Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Saatnya Telah Tiba


__ADS_3

Mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Perjalanan liburan kali ini, benar-benar membuat mereka sangat senang.


Meskipun Keil dan Lucas hanya ingin jalan berdua dengan Athi, tetapi mereka sangat menikmati liburan kali ini.


Athi memandang ke arah langit-langit kamarnya, berusaha untuk mengingat kembali momen indah bersama dengan teman-temannya itu.


“Kalau dipikir-pikir, ini adalah liburan pertamaku bersama teman-teman,” gumam Athi, yang sangat senang memikirkan kejadian hari ini.


Mereka berfoto bersama, dengan pose yang sangat lucu, sehingga membuat perjalanan ini menjadi terasa sangat menyenangkan.


Athi bangkit, dan segera mengambil foto mereka yang sudah ia cetak. Ia memasukkannya ke dalam sebuah bingkai, dan segera menggantung bingkai tersebut pada dinding dekat ranjangnya.


Ia memperhatikannya dengan saksama, karena ia sangat menyukai kebersamaan ini. Apalagi, Belle saat ini juga sudah ingin bergabung pada circle pertemanan mereka.


Athi tersenyum, “Jadi makin seru deh kalau rame,” gumam Athi, yang sangat senang dengan keadaan.


Athi kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah ranjang tidurnya, dan ia pun duduk di pinggir ranjangnya. Ia menoleh ke arah hadiah yang sudah ia persiapkan untuk Keil.


Tiba-tiba saja, teringat dengan kebersamaan mereka saat itu, saat mereka berfoto bersama saat perjalanan mungunjungi makam Kia.


“Pokoknya, kita bertiga gak boleh pecah! Harus selalu jadi satu, gak peduli dengan masa lalu yang udah kita lewati.”


Kalimat itu adalah ucapan yang ia ucapkan saat itu, selalu terngiang di pikiran Athi saat ini. Ia benar-benar sangat senang bisa berteman dengan Lucas dan juga Keil, walau terkadang mereka sangat menjengkelkan, tetapi mereka sudah beberapa kali menolong Athi.


Hal itu yang membuat Athi sangat senang berteman dengan mereka. Bukan mem-bully, tetapi malah memberikan pertolongan dan perlindungan untuk Athi.


Athi menghela napasnya dengan panjang, “Aku senang bisa kenal sama kalian,” gumamnya, seraya tak sadar meneteskan air matanya.


Di sisi sana, hal itu juga dirasakan oleh Keil. Saat ini, ia sedang merenung di pinggir ranjang tidurnya, sembari melihat-lihat isi galeri handphone-nya.


Karena sudah lama sekali tidak ber-selfie-ria, Keil merasa menjadi sangat canggung melihat foto dirinya di sini.


Keil memandangi foto dirinya dan juga Athi. Keil ternyata tak mau kalah dengan Lucas, ia akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Athi berfoto bersamanya.


...-Flashback on-...


Keil memandang sinis ke arah Athi, “Hey, foto bareng sama aku sekali!” ucap Keil terdengar sangat memaksa, membuat Athi terkejut mendengarnya.


Athi memandang ke arah Keil, dengan wajah yang terlihat sudah bersemu menjadi merah.


Karena tidak ingin membuat Keil malu, Athi pun segera mendekatkan dirinya dengan Keil, sehingga Keil menjadi kaget.


“Cheers!”


“Ckrek!”

__ADS_1


...-Flashback off-...


Keil menghela napasnya panjang. Wajahnya terlihat memerah seketika, karena ia merasa sangat malu mengatakan itu.


“Awalnya dia yang selalu minta foto sama aku. Kenapa sekarang malah aku yang minta foto lebih dulu sama dia?” gumam Keil yang sangat bingung dengan keadaan.


“Dring ....”


Keil terkejut, karena ia mendengar suara dering handphone-nya yang sedang ia pegang. Terlihat nama Azena pada layar handphone Keil.


Azena adalah kakak dari Keil, yang saat ini berada di Amerika, karena sedang fokus untuk melanjutkan sekolahnya di sana.


Keil menghela napasnya panjang, dan segera mengangkat telepon dari Azena.


Telepon pun terhubung.


“Halo, Kak.”


“Keil, tolong terbang ke Jepang sekarang. Ayah ... kecelakaan!”


“Bruk!”


“Prang!”


Tiba-tiba saja frame yang baru saja Athi tempelkan di dinding kamarnya, menjadi pecah seketika. Athi terkejut, karena mengetahui frame itu pecah di hadapannya.


Athi menoleh ke arah jendela kamarnya, yang ternyata terdapat angin yang sangat kencang.


“Apa karena angin?” gumam Athi, yang tak habis pikir dengan yang terjadi dengan foto ini.


Di sana, Keil merasa sangat hancur karena mendengar berita yang tak mengenakkan ini. Ia hanya bisa diam, tak bergeming. Air matanya luruh, karena tak kuasa mendengar ucapan Azena.


“Halo, Keil, apa kau masih di sana?” tanya Azena, Keil masih saja terdiam karena merasa sangat terpukul mendengarnya.


“Keil!”


“Aku ke sana, sekarang!” ucap Keil dengan spontan, berusaha untuk meneguhkan hatinya.


“Hati-hati!”


Telepon pun terputus. Keil menghela napasnya panjang, karena tak kuasa menerima kenyataan tentang ayahnya.


Walaupun hubungan mereka kurang baik, tetapi Keil tetaplah seorang anak. Hatinya sangat rapuh, ketika mendengar berita demikian tentang ayahnya.


Dengan perasaan yang sangat hancur, Keil pun mengemas barang-barangnya, yang ia perlukan untuk singgah di sana.

__ADS_1


‘Apa aku bisa meninggalkan Athi di sini? Aku tidak tahu, kapan akan kembali,’ batin Keil yang merasa sangat dilema.


Karena merasa tak sanggup, Keil pun menghubungi Lucas, untuk sekadar memintanya menemaninya selama perjalanan menuju ke bandara.


Keil menelepon Lucas, dan tak lama telepon pun terhubung.


“Halo,” sapa Lucas terdengar dingin.


Keil menghela napasnya panjang, berusaha untuk menahan dirinya, “Halo, Lucas.”


Mendengar suara Keil yang terdengar tidak seperti biasanya, Lucas pun seketika bangkit dari tempat tidurnya. Ia merasa kalau temannya ini sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


“Ada apa?” tanya Lucas yang mulai sedikit mengkhawatirkan Keil.


“Aku ... aku harus pergi ke Jepang saat ini,” ucap Keil, “bisakah kamu menemani ke bandara?” tanyanya membuat Lucas mendelik kaget mendengarnya.


“Kau mau pergi ke Jepang, Keil? Berapa lama kau di sana?” tanya Lucas yang terkejut mendengarnya.


“Aku ... tidak tahu.”


Lucas mendelik bingung, “Tapi, gimana dengan sekolahmu? Kita sudah mau ujian kelulusan, Keil!” ucap Lucas dengan sangat bingung.


“Aku tidak bisa jelaskan. Aku harus ke sana secepatnya,” ucap Keil, Lucas pun mengerti dengan maksud Keil.


“Aku ke sana sekarang. Aku akan sampai 5 menit dari sekarang. Tunggu aja!” ucap Lucas, membuat Keil tersenyum walau dalam tangis.


“Baik. Terima kasih.”


Keil mengakhiri telepon itu, dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Entah mengapa, mendengar berita ini, membuat Keil merasa sangat lemas. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Pikirannya di sana, padahal dirinya sedang ada di sini. Ia seakan menjadi bingung dengan yang ia lakukan.


Mendengar hal itu, Lucas segera bersiap, untuk menuju ke rumah Keil. Ia segera menyambar jaket yang tergantung, dan segera memakainya.


Tiba-tiba saja, ia teringat dengan Athi. Lucas tidak tega dengan Athi, yang sepertinya sangat tidak akan merelakan kepergian Keil.


Lucas terdiam sejenak, dan mengirimkan pesan singkat pada Athi.


“Tring ....”


Di sana, Athi yang sedang membereskan pecahan kaca frame yang terjatuh, dikejutkan dengan suara notifikasi dari handphone-nya. Ia yang penasaran, bergegas mengambil handphone-nya.


“Hah!”


Athi terkejut, melihat isi pesan singkat yang Lucas kirimkan padanya. Seketika air mata menggenang pada pelupuknya, dan ia segera bersiap dan menyambar hadiah yang akan ia berikan pada Keil.

__ADS_1


‘Keil mau pergi ke Jepang? Kenapa dia gak menghubungi aku? Kenapa malah Lucas yang menghubungi,’ batin Athi yang sangat terkejut, dan segera berlarian menuju ke arah bandara.


...***...


__ADS_2