
Lucas menghubungi Athi dengan handphone baru yang ia dapatkan dari direktur Cha, membuatnya sedikit senang dengan hal yang ia dapatkan ini.
Telepon terhubung.
“Halo, ini siapa?” sapa Athi yang heran dengan nomor baru yang menghubunginya itu.
“Ini aku,” jawab Lucas, sontak membuat Athi sangat terkejut karena mendengarnya.
“Kamu pakai handphone siapa?” tanya Athi yang bingung dengan keadaan.
“Nanti aja bicaranya. Kita bisa ketemu sekarang di resto dekat rumahmu gak?” tanya Lucas, Athi mendelik senang mendengarnya.
“Bisa! Tunggu, ya!” ucap Athi, membuat Lucas tersenyum mendengarnya.
Lucas mengakhiri teleponnya, dan memandang ke arah gelang murah yang ia beli di pinggiran jalan tadi.
‘Maaf, aku baru mampu kasih kamu ini,’ batin Lucas, yang sangat sedih melihat hadiah yang ia belikan untuk ulang tahun Athi.
Hari ini, adalah hari Athi berulang tahun. Namun, Lucas sama sekali belum bisa membelikan Athi kalung yang Athi lihat di toko perhiasan kala itu.
Cukup lama Lucas menunggu Athi, dan akhirnya Athi pun datang dengan dandanan yang sangat cantik di mata Lucas.
“Lucas!” pekik Athi yang sangat senang, lalu duduk di hadapan Lucas.
“Sudah lama nunggu?” tanya Athi yang khawatir Lucas menunggu lama.
“Sudah biasa,” jawab Lucas, membuat Athi mengerutkan bibirnya.
“Lucas!” teriak Athi, yang sikapnya masih saja sama seperti saat mereka bersahabat dulu.
Lucas tertawa kecil melihat tingkahnya, yang tidak pernah berubah.
“Jangan teriak, aku udah di sini, kok. Di sisi kamu.”
“Deg!”
Ucapan Lucas sontak membuat Athi terdiam, sembari menahan dadanya yang sedari tadi sudah berdebar dengan kencang.
Athi tidak menyangka, sedikit ucapan Lucas saja sudah membuat hati Athi menjadi tidak keruan.
Mereka pun memesan makanan, dan menyantap makanan dengan sangat bersemangat.
...***...
Lucas berjalan bersama dengan Athi, menuju ke rumah Athi. Ia masih bingung dengan apa yang harus ia ucapkan pada Athi.
__ADS_1
Lucas menghentikan langkahnya, membuat Athi mengentikan langkahnya juga. Mereka saling pandang, membuat Athi mendadak canggung karenanya.
Lucas menyodorkan sesuatu di hadapan Athi, “Selamat ulang tahun, sayang!” ucap Lucas, yang ternyata ingat dengan hari spesial Athi.
Hal itu membuat Athi sangat tersentuh mendengarnya. Athi tidak menyangka, kalau Lucas mengingat hari spesialnya itu.
Air mata Athi mendadak menggenang, membuat Lucas tersenyum memandangnya.
“Jangan nangis, maaf aku hanya bisa kasih ini. Nanti aku ganti dengan yang lebih bagus dan mahal, kalau aku sudah sukses,” ucap Lucas, sontak membuat air mata Athi luruh karena tersentuh mendengarnya.
“Pengen peluk!” gumam Athi, membuat Lucas tertawa mendengarnya.
“Ada banyak orang di sini,” ucap Lucas, yang masih malu-malu dengannya.
“Tapi aku mau peluk,” ucap Athi, yang tidak memedulikan mereka yang sedang berlalu-lalang di hadapannya.
Lucas memeluk Athi dengan ragu, karena tak bisa dipungkiri, ia juga merindukan pelukan Athi.
“Makasih, kamu sudah ingat,” ucap Athi, Lucas hanya bisa tersenyum mendengarnya.
Lucas melepaskan pelukannya, dan memandang ke arahnya.
Athi memandang Lucas dengan heran, “Bagaimana seleksinya?” tanya Athi, Lucas hanya tersenyum mendengarnya.
...-Flashback on-...
“Ya, kapan kamu mau mulai dikarantina?” tanyanya mengulang pertanyaannya yang tadi.
Lucas menjadi sangat senang, karena ia sangat tidak biasa mendengar penawaran sebagus ini dalam hidupnya.
“S-saya ....”
“Kamu bisa mulai besok,” ucap direktur dengan sangat tegas, sontak membuat Lucas terkejut mendengarnya.
Direktur Cha mengeluarkan amplop yang sangat tebal di hadapan Lucas, dan juga selembar kertas putih bermaterai. Hal itu membuat Lucas sangat kaget melihatnya.
“Tanda tangani dokumen ini, dan kamu akan terkontrak selama beberapa 5 tahun ke depan. Hidup kamu pasti terjamin,” ucapnya, sontak membuat Lucas terkejut mendengarnya.
Lucas memandangi perjanjian kontrak itu dengan saksama. Matanya mendelik, karena ia terkejut melihat salah satu point yang mengatakan, tidak boleh berpacaran selama terikat kontrak. Itu membuat Lucas sangat terkejut, dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Lucas memandang direktur dengan sangat ragu, “Saya pikir-pikir dulu,” ucap Lucas.
...-Flashback off-...
Athi mendelik mendengar penjelasan Lucas, karena ia sangat menyayangkan dengan Lucas yang sudah menolak kesempatan emas itu.
__ADS_1
“Kenapa kamu gak ambil kesempatan itu?” tanya Athi yang heran dengan Lucas, yang tidak mengambil kesempatan berharga seperti itu.
Lucas menghela napasnya panjang, karena bingung harus berkata apa pada Athi.
Lucas menunduk sendu, “Aku gak bisa jauh dari kamu,” ucap Lucas, sontak membuat Athi terkejut mendengarnya.
Hal itu memang sangat berat bagi Athi, tetapi masa depan Lucas sangatlah penting daripada dirinya.
Athi memandang ke arah Lucas dengan sendu, “Bagi aku, kesuksesan kamu itu lebih penting daripada apa pun. Kalau kamu sukses, aku juga ikut senang melihatnya,” ucap Athi, sontak membuat air mata Lucas jatuh dari pelupuk matanya.
“Tapi aku gak bisa jauh dari kamu. Masa karantina 1 tahun ke depan, aku takut kamu gak bisa nunggu aku,” ucap Lucas, membuat Athi mendelik karenanya.
Mau diapakan lagi, Athi tidak bisa melarangnya, karena ini menyangkut tentang masa depan kekasihnya.
Hal yang sangat sulit, untuk Athi jalani.
“Ya, dan lebih parahnya lagi, aku tidak boleh ketahuan memiliki hubungan dengan gadis mana pun. Itu akan menyalahi kontrak. Aku gak mau itu semua terjadi. Aku bingung, maka dari itu, aku meminta untuk pikir-pikir dahulu,” ucap Lucas menjelaskan, sontak membuat Athi bertambah sedih mendengarnya.
Athi tak bisa menutupi rasa kesedihannya, karena ini adalah pilihan yang sangat sulit. Memilih antara masa depan, atau gadis yang belum tentu jadi masa depannya, memang sangat sulit.
Athi menghela napasnya panjang, dan mempersiapkan dirinya. Ia tidak ingin menjadi orang yang sangat lemah di mata Lucas.
Athi menggenggam erat tangan Lucas, “Kalau aku jadi kau, aku pasti akan pilih masa depanku.”
“Deg!”
Perkataan Athi seolah-olah memaksa Lucas untuk menerima semua kehendak direkturnya. Lucas yang mendengarnya, mendadak bingung, karena merupakan pilihan sulit bagi dirinya, untuk memilih antara cinta dan cita.
Lucas menunduk sendu, dan menangis, saking tidak kuasanya ia karena menahan kesedihan yang sedang menerpanya.
Athi juga tidak bisa menahan tangisnya, dan malah menangis sembari memeluk Lucas.
Mengetahui Athi yang juga ikut menangis, membuat Lucas menjadi bertambah sedih, dan membalas pelukan Athi.
Tak bisa dipungkiri, Lucas memang sangat sedih, karena ia tidak bisa memutuskan saat ini juga. Ia harus mendengar ucapan Athi lebih dulu, karena ia tidak ingin menyesal, di kemudian hari.
“Kita akan jarang sekali bertukar kabar, lho! Bertemu juga harus menunggu sampai masa karantina selesai. Apa kamu sanggup?” tanya Lucas, yang sangat tidak tega mengucapkan ini pada Athi.
Lucas secara tidak sengaja, membuat dirinya sama seperti Keil, yang menghilang dari kehidupan Athi.
Dengan segenap hati dan perasaan Athi yang sudah sangat tersakiti, Athi pun mempersiapkan dirinya.
“Aku siap. Yang terpenting adalah, masa depan kamu.”
Mendengar hal itu, Lucas segera memeluk Athi kembali, karena sudah merasa menyakiti hati Athi.
__ADS_1
...***...