Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Berkenalan Dengan Sang Pahlawan


__ADS_3

"Lepasin dia!" pekik salah seorang anak, yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan para preman itu.


Mereka mendelik, menatap ke arah bocah laki-laki yang usianya sangat jauh di bawah mereka. Mereka menatapnya dengan tatapan merendahkan, bahkan dengan pandangan yang tidak menganggap dirinya sebagai seorang manusia.


"Siapa kamu, bocah?" tanya sinis orang yang sudah membius Athi hingga tak sadarkan diri.


Bocah itu membalas pandangan mereka dengan pandangan yang sangat sinis, "Lepasin, atau kalian akan tahu akibatnya!" ancamnya, membuat semua orang yang ada di sana tertawa mendengar ancaman kecilnya.


"Haha, tahu apa kau bocah? Jangan sok jadi pahlawan kesiangan!" ledek salah satunya.


"Pahlawan kemalaman kali, ini kan ... udah malam," bantah salah seorang lainnya.


"Ya, lupa."


Bocah itu masih saja menatap mereka dengan tatapan yang penuh kebencian. Dia sangat membenci orang yang memperlakukan wanita dengan seenaknya seperti itu.


"Jangan memancing! Lepasin aja cewek itu, kalau gak mau ada masalah!" bentaknya, membuat emosi para berandal itu meledak seketika.


"Kurang ajar! Bocah tengik!" pekik ketua berandal itu, yang langsung segera menghajarnya.


Terjadi perkelahian sengit antara bocah itu dengan beberapa berandal, sementara satu lainnya tetap memegangi Athi.


Serangan demi serangan berhasil ditepiskan bocah itu, tak jarang ia menghindari dan mengelak dari tinjuan maut para berandal.


"Tass ...."


Tangan bocah itu menangkis tinjuan beberapa orang sekaligus, membuat mereka mendelik heran dengan kemampuan yang dimiliki bocah ini.


"Sialan kau!" bentak sang ketua berandal, yang tak terima serangannya selalu berhasil dielakkan dengan mudahnya.


Mereka segera menyerang bocah itu secara membabi buta, tak peduli dengan apa yang akan terjadi nantinya.


"Brukk ...."


Bocah itu kecolongan, sang berandal berhasil menendang perutnya, hingga ia terpental beberapa meter ke belakang.


"Happ ...."


Salah satu berandal berhasil menangkap tubuh bocah itu, dan segera menyergapnya. Kini, kedua tangan bocah itu sudah berhasil dibelenggu olehnya.


Dua berandal lainnya segera menghajar perut dan wajah bocah itu secara bertubi-tubi dan tanpa ampun, membuat sedikit banyaknya energi bocah itu terkuras habis-habisan.


"Bukk ...."

__ADS_1


"Bukk ...."


"Rasain! Dasar bocah idiot!" umpat berandal yang sedang memegangi Athi, dengan sangat senangnya.


Tak ada puasnya mereka menghabisi bocah itu, sampai bocah itu terkapar lemas di atas kubangan air yang menggenang di beberapa sisi jalan gang sempit itu.


"Mampus kamu!" bentak sang ketua berandal sembari menatapnya dengan penuh kebencian.


"Angkat tangan!" teriak seseorang dari ujung gang sempit, membuat mereka, para berandal, lantas menoleh ke arah sumber suara.


"Hah!" gumam mereka, yang tak percaya dengan yang mereka lihat.


Terlihat beberapa polisi yang sudah bersiap dengan senapannya, sedang mengepung dari berbagai sisi. Ada yang dari depan, dari belakang, bahkan ada juga yang sudah membidik mereka dari atas gedung.


Tak ada yang bisa mereka lakukan. Satu gerakan saja dari mereka, mungkin akan membuat tuas senapan bergeser, dan seketika peluru itu pun pasti melesat ke bagian tubuh mereka.


Mereka pun mengangkat tangannya, tanda menyerah, terkecuali gadis itu


"Lepaskan gadis itu!" perintah sang komando, membuat berandal itu tidak bisa berbuat apa pun lagi.


Ia melempar Athi dengan kasar, kepada polisi yang ada di belakangnya. Para berandal itu menyerah, dan akhirnya kasus ini sudah berhasil diringkus oleh petugas.


"Ikut kami ke kantor polisi!"


Mereka membawa para berandal, dan juga Athi tak lupa juga bocah yang sudah menolong Athi, ke kantor polisi.


Athi membuka matanya, dan merasa kepalanya sangat sakit efek obat bius yang ia hirup. Ia memegangi kepalanya, dan berusaha bangkit dari tempat ia terbaring.


Athi menoleh ke kiri dan ke kanan, tetapi ia sama sekali tidak mengetahui keadaan sekelilingnya.


"Di mana aku?" gumam Athi, sembari tetap mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Seseorang melewati ruangan Athi, dan segera menghampirinya.


"Sudah sadar," ucap orang yang memakai pakaian serba putih, dengan alat elektrokardiograf yang melingkar di lehernya, mirip seorang dokter yang ada di rumah sakit.


Athi mengerenyitkan dahinya, "Ini di mana?" tanya Athi, yang masih bingung dengan keadaannya.


"Ini di klinik kepolisian. Tadi kamu disekap sama penjahat, dan gak sadarkan diri. Sekarang kamu aman, kok," ucap sang dokter, membuat Athi mendelik.


"Hah, disekap?!" gumam Athi bingung.


"Ya, beruntung ada tim kami yang menolong. Ada juga anak laki-laki yang mengaku sebagai pacar kamu, yang menolong kamu tadi. Romantis sekali," ucap dokter dengan nada yang sangat manis.

__ADS_1


Athi mendelik bingung, 'Hah, pacar?' batin Athi kebingungan dengan pernyataan sang dokter.


"Kriet ...."


Seseorang membuka pintu, kemudian bergegas masuk ke dalam ruangan, membuat Athi memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Apa perlu diantar dengan tim kami?" tanya seseorang yang memakai pakaian layaknya seorang polisi, yang sedang berbincang dengan seorang anak laki-laki yang keadaan wajahnya sudah sangat parah akibat pukulan.


"Gak usah, Pak. Kami pulang sendiri saja. Takut keluarga mikir macam-macam nantinya," tolak anak itu, membuat sang polisi tersenyum padanya.


"Baiklah, hati-hati di jalan," ucap sang polisi.


Kini, mereka pun berhadapan satu sama lain, membuat Athi melongok kaget dengan wajah asing anak laki-laki yang mengaku sebagai kekasihnya.


"Gimana, sudah enakan?" tanya bocah itu, yang tak direspon Athi, "yuk kita pulang," ajaknya, tetapi Athi sama sekali tidak berbicara.


Bocah itu agak sebal jadinya dengan Athi, membuat dirinya segera meninggalkan Athi di sana.


"Terima kasih, Pak polisi dan Bu dokter," ucapnya, yang langsung pergi meninggalkan mereka di sana.


Athi yang melihat responnya, segera bangkit dan mengemas barang-barangnya.


"Terima kasih ya," gumam Athi yang segera meninggalkan tempat itu dan langsung menuju ke arah bocah itu.


Athi berlarian menuju ke arah bocah itu.


"Hey, tunggu!" pekik Athi, membuat bocah itu menghentikan langkahnya.


Athi pun menghampirinya dengan cepat. Kini, mereka berjalan beriringan, dengan bocah itu yang sama sekali tak memandang ke arah Athi.


"Kamu tadi nolongin aku, ya? Makasih banget udah nolongin aku," gumam Athi, yang tak dihiraukan olehnya.


Mereka terus berjalan, tak tentu arah.


"Rumah kamu di sebelah mana?" tanya bocah itu dengan dingin, tanpa memandang Athi.


"Jalan Cendana," jawab Athi dengan singkat.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.


"Oh ya, tadi kok kamu ngaku jadi pacar aku, sih?" tanya Athi, yang lagi-lagi tak dihiraukan olehnya.


Athi mengerenyitkan dahinya, 'Ih, apa-apaan sih dia? Ditanya diem aja. Udah mirip kayak si Keil pula sifatnya!' batin Athi yang sudah mulai kesal dengan anak ini.

__ADS_1


Athi melirik ke arahnya lagi, tak mau menyerah dengan sikap dingin yang ia miliki, "Nama kamu siapa?" tanya Athi.


"Lucas," jawab singkatnya dengan nada dingin.


__ADS_2