Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Mencuri Informasi


__ADS_3

Athi sudah selesai membilas tubuhnya, membuat dirinya merasa lebih segar dari sebelumnya. Athi berjalan menuju ke arah ranjang tidurnya, dan segera melihat ke arah handphone-nya.


Ia menemukan beberapa notifikasi dari Keil. Dengan perasaan malas, Athi pun akhirnya membuka pesan itu.


“Terima kasih, seharian ini sudah benar-benar menghibur.”


Isi pesan dari Keil, membuat Athi seketika mendelik kaget membacanya. Ia sama sekali tidak berpikir tentang Keil yang sudah menikmati perjalanan kali ini. Yang ia tahu, Keil sangat datar menanggapi semua yang terjadi pada hari ini.


“Dia bilang terima kasih, ada apa? Bukan katanya foto kita gak penting-penting banget ya buat dia?” gumam Athi yang kebingungan dengan maksud yang Keil maksudkan.


Akan tetapi, Athi tak bisa memungkiri kalau dirinya sebenarnya juga sangat senang dengan liburannya hari ini. Liburan yang sama sekali tidak direncanakan, memberikan kesan tersendiri untuk Athi.


Matanya seketika mendelik, karena pada hari ini, Keil beberapa kali memeluk dan merengkuhnya, serta memegang tangannya. Hal itu membuat wajah Athi seketika bersemu merah, karena malu sudah teringat dengan perlakuan manis Keil padanya.


Athi melayangkan tubuhnya ke arah ranjang tidurnya, merasa sangat senang dengan hal yang terjadi di antara mereka. Athi memandang langit-langit kamarnya, masih belum merasakan hal yang benar-benar terjadi pada hari ini.


Athi menghela napasnya panjang, “Huh ... seperti mimpi aja,” gumam Athi yang saking senangnya, sampai kejadian manis itu terus terngiang di pikiran Athi.


Tiba-tiba saja, Athi mengingat tentang Lucas yang tiba-tiba saja menghilang. Athi segera menelepon ke nomor Lucas, yang diam-diam sudah ia ambil dari kontak handphone Keil tadi.


Athi menunggu telepon itu terhubung, membuat jantungnya terasa berdetak dengan kencang.


“Halo.”


Terdengar suara seorang pria dari ujung sana, membuat lidah Athi terasa kelu jadinya.


“Ini aku,” ucap Athi, membuat Lucas mengerenyitkan dahinya.


“Kamu? Siapa?” tanya Lucas, Athi pun mendelik bingung dengan nomor tujuannya.


“Apa ini benar Lucas?” tanya Athi yang penasaran dengan sosok yang menerima telepon darinya itu.


“Benar.”


Athi mendelik, “Syukur deh. Aku Athanasia,” ujar Athi, membuat Lucas mendelik mendengarnya.


‘Kenapa suaranya berbeda sekali?’ batin Lucas yang kebingungan dengan suara asli Athi dengan suaranya di telepon.


“Ada apa?” tanya Lucas dengan datar, membuat Athi sedikit kesal mendengarnya.

__ADS_1


“Hey, kamu tadi ke mana? Kenapa tiba-tiba menghilang gitu aja?” tanya Athi, membuat Lucas mendelik bingung dengan pertanyaan yang Athi tanyakan padanya.


“Emm ... aku mendadak ada urusan.”


Athi mengerenyitkan dahinya, “Urusan? Kenapa gak pamit dulu?” tanya Athi sinis.


“Bukannya kalian yang ninggalin aku tadi, ya?” tanya balik Lucas, membuat wajah Athi seketika bersemu merah.


“Masa aku ninggalin kamu?” tanya Athi yang kebingungan dengan keadaan yang sebenarnya.


“Makanya, jangan mikirin Keil mulu,” ledek Lucas.


Seketika hati Athi menjadi sangat berdebar. Entah kenapa, yang dikatakan Lucas kali ini tepat sekali.


“Si-siapa yang mikirin tembok es itu!” bantah Athi, membuat Lucas menahan tawanya.


‘Tembok es katanya?’ batinLucas yang hampir saja tidak bisa menahan tawanya.


Beruntung mereka berbincang di telepon, sehingga Lucas tidak harus susah payah menyembunyikan tawanya dari Athi.


“Btw, kamu dapat nomor ini dari siapa?” tanya Lucas, membuat Athi terkejut dan menyeringai jadinya.


Mendengar ucapan Athi yang terdengar seperti sedang slengean, Lucas pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Hening. Hanya itu yang terjadi di antara mereka.


Lucas mengambil sikap, “Heh serangga, lain kali, jangan teledor lagi,” ujar Lucas, membuat Athi mendelik tak percaya dengan apa yang ia ucapkan.


Lucas memandang ke arah bintang yang bertaburan di langit malam ini. Ternyata, saat ini Lucas sedang berada di suatu tempat terindah, yang jarang sekali dijamah manusia. Ia selalu datang ke tempat ini, jika dirinya dilanda kegelisahan, dan ya! Kali ini, Lucas sedang dilanda rasa gelisahnya.


Entah karena apa.


“Teledor gimana?” tanya sinis Athi, membuat Lucas menghela napasnya panjang.


“Atas segala hal,” jawab Lucas terdengar sendu, Athi mendelik karena ucapan Lucas yang sangat ambigu.


“Atas segala hal bagaimana--”


“Selamat malam, Athanasia.”

__ADS_1


Telepon pun berakhir.


...***...


Hari ini adalah hari pertama mereka naik ke tingkat tiga. Setelah mengerjakan ujian beberapa hari saat itu, membuat mereka merasa sangat lega saat ini. Hari-hari sudah mereka lalui, hingga kini mereka berhasil sampai pada tingkat tertinggi di sekolah ini.


Athi merasa sangat senang, karena ia sudah bisa menjadi seorang senior di sekolah ini. Banyak anak-anak baru yang sangat menggemaskan, membuat Athi ingin sekali berkenalan dengan mereka satu per satu. Pada masa-masa ini, banyak sekali yang mencoba mendekati dirinya. Bahkan, tak jarang junior itu terus menghampiri dan berusaha mendekati Athi, untuk bisa lebih dekat dengannya.


Tak hanya Athi, Lucas dan Keil pun mengalami hal yang sama, membuat mereka menjadi risih karenanya.


Karena kepintaran Athi yang tak mumpuni, Athi pun sampai terpisah dengan Imel dan Sua. Mereka tidak lagi berada pada satu kelas yang sama, karena nilai Sua dan Imel yang semakin hari, semakin melonjak. Berbeda dengan Athi, yang tidak bisa menyamai IQ yang mereka miliki.


Athi berjalan gontai menuju ke arah kelasnya. Ia sangat lesu, karena tidak ada orang yang ia kenal di kelas barunya ini.


“Duh ... kenapa Sua dan Imel masuk kelas unggulan ke-2, sih? Betapa tersiksanya aku tanpa mereka,” gumam Athi, sembari tetap berjalan menuju ke arah kelasnya.


Langkahnya terhenti, matanya pun mendelik karena ia melihat Lucas yang sudah berada di kelas baru Athi. Dengan sangat senang, Athi pun menghampirinya.


“Lucas!” pekik Athi dengan senangnya, membuat Lucas seketika menoleh ke arahnya.


Karena terlalu bersemangat, kakinya tak sengaja beradu, membuat dirinya kehilangan keseimbangannya. Lucas dengan sangat cepat, langsung menangkap tubuh Athi yang sudah hampir terjatuh, tanpa memedulikan apa pun lagi.


Tatapan mereka tertuju pada satu titik. Kali ini, lagi-lagi Lucas menyelamatkan Athi yang baginya sangat teledor itu. Sejenak mereka pun saling pandang, berusaha untuk mengembalikan kesadaran mereka.


Athi mendelik, “Lucas!” gumam Athi, membuat Lucas terkejut sehingga ia mengubah sikapnya.


“Bruk ....”


“Aww!”


Karena perubahan sikap Lucas yang terlalu mendadak, ia tak sengaja melepaskan tangannya dari punggung Athi, membuat Athi seketika terjatuh ke atas lantai di kelasnya. Lucas tentu saja sangat terkejut dengan hal yang ia lihat ini.


“Aduh ...,” gumam Athi yang masih berfokus pada rasa sakitnya.


Athi mengusap-usap bokongnya yang cukup sakit, akibat ulah Lucas. Hal itu membuat Lucas mendelik kaget, karena ia benar tak sengaja melakukan hal ini.


Athi tersadar, dan segera mendelik ke arah Lucas, “Lucas!!” teriak Athi, membuat telinga Lucas menjadi setengah tuli.


...***...

__ADS_1


__ADS_2