
Prok-prok.
Arsen bertepuk tangan dua kali, membuat perhatian semua bapak-bapak genit yang berada disana mengalihkan pandangan kearahnya.
"Perhatian semuanya, aku menepati janjiku, membawa hadiah empuk intuk kalian. Apa satu saja cukup?"
"Waaaw!"
Menatap Jisoo dengan sorot mata liar.
Memang dasar pria hidung belang, meski tidak tampil dengan pakaian mini, tapi wajah cantik JiSoo mampu membuat mereka berfantasi bebas.
Jisoo yang menjadi objek sorotan, bahkan tak berani mengangkat wajahnya.
Arsen perlahan memutar tubuhnya, menghadap gadis itu. Bagi Arsen, ini adalah permainan seru. Melihat Jisoo yang semakit tak berkutik, membuat pria tampan itu merasa sudah mendapatkan kemenangan.
"Selamat menikmati, j4lang kucing, aku akan pergi." -Arsen berbalik, lalu melangkah meninggalkan ruangan. Ia berpikir, gadis itu akan menyusulnya lalu memohon dengan airmata berdarah. Nyatanya, tidak ada pergerakan sama sekali.
Ia pun mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu dari sana. (Tugas kalian hanya menakut-nakuti dia. Jangan MENYENTUH sedikitpun.)
Pria itu tidak kemana-mana. Seolah akan meninggalkan Jisoo, padahal dirinya sedang berada di depan pintu.
Dasar usil, ternyata pria tampan berlagak kejam itu tidak serius menjadikan Jisoo piala bergilir bagi para hidung belang itu.
Di dalam ruangan. Jisoo masih dengan wajah sedikit tertunduk. Rasanya sangat ingin mengeluarkan tangis meraung ditempat ini. Namun, siapa yang akan peduli?
"Apa orang itu harus bertindak sejauh ini? Dia merelakan 200 juta won miliknya dan mengorbankan aku? Apa kehidupan orang lain tidak lebih berharga dari pada dirinya?"
"Nona, bagaimana ini? Apa ... kita bisa mulai?"
Beberapa dari mereka mendekat dengan hati-hati.
Sementara dari balik pintu, Arsen sedang memasang telinganya baik-baik, ingin mengetahui apa yang akan gadis itu lakukan. Apa dia hanya akan pasrah atau ... dia akan mengamuk di dalam sana.
Tiba-tiba ...
Pintu di hadapannya terbuka secara mengejutkan.
"Pak Arsen, ini gawat. Wanita itu berdarah!" -Lapor salah seorang dari mereka.
__ADS_1
"Ap-apa? Berdarah?"
Mendengar kata 'berdarah' membuat Arsen melesat kedalam.
"Hei! Nona! Apa aku menyakitimu? Kenapa kau berdarah?"
Hidung yang mengeluarkan darah tanpa sebab sudah pasti membuat pria-pria panas itu merasa gugup. Mereka bahkan tidak menyentuhnya seujung jaripun seperti peringatan dari Arsen.
"Hei! Kau kenapa?" -Arsen menyentuh kedua lengan gadis itu.
Jisoo menggeleng tanpa berkata apapun, sembari mengusap hidungnya.
"Pak Arsen, kami sungguh tak apa-apakan dia."
"Baiklah, aku akan membawanya pergi."
Degg.
Jisoo tertegun. Pria menakutkan ini ternyata sedikit manusiawi.
"Apa kau bisa jalan? Kalau tidak, aku akan menggendongmu."
.
.
Waktu memang menunjukkan bahwa ini sudah tengah malam. Namun, seorang pria muda terlihat sedang keluar dari kamar membawa cangkir air mineral miliknya.
Samar-samar, telinganya menangkap percakapan seseorang darinkamar Noona-nya.
"Omma ... apa oma bertemu orang itu lagi?
Tap, langkah Jimin terhenti. "Omma? Apa Nuna sedang berbicara dengan Mommy? Sejak kapan dia memanggilnya Eomma?"
Suara yang kian mengecil membuat Jimin tidak bisa lagi mendengar dengan jelas.
Tok tok tok.
Jimin mendorong pintu yang memang sedikit terbuka itu.
__ADS_1
"He-hey Jimin?" si noona tampak salah tingkah.
"Mommy tidak disini?"
"Apa noona tadi sedang berbicara dengan seseorang?"
"Ya? Tidak, mungkin kau salah dengar." -si noona tersenuum hangat.
Dasar Jimintul polos, ia pun kembali menutup pintu setelah mengangguk beberapa kali dan mengucapkan selamat malam dengan wajah sedikit mengkerut.
.
.
Di dalam mobil.
Arsen terpaksa memakai jasa supir pangggilan karena merasa perlu menemani Jisoo di kursi belakang. Entah kenapa, gadis ini tiba-tiba berdarah tanpa keluhan sakit sedikitpun.
Tanpa sadar, ia tertegun menatap wajah Jisoo yang tertidur disebelahnya.
Dari hidung gadis itu terlihat darah masih menetes, sehingga Arsen tanpa aba-aba mengusap darah itu menggunakan sapu tangan miliknya sendiri.
Ada apa denganmu? Aku ingin terhibur melihatmu menghadapi para hidung belang itu, tapi kenapa malah aku yang kau susahkan?
Arsen mendengus kesal.
Kenapa wanita ini selalu berdarah? Kebiasaan macam apa itu? Tadi siang lututnya, sekarang hidungnya?
Lalu memutar kembali ingatan tentang malam itu, dimana setengah pedangnya tiba-tiba dilumuri darah. Berharap itu adalah keperawanan yang terenggut oleh pedang perjaka miliknya, tapi tidak mungkin.
Pedangku bahkan belum menancap sempurna, dia sudah berdarah.
.
.
Bersambung...
Guysss
__ADS_1
Tengkyuu🥰🥰🥰