Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Kontrak Pernikahan?


__ADS_3

Tok tok tok.


Ceklek.


Jisoo membuka pintu kamarnya yang baru saja di ketuk.


Arsen kembali menahan napas melihat penampilan gadis yang dikasihinya ini.


"Oppa. Ada apa dengan tatapanmu?"


"Kim Jisoo, tidak bisakah ganti pakaianmu?"


"Ada yang salah?"


Jisoo menunduk memperhatikan ditile dress yang ia kenakan.


"Kau terlihat hampir telanjang."


Lantas gadis itu menyilangkan kedua tangan di dada, mendengar tanggapan menakutkan dari pria dihadapannya.


"Keterlaluan. Ibumu yang memintaku memakai ini, Oppa. Tidak sopan kalau menolaknya." sewot Jisoo dengan nada setengah ngegas.


Arsen menggeleng. "Ayo turun, aku akan memperkenalkanmu sebagai calon istriku."


"Oppa! Kau ingin mempermalukan aku?"


"Yah? Maksudmu? Menjadi calon istriku memalukan bagimu?"


Keduanya oun berjalan bersama.


"Bukan. Aku hanya malu tiba-tiba sudah jadi calon istri. Kita 'kan bukan pasangan kencan."


"Jadi kau mau kencan? Mari kita pergi berkencan setelah acara selesai."


"Tidak perlu Oppa."


"Kau menolakku? Dasar manusia langka." memberi tangannya. "Ayo gandengan."


Menuruni tangga.


"Waaaw. Malaikat cantik, kau tampak luar biasa." Joon terperanaga akan penampilan Jisoo yang terlihat memukau baginya.


"Hyung, berhenti menyebutnya malaikatmu."


"Kau benar Tae, Joon, berhenti mengagumi calon kakak iparmu dengan wajah polosmu itu. Jangan menciptakan ketegangan diantara kita." protes Arsen. Berulang kali ia ingatkan adiknya itu untuk membuang perasaan terhadap Jisoo.


Joon menghela napas.

__ADS_1


"Aku yang lebih dulu mengenalnya dari pada kau kak. Jisoo, kenapa kau lebih memilih kakakku? Dia memang terlihat lebih tampan dan menjadi seorang pemimpin perusahaan diusia muda. Jisoo, kak Arsen memang bosnya tapi pemiliknya adalah aku. Bukankah aku lebih keren? Aku yang memperkerjakan kakak." memainkan sebelah alisnya.


"Besok juga akan 'ku pulangkan kau ke Seoul. Urus semua pekerjaanku disana." tegas Arsen, santai, namun berhasil membuat Joon mati kutu. Pria itu menggerutu.


"Yang ku katakan tidak serius." ujarnya, lalu pergi.


Jisoo hanya tersenyum menggeleng mendengarkan perdebatan antar saudara ini.


"Nuna, Hyung, ayo kita ke tempat acara. Papa mama sudah menunggu." Tae melangkah di depan kedua kakaknya itu.


"Hati-hati melangkah. Rok mu itu memang panjang. Tapi belahannya terlalu tinggi." Kembali Arsen mengingatkan Jisoo tentang pakaian yang dikenakan gadis itu, sama sekali tidak mengena di penglihatan sucinya.


Kau terlalu banyak protes. Kau tidak tahu betapa senangnya aku mengenakan ini. Sesuatu yang hanya bisa aku rancang tapi syukur-syukur aku bisa mengenakannya. Dasar manusia buta fashion.


Saat tampil di tempat acara, banyak mata menatap kagum ke arah pasangan itu. Tatapan kagum tentunya. Ternyata, kabar burung yang beredar benar adanya bahwa Arsen telah memiliki kekasih yang akan dia nikahi.


"Oppa. Banyak gadis yang sedang menatapmu."


"Itu karena mereka sadar bahwa aku tampan. Tapi apa kau lihat tatapan para pria? Rasanya aku ingin mencongkel mata mereka sekarang juga. Mereka menatapmu dengan tatapan penjahat.


"His, Oppa, kau berlebihan."


Keduanya pun membaur. Dengan rasa bangga Arsen memperkenalkan Jisoo sebagai kekasihnya.


Melihat si mama dari kejauhan, Arsen menitipkan kekasihnya itu pada teman-teman wanitanya yang baru saja ia kenalkan.


"Ada apa Sen, kenapa kamu menyeret mama?"


"Apa lagi sih, Sen?"


"Aku ga tau apa maksud mama ngasih dress itu ke pacarku. Aku gak suka dia berpakaian kayak gitu dihadapan banyak orang mah, atas bawah terbuka. Mama mau mancing aku buat nyeret dia ke kamar?"


"Hus! Gila kamu, jangan pura-pura ga suka kamu, dulu papah senang kalau mama berpakaian sexy."


"Itu kan papa. Beda denganku. Untuk acara penikahan, mama gak perlu repot siapin gaun buat dia. Aku ga suka sama selera mama." Pria itu melangkah pergi setelah puas mengatakan yang ingin ia katakan.


"Lihat saja nanti. Kau akan berterima kasih ke mama saat melihat penampilan pengantinmu. Dasar anak gak ngerti fashion." menggerutu sendirian.


"Sayang, berhenti menggerutu." Stefan kembali membawa istrinya, setelah tadi sempat terpisah gara-gara dicegat putra sulung.


"Pah, kenapa anak itu membuat moodku terganggu hari ini?"


Acara inti pun berlangsung tanpa gangguan apapun. Tae Hyung resmi menjadi salah satu penerus keluarga Yoris.


Tak menyangka, ternyata mama dan papa menyelipkan acara pertunangan untuk putra sulungnya. Yang mana, hal itu pun tak diketahui oleh Arsen dan Jisoo.


"Apa boleh buat. Ayo naik. Ikuti saja acara ini." bisik Arsen di telingan Jisoo.

__ADS_1


"Tapi Oppa, bagaimana ini? Aku gugup."


"Ah, lamabat banget si." Arsen menarik gadis itu untuk berdiri bersama kedua orang tuanya di dekat podium.


Dalam hitungan menit, keduanya kini resmi menjadi sepasang tunangan.


Dalam moment itu juga papa Stefan mengumumkan bahwa putra sulungnya akan segera menikah dalam waktu dekat.


.


.


Pesta telah usai.


Kim Jisoo tiba-tiba mendatangi kamar Arsen setelah memastikan tidak ada mata yang melihatnya.


Tanpa mengetuk, Jisoo masuk ke dalam.


"Oppa, Oppaa,"


Ceklek.


Pria itu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya.


"Jisoo? Kau datang ke kamarku? Sudah jadi tunangan, mulai berani ya,"


"Oppa, kenakan pakaianmu. Aku ingin bicara."


"Bicara sekarang."


Jisoo mendekat.


"Oppa. Ayo buat kesepakatan."


"Kesepakatan apa?"


"Kontrak pernikahan." membuka selembar kertas tepat di depan wajah Arsen.


"Apa? Kim Ji Soo, apa kau gila? Tidak melakukan malam pertama? Hanya boleh kissing? Apa-apaan nih?"


"Oppa. Ini untuk kenyamanan kita berdua. Satu bulan saja oppa, aku harus memastikan dulu Oppa benar memang jodohku."


"Baiklah. Ternyata kau memang belum percaya padaku. Tapi, apa boleh aku meminta itu sekarang?"


"Apa itu?"


"Kissing."

__ADS_1


"Oke, boleh."


Kau tidak tau? Malam pertama itu dimulai dari kissing. Kita lihat saja nanti. Sekuat apa kau menolakku.


__ADS_2