Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Tapi Aku Tidak


__ADS_3

"Saya ibunya."


Jenni mendekat.


Apa? Orang ini ... ibunya?


Ji Soo melepas perlahan terkaman tangannya.


"Apa maksudmu berteriak padanya untuk memanggil saya?"


Jenni semakin mendekat.


"Ma-maafkan saya, saya ... sepertinya salah orang." -Jisoo tertunduk.


Dimana aku pernah melihat gadis ini?


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" -menyentuh wajah Given.


"Ada apa ini? Ada apa ini?" -Kini giliran grandma turun tangan.


"Tidak apa - apa ma... gadis ini sepertinya hanya salah mengenali orang."


"Salah mengenali orang? Lalu kenapa cucuku nampaknya sedang tertekan?- memperhatikan wajah Jisoo. "Gadis ini? Jenni, kamu tahu, dia adalah kakak perempuan dari orang itu. Orang yang memukul Jimin-ku."


Grandma mendekati Given, memperhatikan detile bagian tubuh cucu kesayangannya itu, membuat Jisoo menjauh, memberi ruang.


"Kamu tidak apa-apa sayang? Bilang pada grandma, dia apakan kamu?"


Seketika mendidih melihat sedikit goresan pada leher cucunya.


"Kenapa disini memerah?"


"Grandma, aku tidak apa-apa. Dia hanya salah mengira kalung milikku adalah miliknya yang hilang. Jadi dia menariknya dengan kasar."


"Apa?"


Grandma memutar tubuhnya.


"Ma ... jaga emosi mama, nanti mama bisa sakit. Sayang, bawa Grandma kamu pergi, biar mommy bicara denga orang ini."


"Jangan hentikan mama Jen,"- mencengkeram lengan Jisoo. "Hei! Kau, ... dan adikmu, tumbuh menjadi kriminal? Kebiasaan bersikap kasar pada orang lain?"


Mengguncang tubuh Jisoo.


"Maafkan saya nyonya," -dengan perasaan takut dan gemetar, menyerahkan kembali kalung yang baru ia rampas.


Grandma mengambil benda itu dengan kasar.


"Maaf katamu?"


PLAKK....


"Ahhh, sssh." -Given reflek memegang pipinya yang terasa panas.


"Kamu pantas menerima itu." ujar Grandma penuh Amarah.

__ADS_1


"Jisoo?" -Arsen.


"Noona!" -Rain.


"Apa yang Grandma lakukan?" Jimin.


"Apa yang sedang diperebutkan disini?"


Mario ikut muncul disana.


Selain itu, si kembar juga ikut muncul disana.


Tak lama, kedua sahabat Arsen pun muncul tiba-tiba.


Kim Ji Soo?


J-hope tak menyangka akan bertemu junior bak primadona itu di acara ini.


Siapa gadis itu? Tunggu! Aku pernah melihatnya! Kim Ji Soo? -Min Suga tersenyum hangat. Akhirnya setelah sekian lama, bertemu lagi dengan gadis itu.


"Minta maaf kepada cucuku sekarang!" perinta grandma, masih dengan raut muka memerahnya.


Dengan sikap rendah hati, Jisoo pun meminta maaf. "Maafkan saya."


"Baik, dia sudah minta maaf. Semuanya boleh bubar sekarang. Aku perlu bicara dengan gadis ini. Tinggalkan kami." -Jeni.


"Mom," Given menggeleng. "Tidak perlu bicara lagi dengannya. Aku tak apa."


"Kau lihat, gadis jahat? Betapa mulianya hati cucuku. Dia memaafkanmu begitu saja."


Dari hidung Jisoo tiba-tiba keluar cairan encer berwarna merah.


"Jisoo," Arsen ingin mendekat. Namun, belum sempat melangkah, Rain menahan tangannya.


"Aku saja hyung, Noona hanya membutuhkan aku saat ini."


Ada apa dengannya?


"Hei! Kau kenapa?" -Jenni mendekat.


Apa aku terlalu kuat menamparnya? Si grandma merasa sedikit bersalah.


"Nunaaaa," Rain kini berada tepat disebelah si Noona.


"Rain, kamu disini?"


Jisoo meraba hidungnya, ketika sadar ada sesuatu disana.


Ah tidak. Ini terjadi lagi. Memalukan.


"Ma, kali ini mama yang harus minta maaf. Karena tamparan mama, gadis ini pendarahan." - tegas Jenni.


Grandma terdiam kaku.


"Jisoo, kau tidak apa-apa?" Arsen ikut mendekat.

__ADS_1


"Oppaaa!" -Given melangkah ke arah pria yang digilainya itu. Dengan wajah sedih, memeluk pria itu terang-terangan, membuat daddy dan mommynya merasa jengah melihatnya.


Jadi, si majikanku juga berada disini? Melihatku dalam keadaan menyedihkan? Ah, ini memalukan. -Bertemu pandang dengan tatapan Arsen.


Arsen yang hanya mematung mendapat pelukan Given. Seandainya tidak ada orang lain, dia pasti sudah menghempas teman kecilnya itu.


Aku sudah gila. Apa aku telah menyerang salah satu kekasihnya?


"Nona, kau tak apa?" Merasa prihatin, Jenni menunjukkan perhatian.


"Tidak apa-apa. Ini bukan karena tamparan. Ini ... sudah biasa terjadi. Hanya mimisan biasa."


Dia mimisan juga? Seperti diriku saat muda. -Mario.


"Noona, ayo kita pulang." -Rain membuka jaket lalu mengenakannya pada tubuh kakaknya.


Kakak beradik itu pun menyingkir dari sana.


Semua meghantar kepergian keduanya hanya dengan tatapan.


"Given, cukup! Jangan bertindak seolah kita ini sangat dekat." -Melepaskan pelukan Given, setelah semua orang pergi dari sana.


"Oppa, kau bebar-benar tidak menyukaiku?"


"Iya. Aku tidak tertarik padamu sedikitpun. Jangan pernah bertindak berani lagi seperti tadi, atau aku akan mempermalukanmu."


"Oppa, tapi kita teman kecil. Aku menyukaimu sejak lama."


"Tapi aku tidak."


Arsen pergi dari sana dengan perasaan kesalnya.


Disisi lain. Mario sedang berhadapan dengan si kembar, sahabat Jisoo.


"Jadi kalian berdua yang membawanya?"


"Be-benar pak, maafkan kami."


Mario hanya mengangguk. "Atur pertemuan saya dengan gadis itu besok siang."


"Tap-tapi pak, kenapa? Bapak ingin membuat perhitungan dengannya?"


Si kembar tampak sangat gugup.


"Jangan takut. Saya hanya ingin membuat beberapa kesepakatan dengannya. Siapa namanya? Kim Ji Soo?"


Si kembar mengangguk.


"Asalkan bapak berjanji tidak menyakitinya, kami setuju."


.


Bersambung....


Gesss. Jan lupa ya dukungannya😊

__ADS_1


Selamat beraktifitas....


__ADS_2