Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Baiklah!


__ADS_3

"Apa putriku benar-benar sudah bersuami? Lalu dimana suaminya saat dia dalam bahaya?"


Ucapan lantang Mario Park kembali menggema.


"Paman, maafkan aku. Aku tidak pernah bermaksud menempatkan dia dalam bahaya. Aku tidak pernah berpikir hal ini akan terjadi, Paman, tolong biarkan aka membawa istriku bersamaku. Aku datang menjemputnya."


"Menjemput siapa maksudmu, Arsen?" Jenni muncul dengan membawa tatapan tak ramah pula.


"Kami baru saja menemukannya, kau dengan tega ingin memisahkan kami?"


"Maaf, bukan begitu maksudku."


"Pulanglah. Putriku sedang beristirahat." usir Mario secara halus.


"Pulang? Tidak bisa Paman. Aku ingin bersama istriku."


Ting.


Pintu tangga lift terbuka.


Seorang yang sedang diatas kursi roda keluar dari sana bersama Jimin.


Jisoo?


Arsen merasa legah bisa melihat istrinya lagi.


Tanpa perintah Arsen menyongsong istrinya. "Sayang,"


Ia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Given yang hanya mampu duduk manis diatas kursi roda.


"Kau datang?" Given bertanya tanpa menatap lawan bicara. Ia hanya menatap nanar kearah lain.


Jimin meninggalkan kakaknya lalu menghampiri mommy daddy yang berdiam ditempat, menyaksikan interaksi antara Arsen dengan Given.


"Hei! Aku disini. Jangan melihat kearah lain." Arsen mengambil ujung jemari Given dan memberi kecupan sayang disana. Tidak peduli lagi dengan keberadaan orang lain yang menyaksikannya.


"Oppa. Pulanglah, aku sedang tidak ingin melihatmu."


"Yah?" Arsen menggeleng. Kau masih marah? Kim Ji Soo, aku sudah menjelaskan. Kenapa masih marah? Hmm?"


"Aku ini Given, Oppa. Jangan panggil aku dengan nama itu lagi."


Deg.


Arsen terdiam.


Ia kembali menggeleng.


"Kau tetap Jisoo bagiku, bolehkah aku tetap menganggapmu Jisoo?"


"Kenapa? Oppa kecewa? Oppa menyesal telah menikahi Given? Iya, kan?"


Arsen kembali membungkam. Menyesal? Dirinya tidak pernah menyesal telah menikahi makhluk didepannya ini.

__ADS_1


"Pulanglah. Jangan kembali sebelum Oppa bisa menerima Given."


"Jisoo, tolong jangan begini. Aku suamimu. Kita harus bersama,"


"Lalu Oppa dimana saat aku bangun setelah tidak sadar berhari-hari? Oppa bahkan tidak berpamitan secara langsung kalau harus berpergian! Aku menunggumu dirumah sakit. Setiap ada yang buka pintu aku berharap suamiku yang datang.Oppa mengecewakan aku. Oppa juga mengabaikanku demi mantan yang sangat Oppa sayang, kan? Oppa membuatku kecewa sejak malam itu."


Given terlihat begitu geram. Menganggap dirinya telah diabaikan membuatnya kembali merasa sakit hati.


"Aku tidak seperti itu, sayang. Maaf -"


"Jimin, antar aku kembali ke kamar."


"Siap Nuna,"


"Dad, Mom, tolong minta dia pulang. Aku sedang tidak ingin melihatnya." Given kembali ke kamarnya dengan air mata yang menetes.


"Sayang, tunggu."


"Pulanglah Arsen. Kau tidak mendengarnya?"


Baru saja Arsen ingin memyusul istrinya, sahutan daddy Mario terdengar memgusir.


"Pulang? Tidak. Kumohon, paman, ijinkan aku tetap disini. Aku ingin tinggal disini juga dengan istriku."


"Tidak bisa. Pulanglah sebelum security datang untuk menyeretmu."


Mario beranjak dari duduknya, pergi bersama Jenni mengabaikan Arsen.


"Satu lagi, Arsen. Siapkan surat perceraian kalian segera."


"Bercerai? Tidak." Arsen menggeleng beberapa kali ditempatnya mematung.


Kenapa aku harus bercerai dari wanita yang kucinta?


Dengan berat hati, Arsen keluar dari kediaman Park.


Ia memasuki mobilnnya namum tidak segera pergi.


Permintaan ibu mertuanya untuk bercerai masih terngiang-ngiang dikepala pria itu.


Dari balkon lantai 3 kediaman Park, Given tengah menatap mobil milik suaminya yang tidak juga pergi.


Oppa, aku juga merindukanmu. Tapi aku ingin kau benar-benar menyadari perasaanmu yang sesungguhnya. Aku tidak mau kecewa dan akhirnya membencimu.


Drrrrt drrrrt drrrtt.


Husband memanggil.


Given menekan telpon berwarna hijau untuk menjawab.


[Halo] sapa Given.


[Sayang, aku akan pergi bekerja. Satu lagi, jangan pernah bermimpi mendapatkan surat cerai dariku. Kita tidak akan bercerai.]

__ADS_1


Hening.


[Apa kau mendengarku?]


[Ya. Aku dengar.]


[Bagus. Aku akan pergi. Sepulang dari kantor aku akan datang lagi.]


Tuut tuut tuuut.


"Nuna, aku merasa kasihan pada suamimu. Dia pasti terkejut atas ide mommy yang meminta kalian berpisah."


"Jimin, apa menurutmu ... dia tulus padaku?"


"Sejauh ini dia terlihat tulus, Noona. Itu menurutku"


Given mengangguk seadanya.


"Nuna. Selama aku mengenalnya, hyung adalah orang baik. Jangan lama-lama mengabaikannya. Aku jadi tidak tega."


.


.


Dikamarnya, si mommy menghubungi Stefan tanpa sepengetahuan Mario.


[Hallo,] Stefan menyapa.


[Fan, ini aku.]


[Oh, Jenni? Ada apa?]


[Aku ingin bicara tentang anak-anak.]


[Arsen dengan Jisoo maksudmu?]


[Dia Given. Putriku.]


[Ya, aku tahu.]


[Apa kau tidak masalah dengan pernikahan mereka? Tanpa sengaja kita sekarang berbesanan. Bagaimana sekarang?]


[Jen, bagiku itu tidak masalah.]


[Tapi dia putrinya Mario Park yang tidak kau sukai. Aku juga tidak yakin anakmu bisa menjamin kebahagiaan untuk putriku.]


[Kau salah kalau meragukan putraku.]


[Fan, kau terdengar sangat bangga pada putramu, tapi yang kulihat dia tidak benar-benar peduli istrinya. Fan, minta Arsen urus perceraian mereka segera.]


[Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Arsen akan segera menceraikan putrimu.]


.

__ADS_1


.


Bersambung lagi guysss.


__ADS_2