
Athi sudah menyelesaikan pembelajaran kali ini. Pikirannya sudah sangat berantakan, apalagi semua materi yang diberikan oleh Keil, sama sekali tidak dimengerti oleh Athi.
"Huah ... kamu ajarin aku materi apa, sih? Kok aku sama sekali gak ngerti?" tanya Athi, membuat Keil melirik dingin ke arahnya.
"Materi kelas 3 semester akhir," jawab Keil, membuat Athi seketika mendelik ke arahnya.
"Hah? Kamu gila, Keil? Kita aja baru kelas 1, kenapa kamu kasih aku materi kelas 3? Semester akhir pula?" tanya Athi dengan sinis, tetapi Keil sama sekali tidak memedulikan ucapannya.
Mereka berjalan menyusuri jalanan di sudut kota, dengan Keil yang sama sekali tidak bergeming. Athi keheranan dengan yang Keil rasakan.
"Hey," pekik Athi sembari melirik kecil ke arah Keil.
"Apa?" jawab Keil dengan datar, tanpa melihat ke arah Athi, membuat Athi merasa sedikit jengkel padanya.
'Sabar ...,' batin Athi yang masih menahan kesalnya.
Biar bagaimana pun, Keil sudah mengajarkan ilmu gratis padanya. Ia tidak bisa bersikap seenaknya pada Keil.
"So-soal wajahku yang seperti ini ... jangan kamu ceritakan sama Sua dan Imel, ya?" pinta Athi, membuat Keil menghentikan langkahnya.
Athi juga menghentikan langkahnya, dan memandang takut ke arah Keil.
"Untuk apa aku bilang-bilang ke mereka?" tanya balik Keil dengan datar, membuat Athi melongo kaget mendengar jawaban Keil.
Sudah menyiksa Athi selama 3 hari, Keil dengan mudahnya bicara seperti itu, membuat Athi sangat menyesal dengan ucapannya, yang katanya mau melakukan apa saja untuk Keil.
Athi mengepalkan tangannya, 'Sial! Kalau tahu dia gak akan kasih tahu ke mereka, aku gak akan mau disuruh-suruh seperti itu!' batin Athi, yang sedikit kesal dengan kelakuan Keil itu.
"Ah ... baguslah. Hey, ngomong-ngomong, kamu mau balik cepat?" tanya Athi, membuat Keil berpikir sejenak.
"Emm ... enggak sih, lagian besok masih libur," jawab Keil, membuat Athi bersemangat jadinya.
"Kebetulan! Temani aku duduk di sevel, ya! Nanti aku traktir camilan deh," ajak Athi dengan sangat senang.
Keil mengerenyit, "Hanya camilan aja?" tanya Keil dengan nada tinggi, membuat Athi melongo kaget mendengarnya.
"Habis apa lagi?" tanya Athi yang memang sangat polos.
Keil menepuk keningnya, "Ya satu paket, dong! Masa cuma camilan aja, gak minum. Memangnya gak seret orang!" ucap Keil dengan sinis, membuat Athi kaget mendengarnya.
__ADS_1
"Hah? I-iya juga ya ...," ucap Athi yang kaget, lalu menyeret intonasinya, "ya udah deh, sekalian sama jus jeruk juga!" ucap Athi membuat Keil lagi-lagi mengerenyitkan dahinya.
"Gak mau jus jeruk," ujar Keil dengan ketus, membuat Athi mendelik kaget mendengarnya.
"Ih, kamu banyak maunya! Ya sudah, pilih aja sendiri!" bentak Athi yang kesal lalu meninggalkan Keil di sana sendirian.
Keil memandangnya dengan tatapan aneh, melihat kelakuan aneh Athi yang semakin hari semakin tidak jelas bentuknya.
Mereka pun kini sampai di suatu tempat untuk berbincang, sembari membeli camilan dan minuman ringan.
Athi menatap ke arah Keil, "Kamu tunggu sini aja deh ya, takut tempatnya ditempatin orang. Biar aku yang ke dalam," ujar Athi, membuat Keil menyedekapkan tangannya.
"Jadi, aku disuruh jagain tempat? Udah kayak satpam aja!" ucap Keil dengan sinis, membuat Athi mendelik kesal mendengarnya.
"Ih, nanti kalau gak dapat tempat duduk gimana? Kamu mau makan sambil nangtung?" tanya Athi, semakin membuat Keil mengerenyitkan dahinya.
"Hah? Apa? Nangtung?" tanya Keil yang tidak mengerti dengan maksud perkataan Athi.
Mendengar Keil yang tidak mengerti ucapan Athi, Athi pun hanya menghela napas kasar di hadapannya, sembari mendelik kesal ke arahnya.
"Ih ... udah deh! Aku mau masuk dulu!" bentak Athi yang sangat kesal dengan sikap Keil yang baginya sangat random.
Melihat kepergian Athi, Keil pun hanya bisa duduk diam sembari menjaga tempat dan tas milik Athi.
Seorang wanita yang sedang mabuk tiba-tiba saja berjalan dengan gontai. Pandangannya tak sengaja melihat Keil, yang sedang duduk di sana.
"Hah! Itu ... idol bukan sih?" gumam wanita itu bertanya-tanya sendiri.
Dengan perasaan bersemangat, ia pun bergegas menghampiri Keil.
"Brukk!!"
Wanita itu langsung meletakkan kartu namanya, sembari tak sengaja menggebrak meja, saking bersemangatnya dia melihat Keil yang sangat tampan, ada di hadapannya.
Keil yang terkejut pun langsung menoleh ke arahnya.
"Hei, kamu idol bukan? Kalau bukan, masuk ke agensi saya, yuk! Kebetulan saya sedang mencari orang untuk dipromosikan menjadi artis. Apa kamu tertarik?" tanyanya, membuat Keil mendelik tak percaya dengan yang ia ucapkan.
"Hah? Artis?" tanya Keil yang tak mengerti dengan maksud wanita ini.
__ADS_1
Athi sudah selesai membeli beberapa camilan dan minuman ringan. Ia keluar dengan senangnya, dan tak sengaja dikejutkan dengan pertunjukkan Keil yang nampaknya sedang digoda oleh seorang wanita.
Athi mendelik, "Hah? Kakak?!" pekik Athi yang kaget melihat wanita yang ada di hadapan Keil, yang ternyata adalah kakaknya.
"Saya Zenith, panggil saja Zeti!" ucap Zeti dengan keadaan 80% mabuk.
Athi pun menghampirinya, dan segera memapahnya dengan susah payah.
"Kakak ngapain di sini?" tanya Athi dengan sangat khawatir dengan kakaknya.
Zeti menoleh ke arah Athi, "Lho, kamu siapa? Kok wajahnya ancur banget, sih?" tanya Zeti, membuat Athi kaget setengah mati dengan perkataan kakaknya yang sangat kejam itu.
'Duh ... kenapa orang mabuk selalu bersikap jujur, sih?' batin Athi yang tiba-tiba sesak mendengar perkataan sadis kakaknya.
"Tunggu ... sepertinya wajahmu familiar. Apa kamu adikku?" tanya Zeti, membuat Athi sudah semakin kesal dengan kakaknya itu.
"Duh ... ayo kita pulang!" bentak Athi pada Zenith, "Aku pulang dulu ya, Keil! Sampai jumpa!" pamit Athi, yang masih tetap memapah kakaknya itu.
Athi meninggalkan Keil di sana seorang diri, dengan keadaan Keil yang masih sangat bingung dengan ucapan Zeti.
Keil pun pulang ke rumahnya dengan keadaan bingung.
...***...
Athi sudah sampai di rumahnya, dan langsung meletakkan kakaknya di atas ranjang kamar tidurnya.
"Duh ...," gumam Athi yang sangat pegal memapah sepanjang jalan.
Athi pun menuju ke arah kamarnya, untuk segera mengganti baju dan juga membilas tubuhnya yang sudah terasa lengket itu.
Di sisi Keil, sesampainya ia di rumahnya, Keil langsung menuju ke kamarnya dengan gontai. Ia meletakkan tasnya di atas ranjang tidurnya.
Ia pun duduk di pinggir ranjang, sembari memegang kartu nama Zeti, dan memikirkan tentang ucapan Zeti padanya tadi.
"Artis, ya?" gumam Keil, membuat dirinya menghela napas panjang.
Keil melangkah menuju meja belajarnya. Ia membuka laci, lalu meletakkan kartu nama Zeti, bersama dengan semua kartu nama orang yang sudah pernah menawarkan dirinya untuk menjadi artis terkenal.
...***...
__ADS_1