Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Efek KaroKoe


__ADS_3

Sua pun duduk di sebelah Athi, sembari menyeka air keringatnya, “Beli air dong, Thi!” ujar Sua, membuat Athi menyeringai ke arahnya.


“Makanya kalian jangan teriak-teriakan. Jadi haus, kan!” ledek Athi, membuat Sua dan Imel memandang sinis ke arahnya.


“Namanya aja karokoe, Thi! Ya pasti bakalan teriak-teriakan, lah!” bentak Sua, membuat Imel menoleh seketika ke arahnya.


“Heh, karaoke!” bentak Imel, membuat Sua memandangnya dengan tatapan datar.


“Apa sih, gak usah komentar, ya!” bantah Sua, saking kesalnya dengan keadaan.


Athi menyeringai, “Ya udah, sini uangnya kasih aku, biar aku jalan beli minum,” ujar Athi, membuat Imel dan Sua memberikan sisa uang yang mereka miliki.


“Kalian mau minum apa?” tanya Athi.


“Mmm ... aku cola aja,” ujar Imel.


“Same,” ujar Sua juga menyetujui keinginan Imel.


Athi menatap mereka dengan riang, “Oke! Tunggu sebentar!” ujar Athi, membuat Imel dan Sua mengacungkan jempolnya ke arah Athi.


“Matamu melemahkanku, saat pertama kali kulihat mu.”


Terdengar suara orang yang sedang bernyanyi dengan sangat merdu, membuat Athi dan teman-temannya mendadak terdiam mendengarnya. Suaranya yang merdu dan syahdu, membuat Athi dan teman-temannya menjadi sangat terpana mendengarnya.


“Aduh ... siapa sih yang nyanyi? Suaranya keren banget!” ujar Imel, yang jatuh hati mendengar suara khas yang orang itu miliki.


Sua tersenyum, “Iya! Baru kali ini dengar suara cowok kok jadi satisfying begini?” ujarnya mendadak jatuh hati mendengar suara merdu tersebut.


Athi terdiam, merasa sangat tidak asing dengan suara yang ia dengar ini, ‘Sepertinya aku kenal suaranya,’ batin Athi yang menerka-nerka tentang suara yang ia dengar ini.

__ADS_1


“Kira-kira, yang punya suara ganteng gak, ya?” tanya Imel yang sudah terlanjur terpaku dengan orang yang memiliki suara emas tersebut.


Sua memandangnya malas, “Belum tentu dia ganteng! Jangan tertipu dengan suaranya yang bagus!” ujar Sua, membuat Imel menekuk wajahnya.


“Sua ini, kalau dengar masalah laki-laki, pasti auto sinis banget! Kayak kesambet aja!” gumam Imel dengan nada yang cukup kesal dengan temannya itu, yang sangat anti jika berbicara tentang laki-laki.


Athi memandang mereka dengan malas, “Kalian gak jadi haus nih, karena dengar suara emas dari orang itu?” ujar Athi dengan datar, membuat mereka menyeringai ke arah Athi.


Sua mendelik, “Aduh ... aku tiba-tiba aja jadi tambah haus!” ujarnya membuat Athi menggelengkan kepalanya.


Athi pun segera meninggalkan mereka, untuk membeli beberapa minuman bersoda. Ia berjalan menuju ke arah mesin minuman, dan menempelkan kartu ATM yang ia miliki.


“Hihi, lumayan kartu yang udah limit ini bisa kepake. Uang yang dari mereka, bisa aku kantongin, deh! Sayang banget kalau 80.000 gak bisa keambil karena kurang saldo,” gumam Athi dengan senangnya karena tiba mubadzir uang.


Athi menekan minuman yang akan ia beli, kemudian mengambil semuanya di box tempat keluarnya minuman, pada mesin ini. Athi pun merengkuh kaleng-kaleng minuman itu di tangannya, membuatnya harus segera kembali, saking merasa dingin di tangannya.


“Aduh, lumayan dingin,” gumam Athi, saking tergesa-gesa karena dingin dari minuman yang menyentuh kulit.


Athi mendelik, karena merasa kaget dengan yang ia lihat, “Hah? Kamu?!” kaget Athi, membuat orang yang ia senggol juga terkejut melihat keberadaan Athi.


Athi memandang heran orang itu, yang juga terlihat sangat kaget melihat Athi.


‘Pantesan aja suaranya seperti gak asing, ternyata si Lucas!’ batin Athi, yang sangat kesal dengan Lucas yang ia lihat ada di hadapannya sekarang.


Melihat Athi yang sedang berdiri di hadapannya, Lucas menjadi kebingungan sendiri jadinya. Wajahnya mendadak bersemu merah karena malu, membuat dirinya tak mengerti harus bagaimana.


Karena sudah terlalu malu, Lucas pun akhirnya kembali ke dalam ruangannya, meninggalkan Athi yang masih kebingungan di depan ruangan Lucas.


Athi memandangnya dengan bingung, “Dia kenapa?” gumam Athi kebingungan, sampai melupakan rasa dingin kaleng minuman tersebut yang menyentuh kulit Athi.

__ADS_1


Ia pun akhirnya tersadar dengan rasa dinginnya, dan segera kembali ke ruangan untuk mengantarkan minuman itu pada Imel dan juga Sua.


...***...


Karena berkunjung ke karaoke koin kemarin, membuat Athi dan teman-temannya menjadi bangkrut hari ini. Mereka sama sekali tidak membeli makanan yang terlalu mahal, hanya bisa membeli roti dan juga air minum rasa-rasa yang sangat mereka sukai.


“Ajakannya si Imel beneran bikin sesat! Aku jadi gak bisa jajan deh, selama seminggu ke depan! Harus dihemat-hemat,” gumam Sua, membuat Imel memandangnya dengan sangat sinis.


“Memangnya kamu doang yang harus hemat! Aku juga harus hemat, tahu!” bentak Imel dengan kesal, membuat Athi menggelengkan kecil kepalanya.


“Lain kali kalau mau main, yang kita sanggup aja. Ke mall aja bisa kan, tanpa harus mengeluarkan uang banyak. Kalau cuma mau beli es krim aja, juga bisa! Yang penting kita bisa jalan-jalan, sebelum ujian,” ujar Athi, membuat Sua memandang sinis ke arah Imel.


Imel hanya bisa menunduk malu mendengar ucapan Athi yang seperti itu.


Mereka pun mencari tempat duduk di kantin, untuk sekadar memakan roti yang sudah mereka beli sebelumnya. Sua dan Imel duduk berhadapan, sementara Athi duduk di sebelah Imel.


Mereka pun memakan makanannya dengan sangat pelan, berusaha untuk menghayati sepotong roti itu, kurang lebih selama empat hari ke depan.


Seseorang duduk di hadapan Athi, membuat Athi mendelik kaget karenanya. Orang itu memandang Athi dengan tatapan yang aneh, membuat Athi kebingungan sendiri dibuatnya.


“Lho, ada apa?” gumam Athi yang terkejut dengan kedatangan Lucas di hadapannya.


Lucas hanya bisa memandang Athi dengan tatapan yang tidak bisa Athi tafsirkan. Ia pun segera pergi meninggalkan Athi dan yang lainnya, membuat Athi menjadi kebingungan sendiri dibuatnya.


Imel memandang ke arah Athi, “Eh, itu kan ... bukannya Lucas, yang kemarin ribut sama si Keil?” tanya Imel, membuat Sua menoleh ke arah Lucas yang baru saja pergi dari hadapannya.


Sua kembali memandang ke arah teman-temannya, “Iya, itu Lucas,” jawab Sua mewakili Athi, “kamu kenal sama dia, Thi?” tanya Sua, membuat Athi memandangnya dengan sangat heran.


“Aku gak kenal,” jawab Athi dengan sangat khawatir, takut teman-temannya mengetahui tentang Lucas yang sudah menolongnya kala itu.

__ADS_1


Dari arah sana, Lucas hanya bisa duduk memandang Athi dari kejauhan. Ia duduk, sembari memakan roti yang baru saja ia beli itu. Lucas mengeluarkan sapu tangan yang ia temukan saat itu, yang sepertinya adalah milik Athi.


Lucas menghela napasnya dengan panjang, “Tujuan aku datang kan untuk balikin sapu tangan yang dia jatuhin waktu itu. Kenapa aku malah gugup ngelihat wajahnya?” gumam Lucas, yang bingung dengan hatinya.


__ADS_2