
(Untuk yang bingung dengan alurnya, setelah episode kemarin, langsung balik lagi ke 3 episode awal. Sekarang lanjutan dari 3 episode awal.)
Itulah akhir dari kisah Keil dan juga Athi. Athi baru menyadari, kalau dirinya sangat menyukai Keil. Hatinya sudah sangat hancur, karena Keil yang pergi, di saat Athi sudah menyatakan perasaannya.
Kejadian perpisahan bersama Keil di bandara kemarin, membuat Athi tak bisa lepas dari Keil. Ia terus memikirkan Keil, tanpa bisa berhenti memikirkannya.
Lututnya masih terasa sangat sakit, tetapi hatinya terasa lebih sakit daripada luka di lututnya. Athi sampai tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Seperti ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya.
Hari-hari Athi terasa sangat sepi, tanpa adanya Keil. Tak disangka, liburan kemarin adalah liburan terakhir dirinya bersama dengan Keil.
Athi memandang ke arah handphone-nya, dan terus memeriksa pesan masuk di handphone-nya.
Nahas, sejak kepergian Keil waktu itu, Athi sama sekali tidak mendapatkan kabar dari Keil.
Athi memandang handphone-nya dengan sangat sendu, karena ia tidak bisa menghubungi Keil lebih dulu. Pesan yang ia kirimkan malam saat kepergiannya, masih terlihat centang satu. Itu menandakan bahwa Keil sama sekali tidak membuka handphone-nya.
‘Keil, kenapa dia gak hubungin aku? Apa dia sudah sampai di sana? Apa dia selamat, dan tidak ada kendala saat di perjalanannya?’ batin Athi, yang sangat khawatir dengan keadaan Keil.
Athi meringkuk sendiri di atas ranjangnya, karena merasa sangat sedih sudah kehilangan sosok orang yang sangat ia sukai.
‘Apa Keil akan kembali lagi ke sini?’ batin Athi, yang bingung, harus berbuat apa tentang perasaan yang ia miliki ini.
“Athi! Sudah siang, kamu gak berangkat ke sekolah?” teriak ibu dari luar kamarnya.
Athi merasa sangat tidak bersemangat, sampai ia tidak mood untuk pergi ke sekolahnya.
“Aku bisa izin aja gak, Bu?” teriak Athi kembali.
“Kamu itu ujian kelulusan hari ini. Kenapa kamu tiba-tiba gak mau sekolah, sih?” teriak ibu lagi.
Athi menghela napasnya panjang, karena tidak bisa lagi lari dari kenyataan pahitnya tentang Keil.
‘Apa aku bisa melewati ini semua? Kalau aku kembali ke sekolah, aku pasti akan selalu ingat tentang Keil, dan semua tempat yang pernah ada cerita tentang kita,’ batin Athi, yang ragu dengan perasaannya sendiri.
Dengan berat hati, Athi melangkahkan kakinya menuju ke arah sekolah. Baru sampai di depan rumahnya, langkahnya terhenti karena melihat Lucas yang sudah ada di hadapannya.
Lucas memandangnya dengan heran, “Wajahmu kenapa? Kok bengkak gitu?” tanya Lucas yang heran dengan wajah Athi yang membengkak, akibat menangis semalaman.
__ADS_1
Athi memandang Lucas dengan sendu, “Aku gak apa-apa. Cuma habis belajar semalam, kan mau ujian kelulusan, jadi aku pakai SKS,” jawab Athi, yang tentu saja berbohong pada Lucas.
Lucas mengerenyitkan dahinya, “SKS itu apa?” tanyanya semakin bingung dengan ucapan Athi.
“SKS itu Sistem Kebut Semalam,” jawab Athi, membuat Lucas mendadak kesal dengannya.
Lucas menunjukkan tangannya, bersiap untuk menyentil kening Athi, “Mau aku sentil?” tanya Lucas dengan sinis, Athi menghindar karena merasa takut dengan ancaman Lucas.
“Gak!” tolak Athi, membuat Lucas tersenyum tipis melihat ekspresi Athi yang seperti itu.
“Yuk kita jalan,” ajak Lucas, Athi pun mengangguk karenanya.
Mereka berjalan bersama untuk menuju ke sekolah mereka. Tak bisa dipungkiri oleh Lucas, hidup tanpa Keil, membuat dirinya sedikit banyaknya juga merasa sangat sedih.
Lucas memandang ke arah Athi, “Athanasia,” panggil Lucas, Athi pun menoleh ke arahnya.
“Ada apa?”
Lucas menghela napasnya panjang, “Apa kamu baik-baik aja?” tanya Lucas.
Mendengar hal itu, membuat Athi merasa sangat terpukul. Ia tak bisa memungkiri, kalau dirinya memang sedang tidak baik-baik saja.
“Aku baik-baik aja, Lucas,” jawab Athi, Lucas pun terdiam mendengar jawaban Athi yang seperti itu.
“Kau benar baik-baik saja, atau dipaksa baik-baik saja?” tanya Lucas, memastikan keadaan Athi yang sebenarnya.
Athi menghela napasnya panjang, mendengar Lucas berkata demikian.
Athi tersenyum ke arahnya, “Ya, aku benar baik-baik aja, Lucas. Kamu gak perlu khawatir,” ucap Athi berusaha untuk meyakinkan Lucas dengan kondisinya saat ini.
Lucas mengerenyitkan dahinya, “Siapa juga yang khawatir sama kau,” bantah Lucas, membuat Athi tak jadi tersentuh dengan perhatian yang sudah Lucas berikan padanya.
“Awas kau ya!” gertak Athi, yang lalu mengejarnya, dan Lucas pun berlarian menghindari amukan Athi yang seperti itu.
Mereka pun mengerjakan ujian kelulusan kali ini, dengan susah payah dan jatuh bangun mereka mengerjakannya, pada akhirnya mereka pun lulus dengan nilai yang cukup baik.
Walaupun Athi sangat sedih atas kepergian Keil, tetapi ia senang karena Lucas selalu ada bersamanya, dan menemani hari-hari kelamnya tanpa adanya Keil di sampingnya.
Hari kelulusan pun tiba. Athi dan Lucas sedang memandang ke arah panggung kecil, dekat tiang bendera di lapangan sekolahnya. Di sana, terlihat sosok Sua yang sedang tersenyum bahagia, karena sudah berhasil mendapatkan peringkat ketiga, dari sekolah ini.
__ADS_1
Hasil ujian Sua memang cukup bagus, sehingga menobatkannya menjadi murid tiga besar terpandai di sekolah ini.
Tentu saja Athi sangat bahagia dengan pencapaiannya itu.
‘Sua, akhirnya kamu bisa membuktikan pada orang tuamu,’ batin Athi, yang sangat terharu dengan kerja keras Sua selama ini dalam belajar.
Sua tersenyum sembari memegang piala yang cukup besar, membuat semua orang memberikan tepuk tangan meriah, pada tiga orang siswa terbaik angkatan mereka.
Lucas menoleh ke arah Athi, yang sedang bertepuk tangan melihat pencapaian sahabatnya itu.
“Sayangnya Keil gak ada ya di sini,” ucap Lucas, membuat Athi menoleh seketika ke arahnya.
Mereka sejenak saling pandang, dengan Athi yang bingung harus bersikap seperti apa.
“Memangnya kenapa kalau ada Keil?” tanya Athi heran.
“Kalau ada Keil, Sua gak akan ada di rentetan tiga siswa terbaik, karena Keil pasti akan merebut posisi pertama,” ucap Lucas dengan sangat percaya diri, membuat Athi tersenyum.
“Ya, kamu benar. Untung saja dia tidak ada di sini,” ucap Athi sembari tersenyum, sontak membuat Lucas mendelik karena kaget dengan respon Athi yang seperti ini.
Lucas menunduk, karena ternyata Athi jauh lebih kuat, dari apa yang ia bayangkan.
Lucas kembali memandang ke arah Athi, “Hey, apa Keil tidak ada artinya di matamu?” tanya Lucas, Athi terkejut mendengarnya.
“Keil sangat berarti.”
“Deg!”
Hati Lucas mendadak dikejutkan dengan ucapan Athi. Hal itu membuat Lucas semakin sadar, walaupun Athi sangat kehilangan Keil, tetapi ia tetap menganggap Keil ada, di dalam hatinya.
“Biar bagaimanapun juga, aku gak akan tinggalin kamu,” ucap Lucas, membuat Athi mendelik kaget, kemudian tersenyum karena senang mendengar ucapan Lucas yang terkesan asal itu.
“Hey, ayo foto!” ucap Imel yang tiba-tiba saja datang dengan membawa seikat bunga.
Lucas merebutnya paksa, “Tolong fotokan kami,” ucap Lucas, membuat Imel menggerutu karenanya.
“Bawel!”
Karena tak ada pilihan, Imel pun segera memotret mereka, dengan Lucas dan Athi yang bersamaan memegang bucket bunga tersebut.
__ADS_1
Mereka lulus, tanpa adanya Keil di sisi mereka.
...***...