklah, kita hanya akan mengikuti semua pengaturan keluargaku, menikah, bulan madu, punya anak dan hidup bahagia."


Mendengar penuturan lugas yang dikatakan Arsen, membuat Jisoo mengusap dada. Entah kenapa, dirinya merasa gugup memikirkan akan hidup bersama dengan seorang pria tampan dan memiliki kesempurnaan hidup.


"Kenapa? Kau gugup mendengarnya? Apa yang membuatmu gugup? Menikah? Atau ... bulan madu?" goda pria itu.


"Oppa. Kau yakin akan menikah denganku?"


"Ya. Yakin. Karena aku menyukaimu."


"Aku tidak punya alasan. Yang kutahu, aku sangat menginginkanmu. Jadi menikahlah denganku tanpa ragu, kau tidak akan pernah menyesal."


Tibalah keduanya di hunian nyaman yang terletak di lantai 50, dengan kompak menata setiap barang belanjaan ke tempat seharusnya.


"Apa kau sudah mengantuk?"


"Belum Oppa."


"Ayo nonton televisi bersamaku."


Ada saja cara pria itu untuk bisa selalu berdekatan dengan Jisoo, sang penakhluk hatinya.


Puluhan menit diam membisu menikmati acara televisi, Jisoo tertidur.


Pagi harinya, Jisoo terbangun.


Ternyata aku tertidur di sofa. Kenapa dia tidak membangunkanku?


Jisoo mengulum senyum kecilnya mengetahui pria itu sudah memberinya selimut.


"Selamat pagi! Kau sudah bangun?"


"Oppa? Kau bangun lebih dulu?"


"Hemmmm. Aku memang terbiasa bangun awal. Ini, makan roti bakar." menyodorkan sepiring roti bakar untik Jisoo.

__ADS_1


"Terima kasih." ucap Jisoo.


Satu pekan berlalu. Pasangan yang statusnya belum jelas itu kini menuju bandara.


Setelah menempuh perjalanan udara selama 5 jam, keduanya kini tiba di kediaman Yoris.


"Oppa. Aku tarik napas dulu." Jisoo berhenti, mengatur napasnya yang. Ia sangat gugup saat akan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah keluarga itu.


"Sini, genggam tanganku."


Arsen menautkan jari jemari mereka, lalu tersenyum hangat. "Jangan gugup. Tidak ada yang akan memakanmu di dalam."


Keduanya pun mengayunkan langkah.


"Nunaaa!" Seru seseorang memanggil Jisoo.


"Rain,"


Dalam hitungan detik pria muda itu sudah memeluk erat kakak perempuannya. Melepaskan segala kerinduan yang sangat dalam.


"Sayang, kau sudah datang?" mama menyambut keduanya dengan wajah bahagia, namun hanya memeluk gadis di samping putranya.


"Ayo, mama akan mengantarmu ke kamar yang sudah disiapkan khusus untukmu.


Mama dan Jisoo menaiki anak tangga bersama. Sementara Arsen, tertinggal mematung.


Bukan main. Apa aku tidak dianggap? Yang anaknya mama disini siapa? Kenapa sepertinya dia hanya melihat Jisoo?


Arsen tersenyum dalam hati, karena sepertinya Kim Jisoo tidak akan disusahkan oleh yang namanya ibu mertua kejam.


Ya ... mama harus menyayanginya. Dia akan menjadi menantu yang baik.


.


.


Ini dia kamarmu untuk sementara, sebelum tinggal dikamar oppa tampanmu itu.


"Terima kasih nyonya." ucap Jisoo, sopan.


"Jisoo, apa selama ini dia mengganggumu?"


"Ya? oh tidak Nyonya. Dia baik padaku. Tidak terjadi hal yang perlu dikhawatirkan."


Mama merasa legah mengetahui Arsen tidak keburu mengajak Jisoo melakukan malam pertama secara darurat. Ia membawa Jisoo duduk di sisi tempat tidur.


"Kim Jisoo, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa sudah ada rasa untuknya?"


Jisoo tersenyum kecil.


"Aku sedang berusaha Nyonya."


.


.

__ADS_1


Bersambung dulu gesss.


__ADS_2