
Arsen dan yang lain kembali memasuki Van yang dikemudikan oleh Jhope.
Drrrrt drrrt drrrt.
Papa kembali memanggil.
[Iya Pah,]
[Apa kau sudah memeriksa ponselmu?]
[Belum pah, aku bilang aku sedang darurat.]
[Boy, kau mengabaikan adikmu?]
[Pah. Lagipula kita selalu salah orang. Jangan terlalu banyak berharap.]
[Arsen, dengar. Kali ini tidak salah. Dua orang yang telah menculiknya, mereka juga yang mengantarnya ke panti asuhan dan mereka berdua pula yang mengadopsinya.]
[Itu tidak menjamin pah, bisa saja mereka memanipulasinya.]
[Setidaknya tangkap pasangan itu dan tanyakan keberadaan si Tae Tae. Kau mengerti?]
[Lalu bagaimana dengan mama dan Joon? Apa mereka berdua tau ini?]
[Tidak. Mereka berdua tidak tahu. Papa akan ke Seoul tanpa mereka berdua. Kalau si Tae benar ketemu baru papa akan cerita ke mereka.]
[Hmmm. Baiklah.]
Telpon pun diakhiri.
Apa yang harus aku lakukan? Siapa yang harus aku temukan lebih dulu? Adikku, atau Jisoo yang aku sukai?
Aku ingin menemukan bayi menyusahkan itu, tapi ... aku sangat mengkhawatirkan Jisoo. Bagaimana kalau aku terlambat dan dia kenapa-kenapa?
"Arsen, kau kenapa? Ada hal yang mengganggumu?" -Jhope.
Terlihat jelas diwajah pria itu bahwa ia sedang pusing alias bingung.
"Kau menyetir saja. Jangan pedulikan aku."
Arsen membuka ponselnya untuk melihat informasi yang sudah papa kirimkan.
Sebuah File gambar, ia pun membukanya.
Degg.
Pria itu menegang dalam posisi duduknya.
Bukankah ini ...
.
.
Sementara di kediman Park.
Jimin sedang berada di dalam kamar milik kakak perempuannya. Kamar sedang dalam keadaan kosong karena Given dan Mommy sedang berada di luar negeri.
Noona, maaf. Aku terpaksa melakukan ini.
Dengan perasaan campur aduk, pria muda itu memeriksa seluruh kamar Given, entah apa yang ingin ia temui.
Semoga kecurigaanku terhadapmu tidak benar, noona.
Tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, Jimin masuk kedalam kamar mandi dan mengambil sikat gigi milik Noona dan sehelai rambut gadis itu.
Oh Lord, aku berharap akan hasil yang sempurna. Semoga dia memang Noona-ku. Kami tidak siap menerima kenyataan bahwa Nuna sudah tiada.
Setelah dari kamar si noona, Jimin mengendap masuk ke kamar Daddy dan Mommy, dengan segala persiapan yang telah ia bawa yaitu sikat gigi baru.
Beruntung daddy sedang tidak di kamar, Jimin keluar setelah menukar sikat gigi milik kedua orangtuanya dengan yang baru, agar daddy tidak kebingungan mencari keberadaan sikat giginya.
Kini pria muda itu kembali ke kamarnya.
Aaahh. Aku sangat gugup. Apa yang aku harapkan? Ah, maafkan aku dad, mom.)
Jimim lalu mengemas masing-masing sampel milik noona, mommy, daddy dan dirinya sendiri. Sambil terus berharap kecurigaannya tidaklah benar.
__ADS_1
Setelah semuanya siap, Jimin langsung mengantarnya ke rumah sakit untuk dilakukan tes.
.
.
Kediaman Yoris.
"Maaah, Maaah ..."
Seperti seorang anak kecil, Joon memanggil-manggi mama Gina dengan nada setengah berteriak.
"ada apa sayang?" Mama keluar dari kamar.
"Mama dipanggil papa tuh,"
"Dimana papa kamu?"
"Diruang kerja. Ayo mah," merangkul bahu ibunya.
Di ruang kerja papa Stefan.
"Sayang, aku akan ke Seoul besok pagi."
"Tiba-tiba? Kami berdua bagaimana?" menunjuk dirinya dan Joon.
"Kamu sama Joon tunggu dirumah saja."
"Apa itu mendesak? Tapi mama pengen ikut. Boleh dong Papah."
"Iya Pah, aku juga. Aku merindukan kakak."
"Hei! Kalian berdua baru saja pulang dari sana. Memamgnya saat kalian pergi, papa diajak?"
"Yeee. Siapa suruh Papah selalu sibuk," sahut mama.
"Lain kali saja. Ini urusan pekerjaan. Tinggal saja disini dengan nyaman."
Sebenarnya Stefan ingin berterus terang tentang baby Tae, tapi ... ia mengurungkan niatnya karena takut kali ini gagal lagi.
.
.
Waktu sudah gelap. Kim Ji Soo tiba di sebuah gedung kumuh tak terawat.
Kenapa mereka membawa adikku ke sini?
Ia sangat yakin bahwa titik keberadaan adiknya ada di tempat menyeramkan ini.
Sementara di sebuah tempat asing.
"Lepaskan aku Ayah, kenapa Ayah melakukan ini padaku?"
Rain berusaha meronta dalam keadaan tangan dan kaki terikat.
"Ayah katamu? Kemana saja kau bertahun-tahun tidak pulang ke Busan? Apa kau tau kami berdua dengan susah payah mencarimu?"
Pria setengah baya itu terlihat sangat geram.
"Kau yang membawa kabur gadis itu dari Busan, kan? Mengakulah!" Bentaknya.
"Iya. Dia nunaku. Aku benci kalian berdua ingin menukarnya dengan uang. Apa salah noona?"
Pria itu menyeringai.
"Kau berani bikin susah rupanya, aku akan mengirimmu ke alam baka. Silahkan bertemu dengan ayah dan ibu kandungmu disana."
Aura menyeramkan terpancar dari raut wajah yang tak muda lagi itu.
"Ayah membunuh mereka? Membunuh kedua orangtuaku?"
"Kau tidak perlu tahu siapa pembunuh mereka. Yang jelas, kau akan segera bertemu mereka. Kim Tae Hyung, yang malang," Pria itu mengambil sebilah pisau.
"Ayah!"
Seseorang tiba -tiba saja muncul.
__ADS_1
"Jisoo? Kau datang, Nak?" Beralih melangkah ke arah Ji Soo.
"Ya ... gadis pintar, kau datang tepat waktu sayang," dengan seringai nakalnya, si ayah semakin mendekati Jisoo.
"Aaaayah, mau kau apakan adikku? Kenapa dia diikat?" Jisoo mulai merasakan firasat yang tidak enak.
"Sayang, tadinya ayah pikir dia akan berguna dan mendatangkan uang banyak bagi ayah. Tapi, dia tidak bisa diajak kerja sama. Kau mau melihat ayah menghabisinya?" -memainkan rambut lurus gadis Itu.
"Ayah, tolong lepaskan adikku kemudian kita bicarakan ini baik-baik. Kami akan bekerjasama, tapi biarkan kami hidup tenang. Aku mohon."
"Ayah, jangan menyentuh Noona. Atau aku akan menghabisimu."
Rain merasa tanduknya keluar karena tatapan iblis ayah angkat yang seolah akan melecahkan kakak perempuan yang disayanginya itu.
Ayah menyeret Jisoo mendekat kearah adiknya itu.
"Rain, kau tidak apa-apa? Noona akan melepas ikatanmu."
Brug.
Ayah angkat menendang kuat kaki Rain.
"Jangan lakukan apapun Jisoo, atau aku akan menghantamnya lagi."
Ayah menampilkan senyum penjahatnya ke arah anak laki-laki adopsinya itu.
"Baby Tae! Begitulah mereka menyebutmu saat bayi. Bersiaplah bertemu mereka." -lanjutnya.
Pria itu kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang, membelakangi kakak beradik itu.
[Halo.]
[Datanglah kemari. Sebelum aku eksekusi adiknya, tolong bawa gadis ini dan amankan dia.]
[Baik Tuan,]
BUGGG
Jisoo menghantam punggung pria menakutkan itu dengan sebuah balok, sekuat tenaga yang ia miliki.
Pria itu pun jatuh ke lantai.
Maafkan aku ayah. Tapi kau tidak akan mati.
Dengan cepat Jisoo melepaskan ikatan tangan adiknya, sebelum orang lain datang.
"Noona, kau sangat berani. Aku salut padamu."
"Simpan pujianmu, kita akan pergi secepatnya dari sini."
"Tuan, ada apa ini? Gawat. Dia pingsan."
Ketiga pria berbadan kekar menghadang langkah Jisoo dan adiknya yang hampir saja berhasil kabur.
"Habisi mereka berdua."
Dua pria mengevakuasi tubuh pingsan si ayah angkat, sedangkan satu pria lainnya siap menyerang kakak beradik itu dengan pisau.
Karena dalam kondisi terperangkap, kakak beradik itu tidak punya cela untuk lari.
"rasakan ini."
Pria itu melayangkan tangannya keudara. Jisoo dengan sigap memeluk adiknya itu, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng.
"Tidaaak! Jangaannn!" Rain berteriak.
.
.
.
Oke, guys...
Tolong banget dukung othor dengan like, komen hadiah dan vote ya...
🤭🤭🤭👌👌
__ADS_1