Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Makanan Enak


__ADS_3

"Rain, itu kamu?"


Seseorang itu semakin mendekat, tanpa menjawab atau menyapa.


"Si-siapa kamu?"


"Aroma ini? Apa ... dia orang itu?"


Jisoo mulai merasa curiga, bahwa seseorang ini adalah pria yang bersamanya malam itu.


Orang itu lalu duduk di sisi sebuah meja di dekat Jisoo. Dengan tidak sopannya pria itu memutar kursi yang diduduki Jisoo hanya menggunakan kakinya.


"Hai!" -sapanya dengan nada menakutkan ketika mereka sudah berhadapan. Memang benar, ia sedang ingin membuat gadis ini takut bahkan hanya mendengar suaranya saja.


"Si-si-siapa kau?"


"Kenapa? Kau tidak mengingat suaraku?"


Ji Soo terdiam. Bagaimana mungkin dia melupakan suara ini?


"Atau kau sengaja pura-pura tidak mengingat suaraku, agar aku menyalakan lampu? Kau merindukan wajahku?"


"Pria gila ini!"


"Apa, yang kau inginkan?"


Clik...


Lampu menyala. Ternyata, ruangan ini adalah sebuah kamar. Kamar yang sangat luas, tertata rapi.


"Bagaimana? Sekarang kau mengingatku? Hmm?" -Arsen menyeringai nakal. Sedang Jisoo, gadis itu tertunduk kaku.


"Hei ... lihat wajahku. Apa kau merasa bersalah sekarang? Jawab aku! Sebenarnya kau ini j4l4ng, atau ... maling?"


"Ma ....af kan aku!"


"Aku meminta jawaban. Bukan permohonan maaf. Kau pikir maaf bisa menyelesaikan perkaramu ini?"


Dengan lantang Arsen menekan kata-katanya. Untuk seorang wanita biasa seperti Jisoo, Arsen terlalu menakutkan untuk dilawan. Saat ini, dirinya hanya diselimuti rasa takut yang menggila.


"Aku bukan jal4ng." -Jisoo, dengan suara pelan.


"Hah, jadi kau maling?"


Jisoo menggeleng. "Aku mencuri karena terpaksa."


"Semua maling, jika sudah tertangkap, akan mengatakan itu. Kata 'terpaksa' itu adalah senjata agar diberi pengampunan dan mendapatkan rasa iba. Hei" -mengangkat wajah Jisoo dengan kasar.


"Aku, belum pernah mengasihani orang jahat."


Degg...

__ADS_1


"Ternyata orang ini benar-benar menakutkan. Aku harus bagaimana? Rain, tolong Nuna."


"Uangmu ... masih ada!" -ujar Jisoo, hati-hati. "Mak-maksudku, masih tersisa 90 juta won."


"Aku tidak bertanya tentang itu." -Arsen membuka ikatan yang mengikat gadis itu.


"Ayo lakukan sekarang." -mulai membuka kancing kemejanya.


"Tidak! Aku harus pergi dari sini sekarang juga. tolong biarkan aku pergi. Aku janji akan datang menemuimu."


"Aku tidak berencana bertemu lagi denganmu setelah kita melakukannya." -Arsen membiarkan kemejanya terbuka, lalu mulai melepaskan ikat pinggang. Gadis polos mana yang tidak akan ketakutan? Jisoo semakin memundurkan langkahnya.


.


.


Kediaman Park.


"Jimin, terima kasih ya, aku ... akan pergi dulu. Mereka ... adalah sahabat nunaku."


"Oke, hati-hati." Jimin tersenyum hingga matanya hampir tak terlihat.


Rain pun pergi bersama A Rim dan A Reum yang telah ia hubungi untuk menjemputnya. Bagaimanapun juga, ia lebih tak enak berlama-lama di rumah Jimin.


Si kembar mengatakan bahwa mereka sudah mengirim pesan kepada Jisoo bahwa Rain akan menginap di apartemen mereka malam ini, meminta Jisoo jaga diri dan tidak perlu khawatir.


.


.


"Aku mohon! Lepaskan aku kali ini! Jangan lakukan apapun padaku. Hanya biarkan aku pergi, aku mohon. Adikku sedang menunggu!" -mengatupkan kedua tangannya, memohon.


Melihat keseriusan wajah takut dihadapannya, Arsen tertawa penuh kemenangan dalam hati.


"Baiklah, aku punya seauatu untukmu."


Arsen berjalan ke arah meja, mengambil selembar kertas dari sana.


"Tandatangani ini. Tulis nama lengkapmu disana."


SURAT PERJANJIAN BUDAK


Judul yang begitu mengerikan.


Kata budak berarti mengabdikan seluruh hidupnya bagi majikan, hanya boleh melakukan apa yang majikan kehendaki dan tidak mendapat bayaran.


"Horor. Ini sungguh menakutkan."


Singkat padat dan jelas, isi dari surat perjanjian itu hanya terdiri dari satu kalimat :


Bersedia melakukan apapun untuk Arsen Yoris selama waktu yang tidak dapat ditentukan.

__ADS_1


Tertanda, pembuat perjanjian Arsen Yoris.


Tertanda, Sang Budak : ......... hanya berisi titik-titik.


"Jadi dia bernama Arsen? Arsen. Arsen." -Jisoo seperti sedang berusaha mengingat nama itu. Nama yang terasa tak asing baginya.


"Aku tidak setuju menjadi budak." -tolak Jisoo.


"Baiklah, maka aku punya cara satu-satunya yang bisa menghapus hutangmu sepenuhnya." -menarik tangan Jisoo, agar berjalan mengikutinya.


Sampai dimobil, ia mendorong gadis itu untuk masuk kesana.


Ternyata, didalam mobil ada tas milik Jisoo yang lengkap dengan isinya.


"Kirim pesan pada adikmu, keluargamu, kau tidak


akan pulang malam ini." -titah Arsen.


"Dasar gila tak berperasaan. Bisa-bisanya dia tega pada seorang gadis?"


Jisoo membuka ponselnya dengan buru-buru. Disana ia menemukan pesan dari Rain dan si kembar. Ia pun merasa legah seketika.


"Baiklah, mari selesaikan semuanya malam ini."


"Waaa ... waaaa ... aku salut dengan tekadmu. Mari kita lihat, kau bisa selesaikan ini dengan mudah atau tidak."


Kembali Arsen mengancing kemejanya dan mengenakan ikat pinggang.


Setelah melaju membelah jalan, Arsen memarkirkan mobil di area parkir sebuah clubing.


"Un-untuk apa kita kesini?"


Arsen hanya diam, kembali ia menyeret tangan tak berdaya itu.


"Pelan-pelan! Kakiku sedang sakit." -keluh Jisoo yang setengah mati mengikuti langkah lebar milik Arsen.


"Jangan banyak drama. Aku tak akan bersimpati padamu."


"Tempat apa ini? Aku tidak ingin berada disini!"


"Kau tidak bersedia aku mencicipimu sendirian, kan? Sekarang, rasakan akibatnya."


Membuka sebuah pintu yang tertutup rapat.


Terdapat banyak orang didalam ruangan tersebut, yang adalah para pria yang tak muda lagi.


"Kau akan menjadi makanan enak untuk orang-orang ini. Malam pertamamu, mereka akan menikmatinya."


.


.

__ADS_1


Bersambung....


Guys guys! jan lupa dukung karya ini ya🥰🥰🥰


__ADS_2