
Arsen sedang berada di kamar miliknya. Ya, kamar yang berbeda dengan yang ditempati Jisoo. Sementara kakak beradik itu sedang bermain drama teletubies, Arsen berpikir untuk membuat bubur. Ya ... bubur yang biasa mama buatkan untuknya setiap kali sedang tidak sehat.
Druuuut.
Menelpon MAMA.
[Halo sayang,] sapa si mama dengan suara girangnya.
[Ma, tolong kirimkan resep bubur yang sering mama buatkan saat aku sedang sakit.]
[Sayang, kamu sakit? Haruskah mama terbang ke sana? Tunggu mama,]
[Ma ... bukan Arsen yang sakit. Tapi orang lain.]
[Siapa? Si J-hope? Suga? Kang Ma Ri?] -menyebutkan nama orang-orang terdekat putranya.
[Bukan mereka, Ma.]
[Lalu siapa? Laki-laki atau perempuan? -pertanyaan mama mulai merembet ke alur curiga.
[Seorang perempuan. Mama tidak mengenalnya.]
[Hei! Arsen, kamu ngapain perhatian ke perempuan lain? Dia bisa salah sangka? Ingat, kamu punya Kang Mari, kekasih tercintamu.] -sedikit mengingatkan, [Mama tidak suka anak mama mendua. Kamu pikir perempuan itu mainan?]
[Ma, aku tanya resep bubur. Bukan minta dibacakan Undang-undang.]
[Hei! Kamu melawan mama? Arsen, Kurang apa si Kang Ma Ri. Hmm? Mama tidak mau kamu sakiti dia.]
Ahhh. Ingin rasanya Arsen mengatakan hal sebenarnya tentang mantan kekasihnya itu, namun Arsen ingat, ini bukan waktunya untuk curhat. Ada seseorang yang sedang kelaparan gara-gara dirinya saat ini.
[Ma, orang ini adalah seorang wanita tua. Aku menolongnya karena dia terlantar di jalan dan ingin memasak untuknya. Apa mama mengira seleraku ke wanita sudah menurun drastis? Ya sudah, lupakan resepnya.] -untuk pertama kalinya. Arsen berbohong.
Beberapa menit kemudian, 'Bib' masuk sebuah chat dari mama (Boy,mama tau kamu sedang berbohong. Siapapun wanita itu, tolong jangan sakiti Kang Ma Ri calon menantu idaman mama itu. Ini resepnya : .................)
Arsen tersenyum kecil setelah membaca pesan dari mama.
Dialah yang telah menyakiti aku Mah, dia hanya menganggapku pajangan. Menantu idaman? Mama sangat kasihan.
Kembali mengingat Kang Mari, rasanya membangkitkan hasrat gila Arsen untuk membalasnya dengan cara yang sama, bermain gila dengan perempuan lain.
__ADS_1
Sementara Arsen membuatkan bubur, si kembar cantik dan imut itu menghampiri dirinya.
"Ehmmm!"
"Ada apa?" -tanya Arsen tanpa menatap keduanya.
"Emmm. Kami berdua, akan pergi karena harus bekerja."
"Oh, silahkan."
.
Akhirnya bubur sudah siap untuk diantarkan ke kamar.
Di Kamar.
"Rain, tunggulah di luar dan bilang ke orang itu bahwa Nuna ingin bicara."
"Baiklah Nuna,"
Beberapa saat kemudian, seseorang datang dengan membawa nampan berisi susu manis dan semangkuk bubur.
"Adikku sedang apa?"
"Aku menyuruhnya sarapan bubur."
"Tapi adikku tidak boleh makan sembarang."
Arsen lalu menyebutkan bahan apa saja yang terkandung dalam bubur tersebut. Ji Soo mengangguk, pertanda aman.
"Dimana pakaianku? Siapa yang mengganti bajuku?" -Menanyakan perihal baju yang ia kenakan saat ini bukan miliknya.
"Semalam, disini hanya ada kita berdua. Tentu saja aku yang mengganti pakaianmu."
Jisoo kembali mengangguk beberapa kali dengan wajah masamnya, lalu mulai memakan sarapan bubur yang telah dibuatkan untuknya ini.
Arsen hanya duduk sambil memperhatikan. "Lihatlah, dia benar-benar kelaparan."
Setelah memakan habis bubur itu, tanpa perintah ia pun meneguk susu putih dihadapannya hanya dalam beberapa kali tegukan sampai habis.
__ADS_1
"Hei! Kau mau apa?" -Arsen menahan pergerakan gadis itu yang hendak melepas infush dari tangannya. Oh, tidak. Dia telah melepasnya.
"Aku sudah sembuh. Mari kita selesaikan semuanya sekarang. Aku ingin kembali beraktivitas dengan normal, tanpa harus merasa berhutang lagi padamu." -Jisoo berjalan ke arah pintu, lalu menguncinya. Sedang Arsen, hanya menatap bingung dengan apa yang hendak dilakukan Jisoo.
Setelah mengunci pintu, Jisoo berbalik dan berjalan mendekati Arsen, seraya membuka kancing bajunya, membuat pria tampan itu menegang. Bukan menegang karena sebagian tubuh gadis itu telah terekspose, tapi ... karena pria itu merasa sangat gugup.
"Apa yang kau lakukan?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Arsen, Jisoo semakin mendekat dan melepas baju dari tubuhnya.
"Maaf karena lancang membawa kabur uangmu. Mungkin ini satu-satunya cara untuk membayarnya." -Tangannya berpindah ke pakaian bagian bawah untuk menurunkan celana.
"Jangan. Kau tidak punya malu? Melepaskan pakaianmu di depan laki-laki?"
Arsen menahan tangan itu. Memberi tatapan intens pada Jisoo yang saat ini berdiri tepat dihadapannya, Jisoo pun membalas tatapan itu, dengan berani.
"Kenapa harus malu? Kau sudah melihat seluruh isi tubuhku, kan? Mencicipi tubuhku, itu yang kau ingin. ya kan? Jangan menjadi brengsek gila dengan membuangku ke sarang bapak-bapak menakutkan itu. Apa kau pikir aku tidak merasa takut? Kau sangat kejam." -mendorong kasar tubuh Arsen hingga pria itu terjatuh di atas kasur.
"Hei! Kenapa kau jadi marah?"
"Ayolah, selesaikan ini sekarang. Arsen Yoris." -Jisoo naik ke atas ranjang.
"Apa kau gila? Adikmu ada di luar. Kau tidak takut dia mengetahui ini?" - Arsen memundurkan tubuhnya, menolak sentuhan Jisoo yang seperti ingin melahap dirinya.
"Aku tidak peduli. Ayo lakukan. Seperti kesepakatan pertama, setelah ini kita tidak akan bertemu lagi." -naik ke atas pria itu.
Apa? Dia sangat tidak ingin bertemu lagi denganku? Wanita Aneh.
"Kim Jisoo, hentikan! Jangan gila." -Menangkap kedua tangan Jisoo, membalikkan posisi tubuh mereka hingga kini gadis itulah yang berada di bawahnya.
"Dengarkan aku, Kim Jisoo," -Arsen menelan saliva dengan susah payah, untuk mengendalikan rasa aneh yang muncul akibat gadis dibawahnya ini, lalu mendekatkan wajahnya. "Jangan berusaha terlihat berani didepanku. Aku tahu kau sangat gugup dan ketakutan." Semakin ia dekatkan wajahnya, lalu berkata setengah berbisik : "Maaf, aku sedang tidak tertarik untuk menyentuhmu."
.
.
Bersambung....
Guysss. makasih...
__ADS_1
jan lupa ya🥰🥰🥰🥰