
“Kakakmu itu, punya pacar gak?” tanya Arghi dengan sangat merona, membuat Athi seketika menatapnya dengan tatapan datar dan terkejut.
‘What the ...,’ batin Athi yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Athi bangkit dari tempat duduknya, “Kakak saya?!” tanya Athi dengan nada yang sangat terkejut, membuat Arghi mengusap tengkuk lehernya.
“Iya. Wanita anggun yang datang ke sekolah waktu itu ... kakak kamu, kan?” tanya Arghi, membuat Athi berpikir tentang Zeti yang tadi siang mengantarkan makanan untuknya.
Mendengar hal itu, Athi pun menjadi murung karenanya, “Ah, iya,” jawab Athi dengan nada yang sangat kecewa.
Sudah diterbangkan dengan sangat tinggi, kemudian dijatuhkan sejatuh-jatuhnya.
...***...
Athi yang kesal dengan dirinya sendiri pun segera pulang ke rumahnya. Dengan sangat kesal, ia menenggelamkan dirinya pada selimutnya, dan menendang-nendang selimut itu, saking kesalnya ia.
‘Aku malu!’ batin Athi yang sudah sangat bodoh dengan berpikiran yang tidak-tidak dengan gurunya itu.
Padahal yang dimaksud Arghi adalah kakaknya, tetapi Athi malah salah sangka dengan sikap dan perlakuan manis Arghi terhadap dirinya itu.
Mendengar suara yang sangat bising, Zeti segera memeriksa ke dalam kamar adiknya itu.
“Heh Athi, ada apa sih?” tanya Zeti yang sangat bingungan dengan kelakuan adiknya di malam yang sudah selarut ini.
Mendengar Zeti yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, membuat Athi segera melepaskan selimut yang mengurung dirinya di dalamnya, dan memperlihatkan wajah kesal penuh air mata ke arah Zeti.
Melihat adiknya yang sepertinya tidak beres, Zeti pun hanya memandang datar ke arah Athi. Athi pun bangkit untuk menyamai tinggi Zeti.
“Hei, kenapa kamu?” tanya Zeti dengan tatapan yang datar, karena ia sama sekali tidak mengerti dengan tatapan aneh yang Athi lontarkan ke arahnya.
“Kak, guru di sekolahku ada yang tertarik sama kakak. Dia minta aku kenalin sama kakak. Dia ganteng banget, lho! Gimana, mau coba ketemu, gak?” ujar Athi yang masih berlumuran air mata.
Zeti semakin heran dibuatnya, “Hah? Siapa? Kok tiba-tiba begitu? Kapan dia ngelihat kakak?” tanya Zeti, membuat Athi meringkuk dan membenamkan wajahnya pada bantal yang ia pegang.
“Duh ... aku gak tahu, ah! Pokoknya dia lihat Kakak. Gimana, mau ketemu, gak?” tanya Athi yang masih saja kesal mengingat adegan di kafe tadi.
‘Cowok, ya?’ batin Zeti yang sangat senang mendengarnya.
“Yah ... boleh-boleh aja, sih,” ujar Zeti yang berusaha bersikap senatural mungkin.
__ADS_1
Ia tidak ingin sampai Athi melihatnya dengan mode yang berbeda, dari yang biasanya Zeti tunjukkan pada Athi.
Athi melepaskan wajahnya dari bantal yang membekapnya, “Ini nomornya,” ujar Athi, sembari menyodorkan handphone-nya ke arah Zeti.
...***...
Siang itu di hari Sabtu, Zeti pun sampai pada suatu kafe yang telah dijanjikan dengan guru Athi. Ia sudah berdandan sangat cantik, layaknya wanita anggun lainnya.
Wanita anggun yang menggunakan sexdress berwarna merah menggoda, rambut sebahu yang memberikan kesan dewasa, berjalan dengan anggun sembari mencari keberadaan Arghi.
"Dia di mana, ya?" gumam Zeti yang sangat menantikan pertemuan ini dengannya.
Zeti tak sengaja melihat seseorang yang sepertinya ia kenal. Ia melihat handphone-nya dan memastikan orang yang ingin ia temui.
Zeti melihat ke arahnya, kemudian ke arah foto profil dari akun chat guru yang ingin ia temui.
"Mirip, apa jangan-jangan dia?" gumam Zeti yang penasaran dengan sosok tampan mengenakan kacamata itu, yang sedang duduk di ujung sana.
"Hmm ... guru matematika, ya?" gumam Zeti yang sedikit tertarik dengan keahlian Arghi.
Zeti dengan persiapan yang matang, melangkah menghampiri pria tampan yang duduk sendirian di sana.
"Halo, yap. Saya guru Athanasia. Silakan duduk," ujar Arghi, membuat Zeti duduk di hadapannya.
Mereka pun saling melempar pandang.
"Siapa namamu?" tanya Arghi, membuat Zeti tersenyum malu dibuatnya.
"Nama saya Zenith," jawab Zeti.
"Wah, nama yang bagus. Perkenalkan, nama saya Arghi," ujar Arghi yang mampu membuat Zenith terpesona pandangan pertama dengannya.
Walaupun Zenith terpesona dengan sosok maskulin di hadapannya, ia tetap harus menjaga sikap. Jangan sampai kesan pertama berakhir dengan kegagalan.
'Memang ya, guru itu sangat menjaga tata krama,' batin Zeti yang sangat senang dengan sikap Arghi.
"Permisi, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan, yang tiba-tiba saja datang entah dari mana.
"Kamu mau pesan apa, Zen?" tanya Arghi, membuat Zenith menjadi kebingungan sendiri dibuatnya.
__ADS_1
"Emm ... aku pesan roti bakar cokelat aja deh," jawab Zenith.
"Kalau gitu, saya pesan spaghetti aja," ujar Arghi, membuat pelayan itu mengangguk kemudian pergi dari hadapannya.
Zenith memandang Arghi teriring senyuman yang sangat anggun, membuat Arghi membalas senyuman itu juga padanya.
Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun sampai, dan akhirnya mereka pun menyantap makanan mereka masing-masing.
"Cap ... cap ... cap ...."
Zenith mendelik, melihat Arghi yang makan tanpa tata krama seperti itu. Ia mendecap, membuat Zenith menjadi tidak nyaman melihatnya.
'Duh, kok dia makannya begitu, sih?' batin Zeti yang agak geli melihatnya.
"Kalau makan spaghetti begini, enaknya seperti ini nih ...."
Arghi menunjukkan cara makan spaghetti dengan dihisap, membuat Zenith menjadi bertambah jijik melihat tingkah aneh Arghi, yang menghisap spaghetti itu hingga tak sengaja mengenai kacamatanya.
'Ya ampun, kesan pertama makan yang buruk. Pandangan baikku terhadapnya menjadi sangat merosot!' batin Zeti yang agak jijik melihat tingkah dan cara makan Arghi, seperti orang yang tidak punya tata krama.
Karena tak sengaja spaghetti tadi mengenai kacamatanya, Arghi pun melepas kacamata itu, membuat poninya yang membelah menjadi sedikit tergerai.
"Duh ... gak sengaja kena kacamata deh," gumam Arghi yang sendu melihat kacamatanya terkena bumbu dari spaghetti yang ia makan.
Melihat wajah Arghi tanpa kacamata, membuat Zeti menjadi mimisan, saking tampannya Arghi tanpa mengenakan kacamata.
Si culun kutu buku, berubah menjadi si tampan nan menawan.
Zeti mendelik, 'Duh! Damage-nya berasa banget. Apa ini yang disebut sisi baik dalam sisi buruk?' batin Zeti yang sangat terpesona dengan wajah Arghi yang sangat sesuai dengan seleranya.
Arghi mengelap kacamatanya, dan segera memakainya kembali, membuat Zeti agak sedikit tak rela jika ia mengenakan kacamatanya.
'Yah ... dipakai lagi kacamatanya. Padahal, dia tampan kalau gak pakai kacamata,' batin Zeti yang agak resah, hanya karena masalah kacamata saja.
Arghi tersenyum memandang ke arah Zeti yang terlihat sedang melamun, "Habis ini, kita mau ke mana?" tanya Arghi, membuat Zeti menjadi terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"Hah?" gumam Zeti yang langsung mengubah sikapnya, "gimana kalau minum sedikit?" tawar Zeti, membuat Arghi tersenyum.
"Baiklah."
__ADS_1
...***...