Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Perjalanan Trio ALA(Y) 2


__ADS_3

"Hah?" tanya Athi yang terkejut mendengarnya.


"Pulang saja sendiri, kalau gak mau ikut kita!" ujar Lucas dengan datar, persis seperti sikap Keil padanya tadi.


Lucas pun pergi meninggalkan Athi sendirian di sana, membuat Athi mendelikkan pandangannya ke arah Lucas, yang berada di hadapannya.


"Heh, Lucas!" pekik Athi, yang kesal dengan sikap aneh mereka terhadapnya.


Athi yang kesal, lantas menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah, membuat dirinya menjadi sangat kesal dengan keadaan.


"Awas aja mereka!" gumam Athi, yang dengan segera menyusul mereka yang sudah lebih dulu meninggalkan dirinya.


Langkah mereka menuntun Athi untuk menuju ke suatu aula, di sebuah gedung. Ternyata, mereka mengajak Athi untuk berkunjung ke rumah duka.


Dengan langkah yang kecil, Athi pun melangkahkan kakinya tepat di belakang Lucas dan juga Keil. Ia agak takut dengan situasi rumah duka, yang baginya sangat seram.


Karena terlalu sering membaca komik atau novel yang bergenre horor, pikiran Athi selalu melayang kemana pun, karena fantasinya tentang komik horor yang selalu ia baca. Ia jadi sering berhalusinasi tentang makhluk yang tak kasat mata, membuat perasaan takutnya seakan terus menghantuinya.


"Keil, pelan-pelan dong jalannya!" ujar Athi, tak membuat Keil menurunkan kecepatan berjalannya.


Lucas melirik ke arah Athi yang ada di belakangnya. Ia hanya memandang gerak-gerik Athi, yang sepertinya takut dengan situasi rumah duka ini. Ia pun kembali melihat ke arah hadapannya.


Kini, mereka sudah sampai di suatu tempat. Pada dinding tempat itu, terdapat gambar seorang gadis yang sangat cantik di mata Athi. Hal itu membuat Athi menjadi sangat kebingungan, dengan situasi dan kondisi yang aneh, yang sama sekali tidak ia mengerti.


Karena kondisi dan situasi yang menurut Athi sangat sakral, ia pun lebih memilih untuk bungkam dan mengikuti serangkaian kegiatan yang ada.


Keil memandang ke arah figura yang ada di hadapannya. Ia memandang dengan sangat sendu, karena tak dapat dipungkiri, beberapa bulan ditinggalkan oleh Kia, Keil ternyata juga merasa sangat kehilangan dengan sosok Kia yang selalu ada bersama dengan Keil dan Lucas.

__ADS_1


"Kami datang," ujar Keil, membuat Athi menoleh seketika ke arahnya.


Wajah Keil terlihat sangat sendu, membuat Athi tidak tega melihatnya. Athi tersadar dan juga melihat ke arah Lucas, dan memandangnya dengan saksama. Ternyata Lucas pun mengeluarkan ekspresi yang sama, dengan yang diekspresikan oleh Keil. Mereka terlihat sangat sedih, membuat Athi jadi ikut sedih karenanya.


"Aku udah tahu semua permasalahan dan kesalahpahaman, yang terjadi antara kita bertiga. Ini semua nggak sepenuhnya salah Keil, Ki. Kamu yang tenang di sana," ujar Lucas, membuat Athi semakin tak paham apa yang mereka maksudkan.


"Ya, hari di mana kepergian kamu waktu itu, benar-benar di luar dari batas kemampuan aku, Ki. Kalau bukan karena permasalahan antara aku dan ayahku, aku pasti sudah menjawab telepon dari kamu," ujar Keil dengan sangat sendu, "satu yang harus kamu tahu, Ki. Aku sama sekali nggak pernah membenci kamu. Bahkan sampai saat ini, kamu masih Kia yang dulu, yang ada di hati kami," tambah Keil, membuat air mata Athi menggenang seketika karena terlalu tersentuh dengan ucapan Keil.


'Aku gak sangka, Keil ternyata bisa mellow juga,' batin Athi, yang sangat tidak menyangka tentang pribadi mereka yang sebenarnya.


Karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, Athi pun hanya diam, tidak bersikap atau berbicara apa pun di hadapan mereka, yang sedang mencurahkan isi hati dan perasaan mereka.


Keil dan Lucas meletakkan secara bergantian bunga yang sudah mereka bawa sebelumnya. Mereka memandang ke arah figura yang ada di hadapan mereka, dan lalu segera meninggalkan tempat itu.


Athi mengikuti arah mereka melangkah, hingga mereka kini sudah sampai di depan gedung tersebut.


Saking cepatnya mereka melangkahkan kaki, Athi pun menjadi sangat kesal dibuatnya.


Karena sudah terlalu kesal dengan tingkah mereka, Athi pun menghentikan langkahnya dan menghentak-hentakkan kakinya di atas aspal jalanan.


"Kesel banget!" teriak Athi dengan sangat kencang, tak peduli dengan keadaan sekitarnya itu.


"Tin ...."


Mendengar suara klakson mobil dari arah sebelah kanannya, Athi pun menoleh ke arah sumber suara. Kakinya mendadak lemas, karena di hadapannya kini melintas truk yang melintas sangat cepat.


Pandangan Athi seakan terhipnotis, dengan kaki yang sudah lemas tak berdaya, tidak bisa melakukan apa pun lagi. Ia hanya bisa menerima nasibnya, yang sepertinya sebentar lagi tidak akan selamat.

__ADS_1


Ia tersadar dari lamunannya, "Lucas, Keil!" teriak Athi, dengan sisa tenaga yang ia miliki.


"Tin ...."


"Hap!"


Dengan sangat cepat, Lucas pun menarik tangan Athi dengan sangat kasar, sehingga Athi pun masuk ke dalam pelukan Lucas.


"Tes ...."


Air mata seketika jatuh dari pelupuk mata Athi, karena merasa sudah sangat tegang dengan keadaan. Pikirannya sudah kacau, tidak tahu harus berkata atau berbuat seperti apa. Athi hanya bisa memeluk Lucas dengan sangat erat, sembari menangis di dada bidang Lucas.


"Dasar bodoh," gumam Lucas, membuat Athi mendelik dan tangisannya seketika pecah mendengar Lucas berbicara seperti itu.


Bukan karena tidak terima Lucas bilang bodoh, tetapi Athi sangat bersyukur, karena Lucas sudah berhasil menyelamatkannya, di waktu yang sangat tepat.


Keil yang mengetahui kejadian itu, segera menghampiri Athi dan Lucas. Wajahnya terlihat sangat panik, karena hampir saja terjadi sesuatu dengan Athi.


Melihat Lucas yang masih saja memeluk Athi, dengan segera Keil pun menarik tangan Athi dengan kasar, dan meninggalkan Lucas di sana sendirian. Hal itu membuat Lucas terdiam tanpa berekspresi.


Ia pun segera menyusul Keil dan juga Athi, yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkannya.


Keil mengajak Athi untuk duduk pada bangku taman, yang tak jauh dari stasiun. Keil pun mengeluarkan botol minum yang ia bawa di tasnya, kemudian segera menyodorkan ke arah Athi yang masih saja menangis.


"Minum dulu," ujar Keil, membuat Athi menerima minuman yang Keil berikan, lalu segera meminumnya sedikit.


Beberapa teguk air yang Athi minum, rupanya mampu membuat jantung Athi yang berdebar dengan kencang, perlahan kembali menjadi normal. Athi hanya kaget, karena dirinya yang hampir saja kehilangan nyawanya, hanya karena sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Lucas pun sampai di tempat mereka berada, dan berdiri di hadapan mereka yang sedang duduk pada bangku taman yang kosong itu.


"Gimana, masih kaget?" tanya Keil, membuat Athi seketika memeluk dirinya dengan sangat erat, membuat Keil mendelik kaget melihat reaksi Athi yang sepertinya sedang mengalami shock berat.


__ADS_2