Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Kenapa Kehilangan Aku?


__ADS_3

Pelan tapi pasti, Arsen kembali menyatukan bibir mereka.


Kenapa dia sangat suka menyesap bibirku?


"Jisoo, lakukan seperti yang kulakukan. Jangan hanya diam dan bernapas." -Arsen berbisik, berharap dapat menghidupkan suasana romantis.


Dia memintaku membalasnya?


Jisoo menghentikan aksi pria itu, mendorong tubuhnya pelan.


"Oppa! Kalau aku membalas ciumanmu, berapa hutangku yang harus dipangkas?"


Csshhh. Dia masih sempat mengingat hal itu?


"Lunas. Hutangmu selesai kalau membalasnya."


"Kau yakin?"


"Hmmm. Aku janji."


Jisoo kemudian mengangguk, "Baiklah Oppa."


Gadis itu mendekatkan wajahnya perlahan, namun berhasil membuat pria itu senam jantung.


Lakukan Jisoo, setelah ini kau terbebas dari hutang itu. Gunakan kesempatan emas ini. Dia yang menginginkannya. Lagipula ini hanya c1uman.


Jisoo berinisiatif membuat penyatuan kedua bibir mereka.


Bagus ... Jisoo, kau melakukannya.


Momen berharga yang sayang jika dilewatkan ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Arsen. Dirinya tidak peduli semua itu dilakukan Jisoo demi sesuatu yang bernama hutang. Yang ia pentingkan adalah mereka melakukannya. Cium4n dengan perasaan cintanya terbalaskan dari gadis yang sangat ia sukai.


I Love you, Kim Ji Soo. I Love you. Aku akan membuatmu mencintaiku juga.


Oppa, aku tidak tahu ini benar atau salah. Tapi ini jauh lebih baik dari pada harus mengorbankan malam pertamaku yang berharga. Aku melakukannya dengan benar kan, Oppa?


Oh Tuhan, perasaanku sangat bahagia. Aku ingin selalu dekat dengan orang ini. Akhirnya dia membalasnya. Perlahan, buatlah dia membalas perasaanku. Aku hanya ingin wanita ini.


Batin keduanya berperang dalam diam.


Jisoo melakukan persis seperti cara Arsen melakukannya.


"Kau sudah mahir rupanya, hmm?"


"Oppa yang mengajariku." -Jisoo tertunduk malu.

__ADS_1


"Bagus, lama-lama kau akan terbiasa dan akan memintanya padaku."


Apa? Hei! Ini adalah terakhir kalinya.


"Oppa. Aku ... mau pulang. Adikku pasti menunggu."


Jisoo buru-buru berdiri ingin segera pergi. Namun, tubuhnya ditarik kebelakang oleh tangan pria itu.


"Jangan tinggalkan aku. Setidaknya tunggulah sampai pagi."


"Tapi adikku? Dia bagaimana?"


"Aku sudah mengurusnya. Dia akan diberi makanan yang sehat dan layak. Obatnya juga. Jangan khawatir."


"Kau tau kalau dia sakit? Hmm?"


"Ya ... dia memberitahuku. Kim Ji Soo, sebenarnya ... dia adalah adikku yang hilang saat bayi."


Degg.


Jisoo menepis tangan pria itu yang sedang menahannya.


"Bicara apa kamu?"


Arsen mengungkap kebenaran yang sesungguhnya tentang hubungannya dengan Rain dan Joon. Tentang ayah ibu angkat yang selama ini mengadopsi mereka juga adalah orang yang telah menculik Rain saat masih bayi.


Terkejut? Jisoo sudah pasti dibuat terkejut akan hal ini.


"Kau yakin dia adalah bayi itu?"


"Aku sangat yakin. Papah mengirimkan foto ayah mereka. Rain sangat mirip dengan ayah mereka. Dan lagi, ayah dan ibu angkat kalian telah membenarkan hal itu."


"Lakukan tes kecocokan antara Rain dengan Joon. Aku tidak bisa mempercayai hal itu begitu saja."


"Itu sudah pasti dilakukan. Kenapa? Kau sedih kehilangan adikmu?"


"Apa aku akan kehilangan dia?"


"Tidak juga. Kau boleh menjadi kakaknya sampai kapanpun."


"Ya ... aku memang kakaknya."


Tidak hanya itu. Kau bahkan bisa menjadi kakak ipar-nya jika menjadi istriku.


.

__ADS_1


.


Pukul 10 pagi, di sebuah suit room hotel, Rain terbangun dari tidurnya karena mendengar langkah kaki seseorang.


Sedikit bingung, melihat orang yang mendatanginya adalah orang yang pernah ia temui beberapa hari lalu.


Pria muda tampan itu semakin dibuat bingung saat wanita itu semakin mendekatinya dengan wajah sendu, terlihat kesedihan dan kebahagiaan terpancar dari sana.


"Kau ... sehat, nak? Kau sudah tumbuh sebesar ini tanpa kami,"


Wanita yang dikenal sebagai ibunya Arsen hyung itu berbicara dalam bahasa Korea yang sangat kaku, ia bahkan menyentuh wajah tampan itu sambil meneteskan air mata.


"Nyonya, anda kenapa?"


"Tae, ini Mama. Aku, adalah ibu yang seharusnya merawatmu." -Mama Gina menepuk-nepuk dadanya yang terasa berat.


Baby Tae. Begitulah mereka memanggilmu saat bayi. Kim Tae Hyung yang malang.


Pria tanpan itu kembali mengingat perkataan sang ayah angkat yang menyebutkan nama itu untuknya.


Menemukan keluarganya kembali memang tidak pernah terpikirkan oleh Rain. Tapi jika hal mustahil ini memang benar, apakah ia boleh merasa bahagia?


"Jadi, aku ... adalah dia? Yang menghilang saat masih bayi?" Dengan perasaan ragu-ragu, Rain bertanya.


Wanita itu mengangguk, masih dengan aliran air mata yang membasahi pipinya.


Hening


Hening


"Eomma, Eomma, Eomma," Seperti seorang batita yang baru berlatih berbicara, Rain menyebut kata 'eomma' dengan berbagai macam rasa yang kini menusuk hatinya. Pria tampan itu pun, mulai menangis.


"Ya, ini Eomma."


Keduanya sama-sama terisak.


"Kenapa Eomma kehilangan aku? Apa kalian membuangku?"


.


.


Oke deh, sekian dulu gess.


Trima kasihhh🥰

__ADS_1


__ADS_2