Malam Pertama 100 Juta Won

Malam Pertama 100 Juta Won
Saranghe!


__ADS_3

Di kantor polisi setempat.


Mario beserta sang istri tiba di kantor polisi.


Su Mi, si Given palsu dan ibunya, tertunduk, tak berani menatap.


Telah selesai diinterogasi oleh polisi, kini keduanya harus berhadapan dengan Jenni dan Mario Park.


"Kau, siapa? Apa kau memgenalku?"


Given palsu dan ibunya terus tertunduk, membisu.


"Dimana putriku?"


Degg,


"Putriku yang telah kau tukar, berada dimana dia?"


Apa Mario sedang marah? Tentu saja. Bahkan saat ini dirinya sangat ingin mengamuk. Namun, rasanya tidak etis ia memperlihatkan amukannya terhadap dua wanita kurang ajar di hadapannya ini, lagipula keberadaannya saat ini di kantor polisi.


"Tuan, Nyonya, maafkan aku. Maafkan aku. Aku yang salah. Kumohon bebaskan putriku. Aku yang melibatkannya. Putriku tidaklah bersalah. Mohon maafkan dan lepaskan dia." lirih wanita setengah baya itu, tersungkur di dekat pijakan kaki Mario.


"Aku sedang menanyakan keberadaan putriku, kau malah memohon ampun untuk melepas putrimu? Aku tidak semudah itu mengampuni orang." tegas Mario, dengan nada berat.


"Bagaimana rasanya berhasil menipu kami selama bertahun-tahun? Apa kalian berdua bernapas dengan tenang setiap hari?" akhirnya Jenni ikut bicara.


"Maafkan putriku Nyonya, ampuni dia, tolong hukum aku saja." wanita itu terus menangis dan memohon pengampunan untuk putrinya.


"Dimana Given yang sebenarnya? Kau pasti tahu kan? Apa dia berada di suatu tempat?" Mario terus mendesak ingin segera mengetahui keberadaan Given.


"Aku tidak taku Tuan, aku tidak tahu keberadaannya."


"Lalu kau dapat dari mana kalung itu? Kenapa putrimu muncul bersama kalung itu? Hah?"


"Seseorang menjual kalung itu padaku."


.


.


Di posisi lain,


Setelah melewati drama tawar menawar dengan mama Gina, akhirnya Arsen diperbolehkan kembali ke Seoul bersama Jisoo.


Berat bagi mama untuk segera terpisah dari keduanya, namun putranya ngotot untuk segera pergi dengan berbagai alasan.


"Jangan lupa, ajak Jisoo berbulan madu, Sen."


"Iya, Mah. Tenang aja." jawab Arsen, singkat.


"Jisoo, kamu punya ibu sekarang. Anggap saja kami berdua adalah ayah dan ibu kamu, jangan takut untuk mengadu kalau Arsen menyakitimu, oke,"


"Oke, Mah, Pah, terima kasih."


Stefan dan Gina melepas kepergian pengantin baru itu ke bandara, diantar oleh Joon serta Rain.


Di bandara Soekarno Hatta.

__ADS_1


"Nuna, hiduplah bahagia dengan hyung. Ingat, aku memantau kalian berdua." Rain memeluk kakak perempuannya dengan sayang.


"Malaikat cantik, bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kali?" Joon mulai berulah.


Jisoo tak peduli akan kening mengkerut suaminya, ia mendekati Joon untuk berpelukan.


"Joon, jaga adik kita dengan baik dan kau juga, jaga dirimu dengan baik."


"Siap. Terima kasih Malaikat cantik, kau sudah menjaga dan membesarkan adikku. Ingat, kalau kakak menyakitimu, akan selalu ada aku yang menunggumu. Okey,"


"Sudah. Jangan terlalu lama. Orang-orang akan bingung, sebenarnya dia ini istri siapa," Arsen mulai mengingatkan.


"Baiklah kak, ku pinjamkan malaikatku untukmu. Jangan menyakitinya."


"Adik menyebalkan, kalian berdua pulanglah. Kami berdua akan pergi. Jangan bandel, jadilah anak kesayangan mama yang penurut."


Kedua adiknya itu mengangguk patuh, mereka pun berpisah. Saat sudah berjarak cukup jauh dari kedua adiknya, Arsen menoleh lagi ke belakang. Dua pria itu masih melambaikan tangan. Arsen tersenyum ke arah keduanya dengan perasaan legah.


Jisoo memeluk tangan suaminya, berjalan memasuki pesawat. Arsen melirik sekilas istrinya itu, mereka saling melempar senyuman canggung.


5 jam kemudian mereka tiba di bandara Incheon, saat waktu sudah sore hari.


Drrrt, drrrt, drrrrrt.


Jem memanggil.


[Iya, Jem.]


[Apa kalian sudah tiba?]


[Syukurlah. Aku menunggumu di kantor. Ada dokumen penting yang harus kau tandatangani.]


Arsen menghela napas.


[Hariskah sekarang juga?]


[Iya,] Jem membenarkan.


[Baik, tunggulah. Akan kuantar istriku ke apartemen sebentar.]


Panggilan berakhir.


Di dalam mobil.


"Oppa, kenapa jadinya langsung bekerja?"


"Sayang, ini mendesak. Tapi aku tidak akan lama, oke,"


Di apartemen. Jisoo langsung merebahkan diri di atas sofa, sementara Arsen bersiap untuk ke kantor, memenuhi panggilan Jem yang cukup mengganggu waktunya.


"Sayang, aku pergi sebentar, ya, kau berani kan tinggal sendirian,"


Jisoo menagguk lalu merentang kedua tangan dalam posisi berbaring. "Kiss me dulu Oppa,"


Arsen tersenyum dan mendekat.


CUP,

__ADS_1


memberi kecupan pada dahi istrinya.


"Oppa ... kiss-nya yang biasa. Disini." menunjuk bibirnya sendiri.


"Wah... mulai berani nantang ya,"


Tanpa berlama-lama, ci*uman pun terjadi.


"Sayang, kau membuatku tidak ingin pergi. Apa yang harus aku lakukan?" bisik Arsen setelah menyudahinya.


"Kalau begitu, ayo lakukan, Oppa."


Arsen menyeringai lebar. "Nanti malam saja. Beristirahatlah dulu, kau harus punya banyak tenanga untuk malam pertama kita, heum?"


"Oke Oppa, sampai ketemu nanti malam."


Arsen kembali beranjak dari posisinya, kemudian benar-benar pergi.


"Oppa, tunggu!" Jisoo berlari kearahnya dan memeluk pria itu dari belakang.


"Sayang, ada apa denganmu? Kau tidak seperti biasanya."


"Oppa, biarkan aku memelukmu sebentar. Oppa, Saranghe,"


Aku merinding mendengarnya. Jadi makin sayang.


.


.


PRANKKKK.


Sebuah botol terpental di tembok sebuah ruangan, yang seketika berubah menjadi pecahan beling.


"Sial! Kenapa mereka ketahuan?" umpat seorang pria.


Baiklah Mario Park, kau telah menjebloskan istri dan putriku ke penjara. Terpaksa aku harus melibatkan putrimu juga. Bersiaplah!


Ia keluar dari sarangnya, mengenakan topi dan masker serba hitam.


.


.


.


Guys...


Tap tap tap jempol kalian yuk, tekan like, komen dan vote🤭.


Makasih guysss😁


Thor! Ko blum tamat juga?


Yeah! Mungkin dalam sepekan ini belum tamat. 🤣


Tetap sehat yah guys...

__ADS_1


__ADS_2