Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Sangat Kebetulan


__ADS_3

Siang harinya, bandara Incheon.


Tampak mama Gina dan dua putranya melakukan chek-in penerbangan untuk kembali ke Jakarta. Makin kesini, si putra bungsu merasa semakin kepikiran akan kakak perempuan yang terpaksa ia tinggalkan.


Aku harus menghubungi Nuna agar dia tidak lupa bahwa aku menunggunya disana.


Drrruuut drrruuut druuuuut.


[Iya, Rain, ada apa?]


[Nuna, kami sudah di bandara. Nuna jangan berpura-pura amnesia dan tidak menyusul dengan hyung.]


[Oh, ampun, anak ini, ya ... aku pasti akan ikut dengannya.]


[Baiklah, Nuna, aku menunggumu. Nuna, Sarange.]


[Ya ... tunggulah. Hati-hati di perjalanan ya, Rain. So sweet juga, tumben mengakui kalau mencintai Nuna? Heumm?]


Diposisi lain, mama Gina pun menelpon anak sulungnya.


[Iya mah,] suara sexy putranya menyapa dari ujung sana.


[Sen, mama dengan adik-adik kamu sudah di bandara. Penerbangan sebentar lagi.]


[Oke mah, hati-hati diperjalanan mah dan jaga bocah itu supaya ga ngilang lagi.]


[Kamu ih, mulai deh. Oia, jaga diri kamu ya Sen,]


[Sudah pasti mah, jangan khawatir. Pulanglah dengan perasaan tenang. Dikangenin papa tuh.]


[Chhhh, kamu. Bilang aja kamu senang kan kami cepat balik biar bisa berduaan dengan gadis kesayanganmu itu,]


[Nah, mama ngerti banget sama aku.]


[Sen, ingat. Jangan apa-apakan anak orang. Jangan melupakan ajaran mama dan nenek kamu.]


[Mah, dia bukan anak orang. Dia ga punya orang tua.]


[Dasar anak nakal. Awas aja kamu sampai melewati batas. Mama pecat kamu dari keluarga. Ini ancaman. Mama serius! ) si Mama seketika terpancing emosi mendengar candaan Putra andalannya.


[Ya ela ma, becanda kali.]


Tentu saja Arsen tidak pernah lupa akan ceramah dua wanita yang dihormatinya itu.


[Heh, pria nakal, jangan kira mama tidak melihat kelakuan kamu tengah malam tadi. Kamu kabur dari rumah sakit untuk temui Ji Soo kan?]


Degg degg.


Arsen membungkam.

__ADS_1


[Sorry mah. Karena belakangan ini aku ga bisa tidur kalo gak liat dia. Aku ga tau kenapa bisa segila ini sama dia mah.]


[Udah deh, ga usah curhat, Sen. Yang jelas, mama dan keluarga semua dukung kamu. Berjuanglah.]


Mama mengakhiri panggilan.


Sepertinya, sifat menggilai gadis itu, Arsen dapatkan dari aku. Dulu akukah yang mengejar si papa sampai-sampai menghasilkan Arsen diluar nikah. Ya Tuhan, semoga saja ... Arsen tidak mengulang hal yang sama. Aku sangat khawatir.


.


.


Sore harinya, Jisoo tiba di hunian Arsen, tempat kemana ia harus pulang mulai hari ini.


Apartemen luas yang kini sunyi, sepi, terlebih lagi adiknya sudah tidak ada bersamanya saat ini.


Gadis itu memasuki kamar, duduk menyendiri di lantai bersandar ditepi ranjang.


Rasa rindu tiba-tiba merasuk dikedalaman hatinya. Perlahan, air matanya mengalir begitu saja. Menangis, saat ini rasanya sangat ingin menangis.


Dimana kalian? Apa yang harus kulakukan agar bisa menemukan kalian?


Apa kalian masih hidup dan menunggu kepulanganku? Ataukah aku dianggap sudah mati?


Adik yang selama ini menjadi keluargaku satu-satunya, kini sudah kembali kemana seharusnya dia berada. Aku sendirian sekarang.


Sebentar lagi aku pun akan menikah. Menikah tanpa mengenal pria itu lebih dalam. Akankah hidup memberiku rasa nyaman? Apa ini adalah salah satu cerita hidupku?


Gadis itu memeluk kedua kakinya lalu membenam wajahnya disana. Meringkuk memeluk dirinya sendiri.


Menjelang malam. Arsen memasuki tempat tinggalnya itu dengan perasaan bahagia. Meski kepulangannya dari rumah sakit tidak ada yang menyambutnya, namun langkah ringan pria itu menggambarkan bahwa ada seseorang yang sudah tak sabar untuk ia temui.


Bukannya langsung menuju kamar miliknya, Arsen malah membuka pintu kamar yang Jisoo tempati.


CEKLEK.


Pintu terbuka.


Terlihat seseorang yang sedang meringkuk. Melihat pemandangan itu membuat Arsen merasakan kesedihan.


Ada apa dengannya?


Arsen mendekat. Perlahan menyentuh pundak gadis itu.


Jisoo mendongak pelan. "Oppa?"


Arsen memperlihatkan senyum jantannya.


"Kau habis menangis? hidung dan matamu merah."

__ADS_1


Jisoo membetulkan posisi duduknya. "Sudah sembuh?"


Pria itu pun duduk disamping Jisoo. "Aku belum sembuh tapi dokter memulangkan aku."


"Apa kau lapar? Aku akan membuatkanmu makanan." beranjak.


"Tidak perlu." Arsen menahan tangan Jisoo. "Ayo makan diluar. Ada restaurant sehat andalanku. Ayo kesana."


Gadis itu mengangguk.


Tiba di restoran.


"Selamat datang Hyung, Nuna,"


Seorang pria muda menyambut kedatangan Arsen bersama Jisoo. Anak muda pemilik restoran itu ialah Jimin Park.


Dengan senang hati, ia pun memgantarkan Arsen dan Jisoo ke tempat duduk yang nyaman.


Tidak hanya mengantar keduanya duduk, ia pun ikut bergabung dengan keduanya.


"Hyung, apa ini adalah momen makan malam romantis?" Jimin bertanya.


"Ya. Anggap saja begitu."


Sedikit bertanya dalam hati, kenapa Arsen bersama dengan Jisoo. Apa mereka benar berkencan? Pikir Jimin


"Hyung, sepertinya nuna-ku akan patah hati lagi kalau melihat kalian berdua."


"Biarkan saja. Seperti kataku, urus kakakmu itu agar tidak menggangguku. Sebentar lagi, aku akan menikah dengan Jisoo." menatap Jisoo dengan wajah tersenyum.


"Wah, Hyung, selamat. Nuna, selamat untukmu. Kau beruntung karena dinikahi pria hebat seperti Arsen hyung." memberi senyum imutnya ke arah Jisoo.


Arsen mengangguk, lalu menyingkir dari keduanya saat ada telpon masuk dari Jem, sang asisten.


"Jimin, dimana kakakmu?" tanya Jisoo.


"Nuna sedang ke Paris bersama mommy. Setelah makan malam batal itu, Given Nuna menjadi Badmood sehingga mommy memutuskan mengajaknya jalan-jalan."


Jisoo tersenyum "sangat kebetulan."


"Kebetulan apa Nuna?" tanya Jimin, masih dengan wajah ramahnya.


"Saat aku kecil, aku rasa ... aku dipanggil dengan nama itu. 'Given' ya ... itu."


Pernyataan barusan membuat senyuman diwajah Jimin kian memudar. Apa yang baru ia dengar, berusaha dicernanya dengan baik, duduk dalam posisi berubah tegang.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


Jan lupa dukungannya yah guys... tengkyu..


__ADS_2