Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Takut Ketangkap Basah


__ADS_3

Kediaman Mario Park.


Mommy Jen dan putri sulungnya baru saja tiba, setelah puas menikmati liburan ke kota Romantis, Paris.


"Dad, dimana Jimin?" tanya mommy, tidak melihat keberadaan putranya.


"Entahlah, belakangan ini, dia sangat sibuk di Restoran. Dia hanya mengerjakan tugas kantor yang daddy berikan dari restorannya saja." jelas si daddy Mario.


"Aku pulang ..."


Orang yang baru saja dibahas tiba-tiba nongol.


"Jimin?"


"Hai Mom. Nuna," menyapa dua wanita kesayangannya itu yang juga pasti baru tiba dari bandara.


"Bagaimana pekerjaanmu Jimin? Belakangan ini kau sangat sibuk?"


"Lancar Dad, tidak ada hambatan." melirik sekilas ke arah Given yang sedang meneguk segelas air.


"Oia, Arsen hyung akan menikah."


"Menikah?" Given terkaget.


Demikian pula dengan mommy daddy, namun keduanya nampak biasa saja.


"Iya, dengan Noona-nya Rain, Kim Ji Soo. Satu lagi, ternyata ... Rain itu adalah adiknya Arsen hyung."


"Apa?" si mommy daddy kompak terkejut.


"Saat bayi, Rain adalah putra bungsu dari seseorang yang bernama Tuan Kim."


Baby Tae?


Mommy dan daddy saling menatap membenarkan dugaan mereka sejak awal.


"Tunggu, katamu oppa akan menikah? Aku tidak percaya ini." Given tampak mengibas-ibas majalah di depan wajahnya, merasa kegerahan.


"Mereka sendiri yang mengatakannya saat datang ke restoranku. Jadi Nuna, jangan lagi menampakkan kalau Nuna menyukai hyung.


Jisoo ? Jadi dia akan menikah dengan oppa? Semudah itu oppa menikah dengannya dan menolakku? Kenapa hidupnya seberuntung itu?


"Apa kita di undang? Ayo hadiri pernikahan mereka." ajak Given.


"Tidak bisa, Nuna. Mereka menikah di negara asal hyung."


"Jadi ... Kim Jisoo bukan kakak kandung anak itu?"


Entah kenama mommy terlihat sedikit terganggu mengetahui kenyataan itu.


Sedangkan Mario tampak memikirkan sesuatu dengan perasaan sedikit kagum kepada Jisoo.


Jadi akulah yang mengatur jodoh untuk gadis itu?


Mario merasa dirinyalah yang telah membuat pasangan itu berjodoh, mengingat permintaannya kepada Jisoo untuk mendekati Arsen.


Apa ... mereka menikah karena sesuatu? Sebagai balas budi karena Jisoo telah menjaga baby Tae selama ini? Kalau sepertu itu, maka kasihan gadis itu.


Namun Mario menepis rasa simpati di pikirannya. Kebahagian gadis itu bukanlah hal yang terpenting. Yang paling penting disini, Given, putri sulungnya itu sudah aman, tidak akan lagi menggilai putra dari Stefan dan Gina.


Kediaman Yoris.


Sebentar lagi akan ada pesta penyambutan Rain sebagai 'Tae Hyung' yang telah kembali.


Acaranya akan dilaksanakan di halaman terbuka kediaman keluarga Yoris.


Semua orang, termasuk Ji Soo, juga tengah sibuk bersiap diri.


"Waw! Mama Gina punya selera fashion yang bagus." Jisoo bergumam, memandangi gaun yang baru saja diberikan oleh calon ibu mertuanya, untuk dikenakan gadis itu malam ini.


Setelah mendatangi kamar Jisoo, Gina menghampiri kamar putranya.


"Sen, kamu baru mau bersiap?"


"Iya nih, Mah,"


"Sen, kamu beneran gak apa-apa kan? Putra mama bertambah lagi, kamu benar-benar bukan satu-satunya anak yang harus mama sayangi."


Entah apa maksud ibunya, Arsen hanya menanggapinya dengan senyum simpul. "Gak apa-apa kok mah, aku juga punya Kim Jisoo, sebentar lagi hidupku hanya untuk dia. Karna mama punya dua putra lagi, setidaknya dua orang itu bisa mengisi hari-hari mama tanpa aku."


"Cisssh, kau ini. Terdengar benar-benar akan melupakan mama karena dia. Sepertinya mama harus mengundur pernikahan kalian sampai dua atau tiga tahun lagi."

__ADS_1


"Boleh aja Mah, kami tidak perlu menikah buru-buru. Bikin bayi aja dulu."


Dengan santainya, pria itu berkata sambil membawa beberapa setelan pakaian ditangannya.


"Pria gila! Kamu pikir Kim Jisoo akan semudah itu mau diserang sama pedangmu?" Mama memukul lengan putranya.


"Aw! Mah, sakit tau!" ringisnya.


"Jujur ke mama. Apa yang sudah kamu lakukan ke gadis itu hah? Ngaku, cepat," mama mulai mengintimidasi dengan jari telunjuknya.


Kembali pria itu tersenyum jahil.


"Belum terjadi mah, baru juga masuk setengah."


Pernyataan usil itu sontak membuat si mama menjewer telinga anaknya itu.


"Kurang ajar kamu yah, sejak kecil kamu sudah diingatin jangan sembarangan mainin pedang."


"A a a a a, Mah, putus telinga aku."


"Ada apa ini?" suara bariton si papa terdengar.


"Ini Pah, anakmu. Dia hampir menyerang Jisoo dengan pedangnya."


Papa menautkan kedua alis.


"Baru hampir kan? Belum terjadi. Anggap itu pemanasan." ujar papa, santai.


"Pah! Kamu membiarkan tindakan anakmu?"


"Sayang, usianya sudah berapa? Dia bukan anak-anak lagi. Biarkan saja. Sen, ikut ke ruangan papa sekarang. Ada yang mau papa bahas dengan kau dan adik-adikmu."


"Okeh, dah, Mama Gina!" Arsen melewati mama seraya memberi flying kiss dan mengedipkan sebelah mata.


"Sen, Pah ... mama belum selesai bicara!" teriak Gina.


Putranya itu hanya menggidik bahu.


"Pria-pria tak berperasaan!" Gina pun menyusul keluar dari kamar itu, serta tak lupa menutupnya.


Di ruang kerja Stefan.


Enam bulan lagi Joon akan menyelesaikan Study strata 1. Stefan memintanya untuk bersiap menggantikan posisi Arsen, mengambil alih perusahaan peninggalan ayahnya, Tuan Kim.


Si bungsu yang baru saja pulang ke keluarga, akan stay di jakarta untuk melanjutkan studi sebelum mengemban tanggungjawab yang lebih besar.


"Hanya itu yang mau papa sampaikan. Apa kalian ingin menanggapi?"


"Pah, bolehkah aku selesaikan program S-2 dulu baru pindah ke Seoul? Aku belum siap berpisah dari mama." Joon mencoba membuat penawaran.


Stefan terlihat memikirkan perkataan si putra ke dua.


"Kita lihat saja nanti. Lagi pula masih ada waktu 6 bulan. Kau bisa saja berubah pikiran."


Keluar dari ruangan Stefan, ponsel Tae berbunyi.


Bib,


Sebuah pesan dari Noona Kesayangan.


(Rain, Noona kesulitan mengancing dress pemberian ibumu ini. Datang dan bantu nuna)


(Oke nuna) balas Rain, lalu tersenyum.


Tiba di depan kamar Jisoo.


"Kau mau apa ke kamar kekasihku?"


Arsen yang hendak masuk kembali ke kamarnya, menghentikan Rain yang baru ingin mengetuk pintu kamar dimana kakak perempuannya itu berada.


"Oh, nuna membutuhkan bantuanku."


"Bantuan apa?"


Adiknya itu pun memperlihatkan isi pesan dari nuna-nya kepada Arsen.


"Biar aku saja. Kau pergilah bersiap."


"Hyung, tapi nuna memintaku. Kau bukan suaminya. Tidak pantas."


"Kau lebih tidak pantas. Kau adalah adikku. Sana, pergilah."

__ADS_1


Tae pun pergi setelah menaikkan turunkan bahu. "Orang yang lebih dewasa selalu benar," gumamnya.


Tok tok tok.


Arsen mengetuk pintu.


"Masuklah!" sahut Gadis itu dari dalam, mengira yang datang adalah adiknya.


Dia tidak mengunci pintu? Dasar ceroboh.


Ceklek.


"Oppa? Ada apa kesini?"


Jisoo berdiri sambil menahan dress yang dipakainya dengan kedua tangan.


Pria itu hanya melangkah sambil menatapnya dengan sebelah alis terangkat.


"Berbaliklah! Aku yang akan membantumu."


"Oh, Oppa ... aku jadi tidak enak." Jisoo berbalik.


Arsen menyibak rambut panjang yang menutupi bagian resleting, untuk mengancingnya.


Pakaian macam apa ini? Kenapa perempuan menyukai pakaian seperti ini?


Srrreeeeeeeeettt.


Jisoo tertegun menatap pantulan wajah Arsen di dalam cermin yang berdiri menunduk di belakang tubuhnya.


Oppa, kau sangat tampan.


"Kim Ji Soo, sudah selesai."


"Oh, terima kasih Oppa." Jisoo kembali berbalik, berhadapan dengan pria itu.


Dia sangat cantik.


Pria itu mulai menyentuh dagu Jisoo, membuat wajah itu sedikit mendongak.


Mendekatkan wajahnya.


"Oppa, jangan. Aku sudah memakai lipstik."


Alasan tipis.


"Nanti bisa pakai lagi."


Kembali mendekatkan wajah dan mulai memberi sentuhan lembut.


Bibir keduanya kembali bersentuhan. Seperti biasa, Jisoo akan terpancing untuk membalasnya setelah beberapa saat.


Bagus, lakukan sayang.


Arsen terus menyesap, menyadari sentuhannya mendapat balasan.


Perlahan, Arsen merasa tangan Jisoo melingkar dipunggungnya, sesuatu yang tidak pernah dilakukan gadis itu sebelumnya. Segera ia melakukan hal yang sama, memeluk tanpa melepas tautan bibirnya dan terus menyesap.


Setelah beberapa menit, mata keduanya kembali terbuka, perlahan menyudahi hal itu.


"Apa yang kau rasakan sekarang? Heumm?"


"Aku merasa ... jantungku berdetak tidak normal, Oppa."


"Bagus! Itu artinya ... kau mulai-"


"Oppa, aku gugup karena takut kita tertangkap basah sedang seperti tadi."


Arsen menahan napas beberapa saat, lalu menghelanya dengan kasar.


"Baiklah, cukup dulu. Aku akan bersiap. Tunggu aku, kita berdua akan pergi bersama."


.


.


Oke guys... sekarang cuma bisa sekali up per hari ya🤭 semoga kalian semua sabar menanti. Jangan lupa dukung karya ini dengan like komen, berbagi vote dan atau hadiah ya guyss🥰🥰


Bonus Visual👇👇👇


__ADS_1



__ADS_2