
Setelah lama saling memangut, perlahan saling melepas. Arsen mengakhirinya dengan kecupan singkat di kening gadis itu.
Ya ... berbaliklah. Aku harus melihat wajahmu.
Mama Gina bergumam dari tempatnya.
"Oppa, kau, ke-na-pa-"
"Sssuuuut! Jangan katakan apapun. Jangan tanya apapun."
Pria bertopi yang mengenakan jumper hitam itu meletakkan ujung jari telunjuknya di depan bibir Jisoo yang sedang berbicara, membuat gadis itu tak bisa berkata apa-apa.
"Kembalilah ke rumah sakit, Oppa, kau itu pasien." Jisoo kembali duduk untuk melanjutkan makan makan tengah malamnya.
"Aku hampir gila saat mengetahui kau menghilang dari lantai 11. Rupanya kau sedang asik makan, hmmm?"
Pria itu berbalik, mengambil tempat untuk duduk berhadapan dengan Jisoo.
Ar-Ar-Ar...sen?
Kedua netra mama Gina kembali membulat sempurna, spontan ia bekap mulutnya sendiri, terduduk di tangga.
Mengetahui pria itu adalah putranya sendiri, membuat mama menggeleng tak percaya.
Jangan bilang dia kabur dari rumah sakit karena merindukan gadis itu.
Aku tidak menyangka akan dibuat shock terapi ditengah malam begini oleh kegilaan putraku sendiri.
Mama Gina memijat kepalanya yang terasa pusing.
Sepertinya segera menikahkan merekan mereka adalah langkah yang sangat tepat.
Merasa agak mendingan, mama Gina kembali ke kamar.
Kim Ji Soo memang mengatakan tidak menyukai putraku. Tapi kalau hal semacam itu terus terulang, tembok pertahanan gadis itu pasti akan runtuh. Aku sangat yakin. Dia tidak akan mampu menolak pesona Arsen, anak kurang ajar itu.
Kembali ke ruang makan.
"Oppa! Aku harap kau bisa bekerja sama."
"Ya? Maksudnya?" Pria tampan dihadapannya itu mengeryitkan dahi, bertanya.
"Aku sudah menyetujui untuk menikah denganmu."
Uhukk.
Makanan yang baru saja ditelan oleh Arsen tersangkut di tenggorokan, akibat keselek mendengar hal mustahil itu.
Jisoo mendekatkan air mineral kearahnya.
"Santai saja Oppa, kau pasti kaget, kan? Tenang saja, aku tidak akan jadi istri yang akan menyusahkanmu."
"Jisoo, kau serius akan melakukannya?"
"Ya, tentu saja. Katamu, demi adik kita. Ayo lakukan itu agar dia bisa tinggal dengan orang tuamu tanpa memikirkanku lagi."
Jadi kau mau menikah denganku hanya demi bayi besar itu? Baiklah Kim Jisoo, mari kita lihat rumah tangga macam apa yang akan kita bangun, yang terpenting, kau dan aku menikah.
Sementara di tempat lain, disebuah kamar hotel berbintang lima.
__ADS_1
Terlihat sepasang anak muda sedang bercumbu di atas ranjang berdominasi warna putih.
"Cukup, Oppa,"
Si gadis mendorong tubuh prianya perlahan.
"Kenapa Areum? Bukankah kau sudah siap?"
Gadis itu menggeleng.
"Ini tidak benar. Aku ... tidak bisa melakukannya."
Arim menyingkir dari kasur empuk itu, memakai kembali pakaiannya.
"Silahkan kau cari pelampiasan lain."
"Tunggu Areum,"
Suga bergegas memakai pakaiannya juga, menyusul kekasihnya yang baru dikencani beberapa hari namun sudah memberanikan diri mengajak gadis itu untuk enak-enak.
"A Reum, tunggu, aku akan mengantarmu pulang."
Di dalam mobil.
"Kenapa kau jadi berubah pikiran?" tanya Suga, memecah keheningan.
Terdengar hembusan napas berat gadis itu.
"Aku baru teringat. Aku belum diangkat sebagai karyawati tetap di perusahaan tempatku bekerja."
"Lalu, apa hubungannya dengan kita melakukan itu?"
"Kita akan lakukan dengan hati-hati A Reum, supaya tidak menimbulkan masalah yang kau takutkan,"
Suga masih saja mencoba membujuk A Reum. Bagaimanapun, hiu kecilnya sudah stay on dan itu gagal dilakukan, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
"Tidak bisa Oppa, dengan alasan apapun, aku tidak siap. Aku takut gagal dalam pekerjaanku dan membuat hidupku hancur. Aku sudah janji dengan ayah dan ibu, agar aku bisa jaga diri. Kami harus menyisihkan 80% gaji untuk dikirim ke kampung. membantu ayah dan ibuku membeli sebidang tanah agar bisa punya lahan pertanian milik sendiri."
Mendengar pengakuan A Reum, membuat Suga berubah terharu. Ia tidak menyangka dirinya hampir saja mengacaukan kehidupan seorang gadis yang sangat berbakti pada orang tua.
"Baiklah, maafkan aku A Reum."
"Jadi, apa Oppa akan menyerah? Kalau Oppa berubah pikiran, Oppa boleh mengakhiri hubungan kita. Aku, tidak apa-apa."
Suga terdiam.
"Kita lihat saja nanti." ujarnya, datar.
Tiba di apartemen kecilnya, A Reum segera membersihkan diri.
Saat masuk ke kamar, ia tercekat melihat keadaan adik kembarnya, Arim, yang sedang menangis. Tisu berhamburan dimana-mana.
"A Rim, kau kenapa?"
"A Reum ... aku sangat sedih," memeluk kakak kembarnya.
"Iya, kau tidak perlu mengatakannya. Melihat semua ini, aku sudah tahu kau sedang sedih."
Memeluk adik kembarnya itu dengan kelembutan kasih sayang.
__ADS_1
"A Reum. Aku kecewa dengan ibu dan ayahnya J-Hope Oppa. Mereka menghina ayah dan ibu kita yang hanya seorang petani."
"Apa? Hah, kurang ajar! Kau hanya jadi kekasih sandiwara, tapi kenapa malah mendapatkan penghinaan?"
A Rim menggeleng.
"Yasudah, lupakan itu dan tidurlah. Seharusnya, kalau hanya berpura-pura jadi kekasih, kau tidak perlu mengungkapkan yang sebenarnya tentang orangtua kita. Banyak profesi lainnya yang bisa kau sebutkan."
.
.
Pagi harinya,
Diruang makan.
Hanya ada keheningan. Jisoo merasa gerak gerik ibu dari pria yang akan dinikahinya itu, sedikit aneh.
"Nyonya, apa ... ada yang mengganggumu?"
"Yah? Oh, tidak ada Jisoo, santai saja. Habiskan sarapanmu."
Jisoo mengangguk pelan.
"Nyonya, apa anda sungguh bisa menerimaku sebagai menantu?"
Degg.
Pertanyaan yang tak pernah Gina sangka akan ia dengar kini ditanyakan oleh gadis itu sendiri.
"Ada apa denganmu? Perranyaan macam apa itu, hmm?"
"Aku tidak punya keluarga. Aku tidak ingat rasanya kasih sayang orang tua. Kalau aku benar-benar akan menjadi menantu anda, apa ... aku akan diterima dengan tulus? Emmm, aku ... hanya ingin tahu, sebatas apa aku harus bersikap. Memikirkan akan menikahi seorang pria dari keluarga yang luar biasa, membuatku gugup. Aku ... merasa sedikit takut,"
Gadis itu menunduk menatap sarapan yang belum ia sentuh.
Mendengar penuturan isi hati Jisoo, mama Gina hanya tersenyum tulus.
"Kim Jisoo, sini tanganmu."
Mama Gina memberi sentuhan lembut pada kedua tangan gadis itu.
"Saat aku akan menikah dengan papa Arsen, aku ... juga berpikiran sama denganmu. Dan kau tahu apa yang aku dapatkan? Aku, sangat sangat sangat bahagia. Seluruh keluarga menyambutku karena dicintai papa Arsen."
Jisoo tersenyum getir.
"Tapi ... ini berbeda Nyonya, anakmu ... belum tentu mencintai aku."
Cssshhh, gadis polos ini, lalu kau anggap apa suasana romantis yang terjadi tadi malam? Apa itu tidak cukup sebagai alasan merasa dicintai oleh pria tampan yang telah aku lahirkan itu?
.
.
Oke guysss.
Jangan lupa Vote, komen, like, dan hadiahnya ya...
Makasih guyss.
__ADS_1