
Dorrrr.
Suara tembakan peringatan. Namun, pisau tajam itu sudah terlanjur menancap hingga menembus.
Jisoo dan adiknya terkejut mendengar suara tembakan tiba-tiba.
Rain yang sedari tadi menutup mata saat akan di serang, kini membuka pelan matanya dengan perasaan takut.
"Hyung! Hyung! Noona, Hyung!"
Jisoo melepas pelukan lalu memutar tubuhnya.
"Aaaarrrsen?"
Bilah pisau tajam itu ternyata menancap pada telapak tangan seorang pria yang tak lain adalah Arsen.
Mengetahui dirinya sudah dikepung, penjahat itu mengangkat kedua tangannya pasrah. Mau lari pasti hanya akan mendapat tembakan, pikirnya.
"Oppaaaa, Oppaa, Oppaa, kenapa kau kesini?" -Jisoo memegang tangan Arsen yang masih tertancap pisau.
"Sssssh, Aaah" Arsen menahan sakitnya setengah mati.
"Arsen, tahan sebentar, akan ku cabut pisau ini." -Suga mulai beraksi.
"Jangan! Jangan sentuh. Biarkan dokter yang melakulannya." -Jisoo menahan tangan suga. Karena merasa panik, gadis itu bahkan menangis.
"Hei! Kau lupa kalau aku ini seorang dokter?" -Suga menepis tangan Jisoo.
"Jisoo, biarkan dia melakukannya." A Reum menghampiri Jisoo.
"Jisoo, kalian tidak terluka?" -tanya Arsen seraya menahan rasa sakit ditangannya.
Suga kini membalut tangan temannya itu untuk penanganan pertama.
Jisoo menggeleng. "Kami tidak apa-apa. Tapi kamulah yang terluka."
"Tak apa. Jangan sedih." menarik gadis itu ke dekapannya menggunakan tangannya yang tidak sakit. Sedang tangannya yang satu masih diservice oleh Min Suga.
__ADS_1
Kenapa dia memelukku? Pelukan apa ini?
Dokter plastik itu tampak jengah melihat Arsen yang masih sempat memeluk kekasihnya tanpa ragu, sok romantis.
"Teruslah berpelukan kalau mau tanganmu membusuk." - Suga dengan Jiwa Savage-nya, berjalan meninggalkan tempat itu serta membawa Areum bersamanya.
"Mereka tidak berpelukan. Arsen Hyung yang memeluk Noonaku." -balas Rain, tak terima jika dua orang itu disebut sedang berpelukan .
Ayah angkat beserta ketiga anak buahnya telah berhasil diringkus oleh petugas. Suga mengambil alih menyetir Mobil Van sewaan itu.
"Oppa, Arsen tidak akan kenapa-kenapa kan?" -Areum juga ikut khawatir dengan kondisi kekasih dari sahabatnya itu.
"Tenang saja Areum, dia tidak akan kenapa-kenapa. Setelah dioperasi, tangannya akan sembuh. Tunggu! Kau menghawatirkan pria lain? Kau bahkan baru tadi sore berciuman denganku."
Suga fokus menyetir menuju Rumah Sakit milik ayahnya.
Sementara, dibagian belakang Van, Arsen dibaringkan dan ditemani oleh Jisoo dan Rain.
"Arsen, apa sangat sakit? Kau seharusnya tidak kesana dan terluka."
Melihat kekhawatiran Jisoo terhadap dirinya, sedikit mengobati rasa sakit ditangan pria itu.
Pertanyaan apa itu? Aku bukannya sedih melihat kondisimu. Tapi ini terjadi karena aku dan adikku. Bagaimana kami harus menjelaskannya ke keluargamu?
"Trima kasih karena menghawatirkanku, Jisoo. Terima kasih, kau sudah jaga bayi itu dengan baik." -tangannya beralih ke rambut gadis itu. "Kau terlihat sangat cantik. Kim Jisoo, aku menyukaimu." -pria itu menutup matanya, tertidur.
"Rain, apa yang dia katakan?"
Rain melirik sekilas lalu berkata: "Dia hanya mengigau Nuna, jangan mempercayainya."
Jisoo terdiam.
"Noona, jangan terlalu mengkhawatirkan hyung. Khawatirkan saja bagaimana nasib kita berdua setelah ini. Keluarganya pasti akan mengamuk."
.
.
__ADS_1
Tiba di Rumah sakit.
Dokter segera menangani Arsen.
Suga, Areum, Rain dan Jisoo duduk di kursi tunggu. Sedangkan Jhope dan Arim, sedang menyeret si Ibu angkat ke kantor polisi. Sungguh pembagian tugas yang merata.
Rain meraih jemari kakaknya yang terlihat bergetar. Membawa kakaknya itu menyingkir dari Suga dan Areum. "Apa Noona ketakutan?"
"Rain, bagaimana kita akan menjelaskannya?"
Rain menghembus napasnya beret.
"Noona. Seseorang hampir mati gara-gara kita berdua. Aku juga takut. Bagaimana kalau hyung mati didalam sana? Noona, Ayo lari. Pergi dari kota ini sejauh mungkin."
Kakak beradik itu saling memberi tatapan meyakinkan satu sama lain.
"Kita pernah melarikan diri sebelumnya. Kita pasti bisa lari lagi. Ayolah, Noona. Hm?"
"Dengan Saudara Kim Rain?"
Dua orang petugas datang untuk menjemput pria muda itu.
"Iya, saya Kim Rain."
"Ikut kami ke kantor untuk dimintai keterangan."
Sebelum pergi, pria itu memeluk kakak perempuannya. "Noona, bersiaplah. Kembali ke apartemen dan kemasi pakaian kita." bisiknya.
"Kakakmu tetap tinggal disini, tidak boleh kemana-mana sebelum pihak keluarga korban datang dan menyelesaikan semuanya." -tegas si petugas.
.
.
Oke Gesss,
Maaf khilaff.
__ADS_1
Makasih atas dukungan kalian🥰
Jangan lupa untuk selalu memberi dukungan kalian yah guysss