Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Dia Nunaku


__ADS_3

Hampir dua minggu sudah, Kim Ji Soo tidak bangun. Selama itu pula Arsen tidak kemana-mana. Hal itu dijadikan alasan oleh Stefan untuk melibatkan Joon untuk belajar bekerja di kantor yang akan menjadi milik anak itu kelak.


"Papah, Malaikat cantik 'kan tidak mati, kenapa kakak terlihat seperti orang berkabung setiap hari? Apa dia lupa dengan pekerjaannya di kantor ini?" keluh Joon, tidak menyukai tugas yang diberikan untuknya. Pemuda itu mulai merasa bosan dengan suasana di kantornya ini.


"Joon, ini kesempatanmu untuk membuktikan bahwa kau mampu seperti kakakmu." jawab Stefan, tenang.


"Tapi aku tidak berminat, Pah. Libatkan si Tae-tae saja. Jangan aku."


"Adikmu masih harus menyelesaikan study, Joon. Lagi pula dia dalam masa pemulihan. Kau tega membuatnya lelah? Jangan dulu libatkan dia. Atau kau mau mama khawatir?"


Hhhhhhh. Joon mendesah pelan. Pekerjaan membosankan ini sangat menyiksanya. Meskipun banyak idol cantik yang berlalu-lalang di seluruh gedung ini, sama sekali tidak memberi semangat untuk pria itu.


"Makan siang, kesayangan mama ..."


Tiba-tiba seorang wanita cantik muncul bersama pangeran bungsunya, mereka tak lain adalah mama Gina dengan Rain, datang ke kantor membawakan makan siang untuk menikmatinya bersama dengan Stefan dan Joon.


"Ahhhh, mamaku sayang, mama memang pengertian. Saat aku sedang bosan mama datang mengunjungiku, aku sangat senang." Joon bangkit dari duduknya dan menyambut Gina dengan pelukan hangat. "Ma ... aku benci mengerjakan semua ini." aduhnya, dengan nada pasrah. Hal itu membuat Rain meng'roll'on bola matanya, malas.


"Hyung, baru satu minggu bekerja, kau sudah terlihat kesakitan dan hampir mati." ejek, Rain.


"Eh, satu minggu kepalamu! ini sudah 10 hari."


"Sudah sudah sudah. Kita mau makan siang bersama. Jangan berkelahi." Mama Gina mulai menata makanan ke atas meja yang ada di ruangan itu. "Sayang, ayolah kesini. Kamu pasti lapar kan," panggilnya pada Stefan.


Keluarga itu pun menikmati makan siang bersama.


.

__ADS_1


.


Di ruang perawatan Jisoo, Arsen dengan setia berada di samping istrinya sambil menggenggam tangan itu dengan lembut.


Ceklek.


Pintu ruangan itu terbuka.


Jimin memasuki ruanga dengan tatapan lurus menatap Kim Jisoo. Sungguh tatapan meresahkan yang mampu membuat Arsen terbakar.


"Ada apa dengan tatapanmu? Apa kau belum sadar juga kalau dia istriku?"


Bocah ini terang-terangan menginginkan istriku.


Jimin hanya membisu sembari mendekat. Sekarang pria itu sudah memiliki bukti bahwa Jisoo adalah kakak perempuannya. Kakak yang sama-sama berasal dari daddy mommy yang sama dengannya.


"Apa? Kau menantangku? Bocah ingusan yang baru lahir kemaren sore, kau semakin berani dan tidak punya rasa malu, ya." Arsen beranjak setelah memberi kecupan di kepala istrinya.


"Ayo kr atap. Membuat keributan disini akan mengganggu istirahan istriku."


Keduanya tiba di atap.


Awalnya merrka saling membisu sebelum akhirnya Jimin mengatakan sesuatu yang membuat Arsen melotot tajam kearahnya.


"Apa? Kau bilang apa?"


Wajah Arsen berubah tegang setelah mendengar perkataan Jimin yang ia yakini bahwa telinganya sedang salah mendengar.

__ADS_1


"Lihatlah, ini, Hyung."


Jimin memperlihatkan bukti DNA antara Mario dan Kim Ji Soo, yang menyatakannbahwa keduanya memiliki hubingan biologis ayah dan anak 99.999%.


"Tidak. Dia Kim Ji Soo, istriku. Dia bukan Given Park." Arsen menolak kenyataan itu secara spontan.


"Tapi itulah kenyataannya, Hyung! Dia itu Given Nuna."


"Park Jimin, kau memiliki Given Park di rumahmu. Apa kau lupa? Kau pikir bisa seenanknya mengubah istriku menjadi orang yang tidak kusukai?" Arsen menghantak tubuh Jimin kearah tembok, mencekalnya disana.


"Hyung! Orang yang kami anggap sebagai Given Nuna selama ini adalah orang yang salah! Saat ini dia sudah mendekam di rumah tahanan. Dia seorang penipu, Hyung!" bentak Jimin dengan suara nyaring.


"Apa?" Air muka Arsen berubah tawar. Ia terhenyak.


"Aku dan daddy diam-diam melakukan tes DNA. Itulah kenyataannya, Hyung." Jimin menangis. Entah apa yang membuatnya sedih saat ini.


Arsen perlahan mengendurkan cekalan tangannya lalu melangkah mundur dengan kakinya yang terlihat bergetar.


"Kau menyesal sekarang? Kau menyesal telah minikahi orang yang salah? Baguslah, Hyung. Segera urus perceraianmu dengan Nuna. Kau tidak perlu merasa bersalah, ada kami yang akan merawatnya." Jimin pergi dari sana, Sementara Arsen terduduk tak berdaya bersandar pada tembok atap rumah sakit itu.


Menggeleng. Arsen kembali menggeleng. Dia Kim Jisoo, istriku. Dia, bukan 'Given'.


"Ya ... dia bukan Given. Dia istriku."


.


.

__ADS_1


__ADS_2