Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Anggap Dia, Ji Soo


__ADS_3

Di ruang rawat Jisoo, yang kini telah diketahui sebagai Given Park. Mario masuk ke dalam ruangan itu dengan perasaan campur aduk.


"Given, daddy datang melihatmu," Ia ambil jemari putrinya itu, menyentuhnya untuk pertama kali.


"Maafkan daddy sayang ... daddy tidak mengenalmu sejak awal."


Mario meletakkan tangan mulus itu ke wajahnya. "Seperti ini kan? Kamu sering menyentuh wajah daddy seperti ini saat kamu bocah,"


"Given, bangunlah Nak, bangun dan sembuhlah. Daddy sangat merindukanmu,, sayang!"


Mario terus berbicara dengan Given yang belum membuka mata.


Pria setengah baya itu menangis terisak dan tidak melepas jemari itu dari genggamannya. Sampai akhirnya, ia merasakan jari-jari itu bergerak.


Given perlahan membuka mata. Mungkin ini memang sudah waktunya ataukah karena kuatnya ikatan batin seorang anak dan ayah.


"Dimana aku?"


Deg.


Mario menghentikan isak tangisnya. Suara Given yang sangat pelan ternyata berhasil masuk kedalam pendengaran pria itu.


"Kamu sudah bangun, Nak?" Mario berusaha tersenyum.


"Pak Mario? Saya ... dimana?" Given menggulir gerakkan matanya.


"Given, kamu sedang berada di rumah sakit, Nak."


"Given?" Gadis itu terlihat bingung. Benarkah Mario Park sedang menyebut nama kecilnya.


"Ya ... kamu adalah Given. Given Park. Putriku," Mario menyentuh wajah putrinya itu.


Meski sedang menahan rasa sakit, Given tersenyum simpul, lalu menoleh ke arah lain. "Itu tidak mungkin. Saya tidak mungkin putri anda, Pak."


Ceklek.


Pintu terbuka dan masuklah Jimin beserta mommy.


"Nuna! Nuna, Nuna sudah bangun?"


"Given-ku, Given-ku! Anak mommy, sayang, ini mommy. Mommy kamu,"


Jenni menangis dan mendekap putrinya itu.


"Mommy? Mommy?"


Jenni mengangguk. "Ya ... ini mommy, sayang. Dimana yang sakit, Nak? Yang mana sakit? Biar Mommy tiup."


Given menggeleng lalu berkata dengan suara yang sangat pelan. "Kata siapa, saya ini Given yang kalian maksud? Itu belum tentu benar."


"Nuna, kau tidak bisa mengelak. Tulisan ini tidak mungkin berbohong. Nuna, apa ini dirimu?"

__ADS_1


Jimin lalu mengeluarkan selembar kertas keterangan DNA dan foto jadul dari dalam sakunya.


"Bayi laki-laki itu adalah aku. Anak perempuan itu adalah nuna-ku."


Given memperhatikan foto itu lekat. Benar sekali, gadis kecil itu adalah dirinya.


Jadi benar, aku adalah bagian dari mereka? Ternyata benar yang dikatakan paman yang malam itu, aku adalah Given Park.


Given akhirnya menitikkan air mata. "Jadi ini benar? Apa ini bukan mimpi?"


Ketiga orang di hadapannya itu menangguk.


"Mom, Dad," Given terlihat ingin mengubah posisinya untuk duduk.


Sementara di posisi lain, Arsen berjalan menuruni tangga darurat setelah menghabiskan puluhan menit di atap.


Dia tidak perlu berubah menjadi Given. Dia tetap Kim JiSoo, istriku. Aku tidak akan membiarkan dia menjadi orang lain.


Arsen melangkah hendak masuk ke dalam ruangan. Namun, pria itu terhenti saat kini matanya menyaksikan keharuan yang tengah menguasai ruangan dimana istrinya ini berada.


Dia sudah bangun dan kini sedang bertangisan saling memeluk dengan keluarga Park.


Awalnya, Arsen yakin bahwa istrinya itu belum tentu Given Park. Tapi saat ini, melihat istrinya yang terlihat begitu nyaman dalam pelukan ketiga orang itu membuatnya tidak bisa lagi menyangkal.


Jadi, dia benar-benar orang itu? Lalu apa yang harus aku lakukan? Kenapa saat ini aku melihatnya seperti bukan dia? Kemana Kim Ji Soo-ku?


Arsen memutuskan untuk pergi dari sana. Pergi tanpa menyapa istrinya terlebih dahulu.


Setelah beberapa saat, Given sepertinya tersadar akan sesuatu. Perlahan ia jauhkan tubunya dari dekapan daddy, daddy yang memeluknya paling lama.


"Dimana dia? Dimana Oppa? Dimana suami aku, Mom, Dad?"


"Siapa yang kamu maksud sayang? Arsen?"


Apa oppa sedang pergi merawat wanita tercintanya?


"Nuna, suami-mu sangat terkejut dengan kenyataan bahwa istrinya adalah Given Park. Mungkin dia sedang menenangkan diri di suatu tempat." celetuk Jimin.


.


.


Apartemen Arsen.


Mama Gina pulang dari kantor seorang diri tanpa babby Tae, setelah Joon ngotot menahan adiknya itu untuk bekerja. Saat melihat kamar Arsen sedikit terbuka, Gina memutuskan untuk mengeceknya.


Ternyata, si sulung tampan itu berada didalam duduk termenung disisi ranjang. wajahnya terlihat sanga lelah.


"Sen, kamu disini sayang? Gimana menantu mama?"


Arsen tidak menjawab dengan segera. Dari reaksinya, ia tidak tertarik untuk menanggapi mama.

__ADS_1


"Hei, ada apa? Ayo cerita, kenapa kamu?"


Terdegar elahan napas berat pria itu.


"Ya sudah, mungkin kamu capek, istirahatlah, mama sama adik-adikmu akan menjenguk Jisoo. Tetap semangat ya sayang, istri tercintamu itu pasti akan sembuh."


"Dia, bukan Kim Jisoo, Mah,"


Perkataan ambigu putranya membuat langkah kaki Gina terhenti saat hendak keluar dari kamar Arsen.


"Apa ... maksudmu, Sen?"


"Arsen yang sedang duduk di sisi ranjangnya dengan muka datar, menoleh kearah mama. "Dia ... Given Park, Mah. Wanita itu, ternyata ... Given." ucapnya, dengan tatapan datar, tak berekspresi.


"Given? Apa maksudmu? wanita mana yang Given Park?" tanya mama, masih bingung.


"Orang itu, orang yang telah aku nikahi. Ternyata dia Given Park." Arsen mengalihkan pandangan kearah lain. Sementara Gina, terkesiap ditempatnya.


"Apa? Bagaimana mungkin?"


Mama lalu mendekat dengan langkah tergesa.


"Istri kamu? Menantu mama? Dia, Given? Tidak mungkin, Sen. Bukankah ... ah, tidak."


"Mama juga pasti tidak percaya kan? Itu kenyataan Mah," Arsen tertunduk.


Sikap aneh Arsen sangat menghawatirkan. Mama mulai memikirkan yang tidak-tidak. Wanita itu menyentuh kedua sisi wajah putranya.


"Sen, lihat mama."


Arsen mengangkat wajahnya perlahan. Masih dengan tatapan kecewa.


"Sayang, lalu memangnya kenapa kalau dia Given? Itu tidak masalah. Dia tetap istri kamu. Kamu sudah menikah dengannya. Ingat itu Nak." mama berbicara pelan, sangat perlahan.


Air muka Arsen berubah sedih. Mama melihat ada cairan yang keluar dari kelopak mata putranya itu.


"Tapi aku mencintai Kim Ji Soo, Mah. Aku tidak menyukai Given." ucap pria itu, sambil menahan tangisnya.


Mama menggeleng.


Kim Jisoo dan Given adalah orang yang sama, sayang. Kalau kamu cinta Kim Ji Soo, kamu juga pasti bisa cintai Given. Arsen, sadarlah sayang. Jangan bersikap begini. Kamu adalah seorang suami. Istrimu bahkan sedang sekarat."


Mama memeluk putranya. Keduanya menangis bersama. Arsen menangis karena kecewa akan kenyataan dan berusaha menolaknya, sementara mama, menangis karena khawatir akan sikap putranya. Ia menghawatirkan nasib pernikahan Arsen yang baru beberapa hari.


"Aku tidak bisa menganggapnya sebagai Given, Mah." Sambung pria itu lagi dalam tangisnya.


Mama terus mendekapnya dan dengan pelan berkata : "Kalau begitu, anggap saja dia Kim Ji Soo, sayang. Kamu tidak harus melihatnya sebagai Given."


.


.

__ADS_1


See you guysss...


🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2