
Pagi hari menyapa, Lucas masih saja tertidur, karena ia terlalu lelah dalam menjalani pekerjaannya kemarin.
“Dring ....”
Dering handphone Lucas berdering dengan sangat kencang, tetapi Lucas belum juga bangun dari tidurnya.
Dari sisi sana, Athi sangat cemas dengan keadaan Lucas. Sudah beberapa minggu ini ia tidak diberi kabar oleh Lucas. Athi pun tidak tahu di mana Lucas tinggal. Hal itu membuat Athi menjadi sangat cemas dengan keadannya.
“Lucas ke mana, ya?” gumam Athi yang masih saja cemas dengan keadaan Lucas.
Athi terus menelepon sampai handphone Lucas berdering hingga sembilan kali banyaknya, tetapi Lucas tak kunjung bangun juga dari tidurnya.
Athi memutuskan sambungan telepon, dan melihat ke arah layar handphone-nya.
“Apa Lucas baik-baik aja? Kenapa gak ada jawaban dari dia, sih?” gumam Athi yang sendu dengan Lucas yang tak kunjung mengangkat teleponnya.
Mata Athi sudah sangat membengkak, karena terus-menerus menangisi Lucas, beberapa minggu terakhir ini. Ia sudah sangat rindu dengan Lucas, yang tidak memberinya kabar.
Sementara di sisi sana, Lucas ternyata bangun dari tidurnya, dan sama sekali tidak memeriksa handphone-nya. Ia sudah sangat terlambat, untuk berangkat kerja.
Lucas membilas tubuhnya yang lengket, karena semalam ia tidak membilasnya, saking terlalu lelahnya ia bekerja.
Setelah selesai membilas tubuhnya, Lucas tidak ingin membuang waktunya. Ia pun bergegas untuk pergi, sampai tidak sempat mengisi perutnya yang kosong sejak kemarin siang.
Lucas lari tergesa-gesa, menuju ke arah restoran tempat ia mengambil makanan.
Sepedanya ia tinggalkan di restoran itu, karena kemarin ia tidak sempat untuk kembali ke rumah, dan segera menuju ke arah mini market untuk pekerjaan paruh waktunya.
“Hosh ....”
Napas Lucas memburu, tetapi ia tidak membiarkan dirinya menyerah.
“Akhirnya sampai,” gumam Lucas, yang langsung masuk ke dalam restoran tersebut.
“Ting ....”
Semua perhatian tertuju pada Lucas, yang baru masuk ke dalam resto. Sang pemilik toko kebetulan sekali datang untuk memeriksa keadaan toko, dan tak sengaja mendapati Lucas yang terlambat datang ke resto.
Sosok pria tinggi besar itu memandang sinis ke arah Lucas, “Hey kamu ...,” panggilnya, membuat Lucas menghampirinya dengan segera.
“Jam berapa ini?” tanya sang pemilik resto, Lucas segera memandang ke arah jam dinding yang berada di dalam resto tersebut.
Lucas menunduk, “Maaf Pak, saya datang terlambat,” ucap Lucas dengan nada yang sangat sendu, tetapi tidak membuat sang pemilik toko menjadi iba dengannya.
__ADS_1
“Saya tidak memberikan toleransi apa pun kepada orang yang sudah datang terlambat! Pokoknya, uang makan kamu selama satu minggu ke depan, saya potong!” bentaknya, membuat Lucas mendelik ke arahnya.
‘Sial,’ batin Lucas, yang sangat kesal dengan kebijakan sang pemilik resto.
Namun, Lucas tidak bisa berbuat apa-apa kali ini.
Sang pemilik mengambil bingkisan makanan yang ada di hadapannya, “Ini, kamu antar ini sekarang! Jangan smapi terlambat, dia sudah menunggu 1 jam untuk sarapannya!” titah sang owner.
Lucas pun mengambil makanan yang ia sodorkan, lalu segera mengantarkan makanan tersebut ke rumah pelanggan.
Dengan sangat cepat, Lucas pun mengayuh sepeda tuanya, dan langsung menuju ke alamat tujuan.
Dengan sangat sulit, Lucas segera mengantarkannya.
Pada keramaian di jam seperti ini, sangat mustahil untuk Lucas bisa sampai dengan cepat. Banyak sekali orang berlalu-lalang di sekitar trotoar.
“Duh ... rame banget, ya?” gumam Lucas, yang mencari cara untuk bisa tepat waktu sampai ke tempat tujuan.
Lucas tak sengaja melihat ke arah hadapannya. Ia melihat seorang nenek yang ingin menyeberangi jalan. Nenek itu tidak bisa menyeberang, karena kondisi lalu-lintas yang masih padat.
“Duh ... itu nenek,” gumam Lucas, yang dengan segera langsung turun dari sepedanya.
Lucas dengan sangat sigap, menuntun sang nenek, dan membuat kendaraan berhenti sejenak.
Lucas membantunya menyeberang, dan sang nenek pun selamat sampai di seberang jalan.
“Terima kasih,” ucap sang nenek.
“Sama-sama, Nek.”
Lucas pun kembali menuju ke arah sepedanya. Ia sangat berhati-hati menyeberang, sehingga tidak terjadi sesuatu padanya.
Lucas sampai pada sepedanya. Ia segera melajukan sepedanya ke rumah tujuannya. Akan tetapi, lajunya terhambat, karena ban sepedanya yang sepertinya kempes.
Lucas terkejut, dan segera turun dari sepedanya, untuk memeriksa keadaan ban sepedanya.
Lucas memandangi dengan saksama, ban belakang sepeda yang ia gunakan.
Ternyata, ada sebuah paku yang menancap tepat pada ban sepeda Lucas. Hal itu membuat ban sepeda menjadi kempes total. Ia tidak bisa lagi memakai sepedanya, untuk mengantarkan makanan kepada pelanggan.
Lucas menghela napasnya panjang, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Duh ... tenang,” gumam Lucas, yang tidak ingin membuat suasana bertambah runyam dengan sikapnya yang panik.
__ADS_1
Lucas segera memeriksa jalan di sekitarnya, dan juga di aplikasi.
“Sepertinya, jalannya sudah dekat. Apa aku tinggal sepeda di sini aja kali, ya?” gumam Lucas, yang mencoba memikirkan jalan keluarnya.
Keputusan Lucas pun sudah bulat. Dengan segera ia meninggalkan sepedanya, dan segera berlarian secepat mungkin untuk menuju ke tempat tujuan.
Napasnya terus memburu, membuat dirinya hampir saja kehabisan napas.
“Sedikit lagi,” gumam Lucas, sembari memandangi nomor yang tertera pada dinding depan setiap rumah yang ia lewati.
Akhirnya, ia pun sampai pada tempat tujuan, dan segera menuju ke arah pintu rumahnya, dengan sedikit mengatur napasnya yang sudah hampir habis.
“Teng ... nong ....”
Lucas menekan bel rumah sang pelanggan.
Setelah beberapa saat menunggu, seseorang membuka pintu rumah dan memandang sinis ke arah Lucas.
“Siapa?” tanya sinisnya, membuat Lucas menyodorkan bungkusan makanan ke arahnya.
“Saya pengantar makanan,” jawab Lucas yang masih terengah-engah.
Sang pelanggan menatap ke arah penampilan Lucas yang sangat berantakan. Aroma tubuh Lucas yang tidak sedap, membuat sang pelanggan menjadi sangat jijik dibuatnya.
“Jam berapa ini? Saya harus sarapan tepat jam 7 pagi. Kenapa sudah jam setengah 9, kamu baru mengantarkan makanan?” tanya sinisnya, membuat Lucas terkejut mendengar penuturannya.
Lucas mendelik kaget, “Tapi makanannya sudah tidak bisa dikembalikan lagi, Bu,” bantah Lucas, membuat sang pelanggan memandangnya dengan sangat sinis.
“Saya gak peduli, pokoknya saya minta ganti rugi!” ucap sang pelanggan yang mengotot di hadapan Lucas.
Lucas menghela napasnya, dan segera menunduk ke arahnya.
“Maaf, lain kali saya tidak akan seperti ini,” ucap Lucas, yang langsung pergi dari sana.
“Lain kali kalau mau berangkat kerja, mandi dulu!” teriaknya, membuat Lucas mendelik dan menghentikan langkahnya.
“Terus juga pakai minyak wangi, biar wangi! Penampilan harus dijaga!” tambahnya, yang langsung menutup pintu rumahnya dengan sangat kasar.
Mendengar hal itu, hati Lucas sedikit terenyuh, karena ucapan sang pelanggan yang sedikit banyaknya membuat Lucas sangat terpuruk.
Sudah jatuh, tertipa tangga.
Lucas tertunduk di atas aspal, sembari menumpahkan tangisannya.
__ADS_1
“Lucas ....”