Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Kembalikan Putraku!


__ADS_3

"Mereka pasti ada di dalam. Dobrak pintunya!"


Terdengar suara seorang wanita dengan nada tersulut emosi.


"Itu suara ibu. Kita terlamabat. Rain, bersembunyilah sebelum mereka melihatmu!"


Jisoo Mendorong Rain menuju kamar mandi. "Bersembunyilah disini. Noona akan menghadapi mereka."


"hei. kau," -menarik Arsen. "Jaga adikku di dalam. Aku akan menghadapi mereka. Tolong jaga adikku"


Apa orang ini sadar akan apa yang coba dia lakukan? Hah, bagaimana dia mampu berhadapan dengan musuh dalam keadaan gemetar?


"Maaf karena kamu harus masuk ke kamar kecil jorok ini." -memaksa Arsen masuk kesana bersama Rain. Pria muda yang sedang ketakutan, duduk bersandar pada tembok dalam keadaan kepala tertunduk.


"Hei! Bocah, kau kenapa?"


"Hyung, tolong jaga Noona. Aku takut dia akan dipukuli ibu." -Rain menangis.


Meski tidak tahu apa yang akan dialami oleh kakak beradik ini, Arsen keluar dari kamar kecil itu, sesuai dengan permintaan Rain.


"Jisoo?" Arsen tercengang mendapati Kim Jisoo yang sedang memegang pisau dapur di kiri kanan tangannya.


Bruak!


Pintu telah terbuka dengan kasar.


"Ji Sooo!" -si ibu angkat mengeraskan suara.


"Jangan mendekat!" -Jisoo mengarahkan pisau ke arah orang yang baru saja masuk, dengan tatapan mengancam.


"Jisoo, apa yang kau lakukan? Kau mau mengancam kami, yang sudah memberimu tumpangan selama bertahun-tahun? Katakan, dimana putraku. Kembalikan Rain!"

__ADS_1


Jisoo menggeleng. "Pergi kalian. Jangan ambil adikku."


"Heh, kau pikir berani menggunakan itu? Bunuh lalat saja tidak bisa! Cepat cari Putraku di seluruh ruangan ini." -titah si ibu kepada orang-orang suruhannya.


"Stop! Rain tidak berada di sini. Dia sedang bersembunyi di tempat lain." -Arsen mulai ikut campur.


"Hah, siapa kau ini? Apa kau suaminya? Atau apanya? Atau kau sedang bermain dengan gadis nakal ini?" -si ibu melayangkan tatapan hina ke arah Jisoo.


"Apa yang kalian lakukan? Jangan diam saja dan cari bocah itu!" -Suara si Bapak menggema.


"Jangan ada yang berani bergerak! Aku memiliki rekaman saat kemarin kalian menculik Jisoo. Pergi dari sini atau kalian semua akan di jemput oleh polisi." -kembali Arsen memberi sedikit ancaman.


"Memangnya kau siapa, hah? Apa yang kau miliki sehingga kau seberani ini?"


Bukan bermaksud menyombongkan diri, Arsen mengeluarkan kartu nama miliknya, lalu melemparnya ke hadapan orang-orang itu.


Si Ayah angkat segera memungut kartu nama itu, seketika pula matanya membulat sempurna ketika membaca nama perusahaan yang tertera disana.


Jisoo, hanya tertegun tanpa melakukan apapun. Ia terduduk dengan kaki yang bergetar.


Bertemu lagi dengan ayah dan ibu angkat yang memang tidak pernah menyukainya itu, dua orang yang mengadopsi dirinya hanya karena Rain, hanya menganggap dirinya hanya menumpang makan dirumah dan dua orang yang hampir saja menjualnya untuk menjadi istri seorang pria tua. Semua itu membuat Jisoo sangat takut, takut akan terjebak dengan kehidupannya dulu.


Jisoo hanya ingin terbebas, dia ingin menjalani hidup yang sesuai dengan keinginannya, walau tanpa orang tua, dari pada harus menjadi anak tak di anggap dikehidupan pasangan itu.


Parahnya lagi, pria yang dipanggil ayah oleh Rain itu, pernah hampir melecehkan Jisoo, saat remaja. Membuat gadis itu tidak bisa tidur nyenyak setiap malam karena ketakutan. Ketakutan yang ia rahasiakan sendiri sampai saat ini. Baik ibu maupun Rain, tidak pernah mengetahui akan hal itu.


"Sebelum menjualmu kepada pria tua itu, ayah ingin mengajarimu beberapa hal. Jisoo, ayo ayah ajari, cara menyenangkan pria."


Perkataan kotor, wajah mesuum penuh napsuu dari ayah angkatnya itu kembali menyelinap, masuk kedalam ingatan, sehingga rasa takut itu pun kembali menghampiri.


"Ka-ka-kau dari perusahaan itu?" -Melihat nama SJ Entertainmen membuat pasangan itu keringat dingin.

__ADS_1


Dia ini siapa? Apa anak sulung Tuan Kim?


"Ya, benar! Kalian bisa menganggap perusahaan itu ada dibawah kendaliku. Ahh, itu bukan milikku, karena hanya dititipkan padaku. Apa kalian ada masalah? Siapa orang yang kalian takutkan disana? Katakan saja. Mungkin aku bisa membuatnya menemukan kalian."


Degg.


Mendengar itu, si ayah angkat semakin membelalak takut.


"Lupakan! Kalian semua, mari kita pergi!" -wanita setengah baya itu membawa orang-orangnya pergi dari sana.


Bukan karena menyerah, tapi mereka harus menyusun rencana matang untuk mengambil kembali Rain, sebelum jatuh ke tangan orang-orangnya Tuan Kim. Anak berharga itu akan sangat berguna untuk melancarkan aksi mereka agar bisa memperoleh lebih banyak uang di kemudian hari. Tapi persoalannya, dimana anak bungsu Tuan Kim itu? Dimana Jisoo menyembunyikannya?


.......


"Hei, Kim Ji soo? Kau kenapa?" -Arsen berjongkok didepan gadis itu. Ia ambil secara perlahan kedua pisau yang masih di genggam erat oleh Jisoo, yang hanya duduk mematung, seperti sedang menahan sesuatu di dalam hatinya.


"Mereka sudah pergi. Jangan takut lagi." -hendak menarik gadia itu kedalam pelukannya.


"Noona! Noona!" Rain keluar dari kamar mandi pengap itu dalam keadaan keringat bercucuran. Menggagalkan aksi Arsen yang hendak bermurah hati memberi pelukan hangatnya secara sukarela.


"Noona! Kenapa hanya diam? Noona, aku masih disini." -memeluk Jisoo.


.


.


.


Bersambung...


Guys... jan lupa dukungannya ya🤩🤩🤩 makasiiiiiiiiiiiii🥰🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2