Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Terbongkar


__ADS_3

"Tring ...."


Suara notifikasi dari akun media sosial yang Athi ikuti. Dengan segera, Athi melihat dan memperhatikan flyer yang tertera di sana.


"Hah!" gumam Athi yang mendadak terkejut, karena melihat notifikasi tersebut tentang promo make up yang ia incar sejak lama.


Matanya seketika berbinar, saking senangnya melihat notifikasi yang membangkitkan semangatnya itu.


"Hampir aja lupa! Ada make up diskonan bulanan malam ini. Batas sampai jam 10 malam!" gumam Athi dengan sangat bersemangat.


Athi segera menoleh ke arah jam dinding, "Hah! Udah jam 8! Harus buru-buru kalau gak mau kehabisan diskonan!" teriak Athi dengan sangat panik, lalu segera berlarian memakai jaketnya.


Athi berlarian keluar kamarnya, hingga mengabaikan ibu dan kakaknya, Zenith, yang sedang berbincang hangat di sofa ruang tamunya.


"Cepetan!" teriak Athi yang gemas dengan dirinya sendiri yang tidak bisa bertindak cepat.


Zenith atau yang lebih akrab disapa Zeti, memandang heran ke arah adiknya yang berlarian keluar rumah tanpa menghiraukan dirinya dan juga ibunya.


Zeti memandang ke arahnya dengan pandangan kesal, "Athi, mau ke mana?" pekik Zeti, namun Athi tak menghiraukannya, dan malah bergegas lari keluar rumahnya.


Hal itu cukup membuat Zeti semakin kesal karenanya.


"Duh ... itu anak mau ke mana, sih?" gumam Zeti yang khawatir dengan keadaan Athi.


"Biar aja, dia kan sudah besar. Kamu jangan terlalu mengekang dia seperti itu, Zet," tegur ibunya, yang kali ini berpihak pada Athi.


Mendengar perkataan itu dari mulu ibunya, Zeti pun merendah, tidak berani membantah ucapan ibunya. Zeti sangat menurut dengan perkataan ibunya, berbeda dengan Athi yang terkadang masih sering membantah ibunya karena sikapnya yang sangat keras itu.


Athi pun berlarian dengan sangat cepat, menurut versi dirinya, untuk menuju ke ujung jalan ini yang sangat jauh jika berjalan kaki.


Ia berlarian, tak memedulikan keadaan sekelilingnya. Dengan panik, Athi pun melirik ke arah jam tangan yang ada di tangan kirinya dengan cepat.


"Brukk ...."


Athi menabrak seseorang, sampai orang itu sedikit terdorong karena terkena tolakan dari tubuh Athi.

__ADS_1


"Lihat-lihat dong!" bentak orang tersebut, namun Athi tidak memedulikan bentakannya, dan malah terus berlari menjauh dari keramaian.


Suasana di kota ini sudah sangat ramai, ditambah lagi dengan diskonan yang kebanyakan anak gadis sukai, semakin menambah hiruk-pikuk keadaan kota ini.


Athi menerobos masuk ke dalam kerumunan, karena perawakannya yang tidak terlalu besar, membuatnya semakin mudah untuk masuk menyelinap ke dalam keramaian.


"Permisi," gumam Athi, yang masih tetap berusaha melewati keramaian itu.


Dengan perjuangan yang sangat sulit, ia pun akhirnya bisa melihat banner diskon besar-besaran make up yang ia incar.


Matanya berbinar, tidak menyangka kalau dirinya akan bisa sampai di tempat ini dengan sangat cepat, dan yang paling penting toko make up ini belum tutup, sehingga membuat Athi semakin girang jadinya.


"Akhirnya aku sampai di sini!" gumam Athi dengan sangat bersemangat.


Athi pun melihat-lihat sisa barang yang ada, kemudian membeli beberapa item yang Athi butuhkan, karena miliknya yang sudah habis.


Athi menyodorkan beberapa lembar uang ke kasir, dan menerima bingkisan barang yang sudah ia pilih.


"Terima kasih," gumam Athi, yang lalu dengan segera meninggalkan hiruk-pikuk keramaian kota.


Athi pun bergegas kembali pulang ke rumahnya, untuk segera mencoba make up yang ia beli.


"Athanasia!" pekik seseorang dari arah belakangnya, membuat dirinya terkejut, karena yang memanggil namanya adalah Azekeil.


"Hah!" gumam Athi dengan sangat terkejut melihat Azekeil yang sudah ada di hadapannya saat ini.


Azekeil pun berdiri di hadapan Athi sembari menghela napasnya, karena merasa napasnya yang tersengal, akibat berlarian menuju ke arahnya.


"Athi, kan?" tanya Azekeil, membuat Athi menatapnya dengan tatapan seperti orang yang sedang panik.


'Apa-apaan ini?' pikir Athi yang terkejut dengan kedatangan Azekeil, ditambah lagi Keil yang memanggilnya dengan nama lengkapnya, membuat Athi semakin panik dibuatnya.


"Bu-bukan! Nama aku, A-Ani!" jawab Athi dengan gugup, membuat Keil memandangnya dengan pandangan heran.


"Ani? Jangan ngarang, deh! Kamu Athi, kan?" tanya Keil, semakin memojokkannya.

__ADS_1


"Apa sih, aku Ani!" bentak Athi, membuat Keil memandangnya dengan tatapan datar.


Keil dengan cepat mengambil telepon genggamnya, lalu menelepon nomor telepon Athi untuk memastikan kebenarannya.


Athi memandangnya dengan heran, tak paham dengan yang Keil lakukan itu.


"Dringg ...."


Telepon Athi mendadak berdering, membuat Athi melongo kaget dibuatnya.


Keil menyodorkan ponselnya ke arah Athi, "Benar kan, kamu Athanasia!" gumam Keil, membuat Athi mendelik panik melihatnya.


"OMG!!" teriak Athi dengan sangat panik, membuat Keil memandangnya dengan pandangan yang heran.


Awalnya Athi berpikir kalau Azekeil tidak akan pernah menyadari, kalau dirinya itu adalah Athi yang asli, yang tidak seperti Azekeil lihat di sekolah. Namun, saat ini Azekeil sudah mengetahuinya, dan Athi sudah tidak bisa lagi mengelak dari yang Keil tuduhkan.


'Bagaimana ini?!' batin Athi yang masih merasakan panik.


"Aku cuma mau kembalikan buku catatan kamu yang tertinggal di klub kemarin," gumam Keil, sembari menyodorkan buku tersebut ke hadapan Athi, membuat Athi mendelik dan dengan cepat mengambil buku itu dari tangan Keil.


Athi sangat tidak menginginkan Keil mengetahui identitas aslinya. Namun, kini nasi sudah menjadi bubur. Keil sudah tahu kebenarannya, membuat Athi justru semakin panik dan bingung harus berbuat apa lagi untuk menghalau pemikiran Keil padanya.


Terpikir sesuatu di benak Athi, 'Aku harus cepat pergi dari sini!' batin Athi yang sudah merasa panik dengan keadaan yang ia hadapi saat ini.


Dengan perasaan takut, akhirnya Athi mendelik, "Tolong! Ada orang mesum di sini!" teriak Athi yang memfitnah Azekeil di hadapan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar tempatnya berbelanja, membuat Keil mendelik tak percaya dengan apa yang Athi lakukan.


"Hey, apa maksud kamu--"


Belum sempat Keil menyelesaikan ucapannya, Athi pun sudah berhasil melarikan diri dari Azekeil, membuat pandangan orang-orang yang berlalu-lalang menjadi tertuju padanya saat ini.


Keil memandang mereka dengan pandangan yang tidak enak, "Enggak, bukan itu maksudnya," gumam Keil yang merasa tidak enak dengan pandangan mereka yang sudah salah sangka terhadapnya.


Pandangan mereka pun sinis, dan ditujukan pada Keil, sehingga membuat Keil menjadi mati gaya dibuatnya. Para ibu yang sedang melintas dengan membawa gadis kecilnya, segera menjaga ketat anak-anaknya dari hadapan Keil, membuat Keil menghela napas panjang karenanya.


"Gadis bodoh!" gumam Keil dengan perasaan kesal yang melanda dirinya, membuatnya segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2