Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Ayo, Lupakan Keluarga Itu.


__ADS_3

"Kim Ji Soo, ayo ke kamarmu untuk bicara empat mata." mama gina menarik tangan gadis itu agar mengikutinya. Meninggalkan para pria keluarga Yoris yang masih melongo tak percaya.


Gadis macam apa yang digilai putraku ini? Bisa-bisanya dia dengan lugas mengatakan bahwa tidak menyukai anak sulung kebanggaan itu?


Mama Gina merasa sedikit kesal memdapatlan kenyataan bahwa gadis ini tidak tertarik pada putra tampannya itu.


"Kakak, apa gue bilang. Belum tentu malaikat cantik itu menyukaimu." cetus Joon memecah keheningan, disusul dengan kekehan usil keluar dari mulutnya, membuat Arsen ingin menghajar wajah datar adiknya itu.


Pria itu lalu memutar tubuhnya, memghadap sang ayah.


"Pah, Papa dengar? Dia bilang apa? Aku, bukan, typenya?" Arsen menunjuk kearah menghilangnya mama dan Jisoo, masih dengan wajah tak percaya.


"A, em ... Boy, Papa rasa, kalimat penolakan yang sering kau lontarkan pada banyak gadis, kini kembali padamu. Melalui seseorang yang kau sukai pula. Papa no coment boy," si papa malah mengangkat kedua tangan ke udara. Artinya, ia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong putranya.


"Hyung, kau tenang saja. Aku yang akan membuat Noona setuju menikahimu." Tae Tae yang sedari tadi diam setelah mendengar penolakan Jisoo Nuna, kini kembali bicara.


"Tae, kau memang harus melakukannya. Kau memang adikku. Tidak seperti seseorang yang diam-diam menertawakan kesialanku yang langka." memberi lirikan maut ke arah Joon.


"Kak, kau marah padaku? Bagaimana aku bisa menolongmu? Aku basa basi dengannya saja kau sudah terbakar emosi."


"Kau tidak perlu melakukan apapun Joon. Hanya diam saja dan dukung aku."


"Hmmmm. Baiklah kak."

__ADS_1


"Jisoo, bilang ke saya, apa yang tidak kamu sukai dari putraku? Dia punya segalanya. Dia baik. Di juga tampan dan semua orang menyadari itu."


"Karena semua itulah aku tidak menyukai dia. Banyak gadis menyukainya karena dia kaya dan tampan. Dia dikelilingi banyak Idol yang menggilainya. Kita tidak pernah tahu kapan dia akan tergoda oleh mereka. Aku tidak ingin direpotkan dengan skandal perselingkuhan suamiku."


"Kim Jisoo, kau meragukan kesetiaan putraku?"


"Ya. Dia masih terikat hubungan dengan Kang Ma Ri saat kami hampir tidur bersama. Saat itu dia masih mencintai Kang Mari tapi dia mampu bermain gila dengan wanita lain."


"Kim Ji Soo, dengarkan aku-"


"Kang Ma Ri adalah wanita cantik, seorang model. Bagaimana denganku yang hanya seorang gadis yatim piatu dengan asal usul tidak jelas? Sangat mudah menyakiti aku. Aku tidak punya siapapun yang akan membelaku. Jadi, untuk menjaga hatiku, aku tidak ingin terlibat perasaan dengannya."


"Jadi itu yang mengganggumu? Ji Soo, putraku itu sangat menyukaimu. Aku pastikan dia hanya akan melihatmu. Kau tahu, kau juga sangat cantik. Meskipun kita belum lama saling mengenal, aku yakin putraku sedang jatuh hati pada seseorang yang sangat baik. Dan itu adalah dirimu, Jisoo."


Selepas kepergian mama Gina, Tae mendekati Jisoo.


"Rain, kenapa bisa jadi begini? Kenapa kau meminta Nuna menikahi hyungmu? Kenapa kau jadi egois, hmm?"


Bukannya langsung menjawab, pria muda itu malah memberi pelukan hangat kepada kakak perempuannya itu.


"Maafkan aku Nuna, Nuna tidak harus melakukannya. Aku tidak akan memaksamu." mengusap punggung kakaknya dengan kelembutan.


"Aku telah menemukan keluargaku. Tapi ... sepertinya aku tidak tertarik untuk pulang dan tinggal dengan mereka."

__ADS_1


Mendengar penuturan barusan, Jisoo menjauhkan tubuh adiknya itu yang masih memberinya pelukan.


"Apa maksudmu, Rain? Kau ingin mengecewakan keluarga yang sudah lama mencarimu?"


Rain hanya tersenyum lembut.


"Aku lebih memilih menjaga Nuna daripada mereka. Itu sebabnya aku ingin Nuna terikat dengan hyungku, agar bisa memastikan nuna memeiliki seseorang yang tepat selain aku. Tapi ... sudahlah, ayo hidup seperti biasa, anggap saja aku memang tidak memiliki keluarga. Hanya nuna yang aku miliki. Aku akan menemani nuna sampai nuna menemukan seseorang yang nuna sukai dan menikah."


"Rain! Kau jangan begini! Bagaimana kalau aku tidak bahagia dengannya? Bagaimana kalau kakakmu tidak bisa membuatku bahagia? Hah?"


"Jadi Nuna hanya memikirkan perasaan Nuna? Nuna takut sakit hati? Tanpa berusaha membuka hati Nuna?"


"Akulah yang harus menjaga hatiku, Rain."


"Baiklah, kalau begitu ayo lupakan keluarga itu. Nuna sudah berkemas kan? Ayo kita berdua pergi dari sini. Aku akan ikut kemanapun Nuna pergi."


.


.


Bersambung guyssss..


Jan lupa dukungannya yah, biar othot tambah semangat🤭

__ADS_1


__ADS_2