
Setelah kepergian sang adik bersama petugas berwajib, Jisoo merasakan suasana Rumah Sakit yang semakin mencekam.
Bukan karena rumah sakit dikenal dengan horornya suster ngesot dan sebagainya, tapi karena berbagai hal yang sedang ditakutkan Jisoo.
Suga dan A Reum kompak menghampiri gadis itu.
"Jisoo, kamu kenapa?" -Areum menyentuh tangan sahabatnya itu. "Tanganmu sangat dingin. Terasa gemetar."
"Kim Ji Soo, jangan terlalu sedih. Pacarmu akan baik-baik saja. Itu hanya operasi tangan. Kalau operasinya gagal, dia hanya akan kehilangan tangannya. Tenang, dia tetap akan hidup." -Suga memberi penguatan melalui tepukan pada pundak Jisoo.
Setelah berdiam beberapa saat.
"Aku tidak menghawatirkan keselamatan dia."
"Apaaaa?" -Suga dan Areum menatap heran kearah gadis satu ini. Dengan tidak berperasaan menyatakan ketidakhawatirannya pada Arsen.
"Lalu apa yang kau takutkan sampai memucat begini?"
"Seseorang hampir mati karena kami. Tentu saja aku merasa takut. Ingat saat di party perusahaan Pak Mario? Nenek tua itu memukul wajahku hanya karena leher cucunya tergores sedikit. Lalu bagaimana dengan ini? Arsen terluka, seribu kali lebih parah daripada sekedar goresan."
Gadis itu memijat pelipisnya, sambil menangis.
"Wooahhh. Luar biasa Kim Jisoo, aku kira kau memikirkan dia yang sedang berjuang didalam, tapi ternyata kau hanya memghawatirkan dirimu sendiri."
Jhope tiba-tiba muncul bersama A Rim disampingnya.
"Senior? Arim? Kalian dari mana?"
"Jisoo, kau bisa tenang sekarang. Ayah dan ibu angkatmu akan mendapat hukuman." -A Rim memeluk Jisoo.
"Trima kasih A rim, tapi sekarang aku sangat lapar."
Pada akhirnya, Jhope dan suga tinggal untuk menunggu Arsen yang masih di tindak.
Kedua pria itu menatap kepergian tiga sahabat itu.
"Aku tidak menyangka, gadis itu masih sempat memikirkan makanan disaat pacarnya sedang berjuang." -Suga menggeleng. "Dia benar-benar menggemaskan."
"Orang itu, dia sangat megutamakan dirinya sendiri dan adiknya. Itu yang terpenting bagi dia. Begitulah dia." -Jhope memeberi sedikit penjelasan yang dia tahu tentang Kim JiSoo.
"Apa karena mereka hanya berdua dan tidak punya keluarga?"
"Hmmm!" Jhope mengangguk. "Bagi dia, orang yang bisa memberinya rasa aman itu adalah dirinya sendiri. Dia terlihat ceria, tapi dia sangat tertutup. Beruntung dia masih punya teman. Hanya si kembar itulah yang menjadi teman baiknya selama ini."
Disebuah kedai makan pinggir jalan. Ketiga sahabat itu menikmati makanan dengan kuah yang melimpah.
"Jisoo, jangan khawatir dengan apa yang akan kamu alami. Tidak semua orang memakai tangannya untuk memukul." -A Rim.
"Jisoo, aku doakan semoga Pacarmu itu tidak punya nenek." A Reum.
"Lagi pula, dia kekasihmu. Wajar kalau dia melindungimu." ARim.
"Dia bukan kekasihku atau semacamnya."
"Apa?"
"Kami hanya kekasih sandiwara."
"Apa? Jadi kalian menipu kami?"
Jisoo mulai menceritakan bahwa 100 juta won itu berasal dari Arsen.
"Jadi, dia orangnya? Yang sudah membeli malam pertamamu?"
__ADS_1
"Kami tidak melakukannya. Jadi, aku mencuri uang itu."
Si kembar tercengang dengan mata membelalak.
"Jadi kau, sampai saat ini terlibat hutang piutang dengannya?"
Jisoo mengangguk malas.
Si kembar dengan otak encernya sudah sangat mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Beberapa jam kemudian, Arsen di pindahkan ke ruang rawat, yang tentunya ruangan terbaik dari rumah sakit itu. Pria itu belum membuka matanya. Entahlah, apa dia sedang tertidur ataukah pengaruh obat bius.
"Jisoo, kami akan pulang. Kau bisa menjaganya sendiri kan?" tanya Suga dan langsung dijawab oleh gelengan kepala Ji Soo.
"Jangan pergi. Kalian berempat jarus menemaniku." -mohonya penuh harap.
"Tidak bisa Jisoo, kami harus pulang. Besok kami akan bekerja." -sambung Jhope.
Mau tak mau, Jisoo tinggal sendirian.
Oppa, tolong segera bangun. Jangan membuat keluargamu khawatir dan menyalahkan aku. Kau sendiri yang salah karena datang ketempat itu. Aku tidak pernah ingin melibatkanmu atau siapapun dalam masalah yang aku hadapi. Tapi kenapa kau datang dengan bodohnya dan terluka? Oppa, kau menambah beban hidupku saja.
Jisoo keluar dari ruangan, duduk di kursi tunggu yang memanjang disana.
Pukul 4 menjelang pagi, Arsen terbangun dan menyadari dirinya hanya tinggal sendiri, tidak ada siapapun.
Astaga. Manusia-manusia jahat itu, mereka tidak menemaniku? Dasar tak berperasaan. Pria itu turun dari ranjang berjalan keluar dengan membawa serta penyanggah infus yang berjalan disebelahnya.
Ceklek.
Membuka pintu.
"Maaf Tuan Muda, kami terlambat."
"Tidak apa-apa. Kalian pergilah untuk beristirahat. Aku tidak apa-apa."
"Tapi Tuan, kami diperintahkan untuk menjaga keamanan Anda."
"Tidak perlu. Bukankah penjahatnya sudah tertangkap? Pulang saja. Aku akan bicara dengan pak Stefan."
Para pengawal mengangguk ringan.
"Lalu, dimana bayi besar menyusahkan itu? Apa dia tidak apa-apa?"
Pertanyaan Arsen sontak membuat para pria tegap itu menampilkan senyum geli disudut bibir mereka. Pasalnya, anak bungsu mendiang Tuan Kim sudah tumbuh sebesar itu tapi masih saja di sebut Bayi oleh Keluarga Yoris. Tak bedanya dengan pak Stefan sekalipun.
"Tuan Muda Tae sudah aman dalam pengawasan Tim kita. Mereka membawanya ke hotel untuk beristirahat."
Arsen pun mengangguk paham. "Kalian boleh pergi."
"Baiklah, lalu ... bagaimana dengan Nona ini?"
Mereka melirik ke arah keberadaan Jisoo yang sedari tadi tidak disadari oleh Arsen.
Jadi dia menungguku? Si polos ini, kenapa tidur diluar?
"Pulanglah, dia akan menjadi urusanku."
Arsen tersenyum legah menatap Jisoo sepuasnya.
Aku merasa akan gila jika lama-lama menatapmu. Hei, kau pakai pelet apa?
Arsen mulai tergoda untuk menyentuh wajah itu.
__ADS_1
Merasakan pipinya menghangat, Jisoo membuka mata perlahan.
"Hai," Sapa Arsen.
Jisoo mengucek kedua matanya.
"Arsen, kau sudah bangun?" -Jisoo mengatur posisi duduknya, menatap peria itu dengan raut wajah tak percaya.
"Hmm. Ini aku. Bukan roh gentayangan."
"Ah syukurlah! Tanganmu bagaimana?"
"Ayo kita kedalam. Kenapa kau tidur disini?"
"Maaf. Aku tidak enak di dalam. Takut mengganggumu."
"Ya sudah, ayo kita kedalam."
Keduanya pun masuk, lalu duduk bersama di sofa panjang.
"Apa kau benar-benar tidak apa-apa?"
"Iya. Tanganku akan sembuh. Tapi masih sakit."
"Maafkan aku Arsen, maaf karena kau harus terluka."
"Kau merasa bersalah?"
Jisoo mengangguk.
"Kalau begitu, aku ingin meminta sesuatu darimu."
"Apa itu?"
Arsen mengangkat wajah gadis itu lalu menunjuk. "Ini. Apa boleh memintanya?"
Jisoo mengangguk dengan polosnya.
Tanpa banyak berpikir panjang, Arsen m3luma4t bibir itu.
Tak apa Jisoo, ingatlah, dia boleh melakukan apapun padamu. Ikhlaskan saja.
Setelah beberapa menit, Arsen melepas lumatannya. "Jisoo, apa yang kau rasakan?" tanyanya pelan, dengan tatapan dalam.
Kenapa dia tanyakan itu lagi? Tentu saja aku lagi-lagi merasakan air mulutnya.
"Kau tidak merasakan apapun selain air mulutku?"
Jisoo mengangguk perlahan.
Mari kita coba sekali lagi. Aku akan membuatmu ketagihan dan akan terus menginginkan aku Jisoo.
.
.
Oke guys,
Jangan lupa like, komen, vote, bunga, kopi and rate yah...
Aku tunggu.
Makasiii😊
__ADS_1