Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Hyung, Nikahi Nunaku!


__ADS_3

"Tunggu! Kenapa Aku merasa kalian berdua sedang menceramahiku? Apa katamu? Batasi kontak fisik? Mempermainkan Kim Jisoo? Hah, apa kalian berdua tidak sadar? Siapa yang selalu meniduri wanita? Bermain-main dengan wanita? Kurasa itu pantas ditujukan kepada kalian berdua."


Merasa dirinya tertuduh seolah melakukan kesalahan besar, Arsen menyerang balik dua teman baiknya itu dengan tuduhan yang sama, bahkan lebih parah.


"Ini beda bro, Jisoo adalah gadis baik dan bukan wanita sembarangan yang sering kami bayar. Akh, lagi pula aku sudah lama mengangguri hiu kecilku. Entahlah, sepertinya dia hanya ingin tidur belakangan ini," dengan wajah bersalah, suga menjelaskan bahwa hasratnya belakangan ini kian melemah.


"Tidak perlu bersimpati kepada kekasihku. Dia hanya akan menjadi urusanku." tandas Arsen pula.


J-Hope yang tadinya duduk di sofa, mendekati dua kawannya itu, setelah mendengar penuturan Suga tentang hiu kecilnya yang tidak pernah bangun.


"Aku juga. Ularku sudah tidak pernah turn on. Apa dia baik-baik saja? Arsen, apa jangan-jangan terjadi seperti yang kau bilang? Dia sakit karena masuk sembarang lubang hingga terkena bakteri?"


Pengacara muda itu terlihat sangat khawatir memikirkan nasib ular kebanggaannya.


"Ke dokter. Periksa ke dokter kelamin biar bisa cepat diatasi." Arsen semakin menjadi menakut-nakuti dua orang itu.


"Min Suga, apa kau punya kenalan dokter wanita? Aku tidak rela ularku di jamah oleh dokter pria." tanya Jhope, dengan wajah polosnya. Berhasil membuat raut wajah Arsen dan Suga berubah jengah.


.


.


Malam harinya.


Mama Gina beserta suami dan dua anaknya itu kini sedang berada di Apartemen si anak sulung yang masih harus beristirahat di rumah sakit.


"Ma ... aku ... mau ke flat bawah, mengambil barang-banrangku. Nuna sudah menyiapkannya."


"Tae, besok saja kita ambil ya sayang, kamu tu harus istirahat."


"Tapi kasian nuna Mah, dia pasti kesepian tanpaku."


"Tae, kamu tidak tega meninggalkan nunamu. Sedangkan hyungmu tidak setuju kalau dia jadi anak mama papa. Jadi bagaimana?" papa menanggapi.


Rain, yang kini berubah nama kembali menjadi Tae, terlihat berpikir.


"Mah, Pah, minta hyung menikah saja dengan nuna."


"Menikah?" mama, papa, Joon sontak mengulang kata menikah.


"Iya. Menikah. Yang aku lihat, hyung sangat menyayangi nuna."


"Oke, hyung terlihat menyayanginya. Tapi belum tentu hyung kalian mau menikah secepat itu." papa Stefan kembali menanggapi.


"Dan belum tentu juga malaikat cantik mau menikah dengan kakak." sambung Joon.

__ADS_1


"Kalau begitu, coba telpon kakak sekarang. Tanyakan langsung tanpa basa-basi." titah mama.


Tae lalu menghubungi Arsen melalui ponselnya.


"Ayo kita dengarkan bersama." Tae mengaktifkan load speaker.


[Halo, Rain, Tae, aku baru saja ingin menghubungimu.] suara Arsen menyapa dari seberang sana.


[Oh ya? Baguslah Hyung, kita terhubung kontak batin sekarang.] gurau si Tae Tae.


[Bukan kontak batin. Aku ingin bicara soal nunamu.]


[Sama hyung aku juga ingin bicara soal nuna.]


[Oh ya? Apa itu? Bicaralah!]


[Apa Hyung mau menikahi nuna?]


degg.


[Mau.] jawab Arsen tanpa beban.


[Kau serius hyung? Apa hyung berjanji akan setia dan tidak mengecewakan?]


[Baik hyung, beres.]


[Satu lagi. Dia bilang mau pindah malam ini juga. Tolong bujuk agar dia tidak pergi. Bisa?]


[Hyung, kau tidak bisa membujuk nuna?]


[Nuna-mu itu sedikit keras kepala.]


[Hyung yang payah. Bukankah semua wanita terpesona dengan ketampananmu? Buatlah nuna terpesona juga. Setelah itu dia akan jadi penurut.]


[Mata dan hati nunamu sedikit tidak normal.]


[Tapi hyung tetap suka?]


[ Kau sangat mengerti akan hal itu Tae, kau memang adikku.]


Setelah panggilan berakhir, keluarga itu kembali berembuk.


.


.

__ADS_1


Jisoo baru saja selesai menata pakaian miliknya dan milik adiknya itu ke dalam koper masing - masing.


Bib,


Rain memgirim sebuah pesan.


(Noona, aku sangat lelah. Jadi aku tidak bisa datang malam ini. Apa Noona bisa menunggu sampai besok? Jangan tinggalkan tempat itu sebelum aku datang. Ada yang perlu kita bahas dengan keluarga. Bisa, nuna?)


(Baiklah. Kalau begitu beristirahatlah. Kau pasti lelah. Jangan lupa minum obatmu dan makan makanan yang sehat.)


Karena adiknya itu tidak jadi datang dan memintanya menunggu, Jisoo memilih duduk santai sambil menikmati acara televisi.


Pada tengah malam, seseorang masuk ke apartemen itu tanpa disadari Jisoo yang tengah tertidur.


Lihatlah dia. Kenapa tidak istirahat di kamar?


Seseorang itu lalu mematikan televisi. Mengangkat tubuh gadis itu memindahkannya ke kamar.


Melihat wanita itu tetap tidur dengan nyaman, pria itu mendekatkan wajahnya, memberi kecupan kasih sayang di kepala gadis itu.


Aku menunggumu. Kenapa tidak datang menemaniku? Aku merindukanmu, Kim Ji Soo.


"Oppa ..., kenapa disini?" dengan suara serak Jisoo bertanya dalam keadaan setengah sadar ia merasa seperti melihat wajah Arsen.


"Hmmm. Aku merindukanmu. Boleh aku menemanimu disini?" tanya Arsen, pelan.


Gadis itu menjawab dengan menggerakkan kelapanya yang dianggap sebuah anggukan oleh pria itu.


"Oke, aku akan menjagamu."


Nyut nyut nyut, Arsen merasakan perih di tangannya. Ia melihat ada darah keluar dari sana menembusi balutan perban putih yang membungkus lukanya itu.


Tangan, tolong jangan membusuk. Pagi-pagi aku akan kembali ke rumah sakit, mereka akan mengatasinya lagi.


Setelah menyelimuti gadis itu, Arsen memgambil tempat untuk tidur di atas sofa. Baginya, menghirup udara yang sama saja sudah sangat membahagiakan. Tidak harus di ranjang yang sama seperti pasangan yang sudah sah.


.


.


Bersambung....


Guysss. jan lupa dukungannya ya😊


makasiiii😊😉

__ADS_1


__ADS_2