
Saat jam istirahat berlangsung, Keil terlihat sedang duduk di kelasnya, untuk mempersiapkan semua buku yang diperlukan untuk pelajaran selanjutnya.
Tiba-tiba saja, Athi pun datang ke kelas Keil dengan sangat ceria, sembari membawa sepotong roti di tangannya.
Ya, mereka memang berbeda kelas, tapi mereka masih tetap bersekolah di sekolah yang sama, dan juga masih duduk di tingkat tiga, Sekolah Menengah Atas. Begitu pun Lucas, yang saat itu kedapatan satu kelas dengan Athi.
"Keil, lagi apa?" tanya Athi yang baru saja muncul dari balik pintu.
Athi pun segera berdiri di hadapan Keil, "Keil, aku nanya, lho!" ucap Athi, yang mempertegas ucapannya tadi.
Keil pun memandang ke arahnya, "Lagi nyuci baju," jawab Keil yang masih tetap merapikan buku pelajaran yang selesai digunakan di jam pertama, ke dalam tasnya.
Athi mendelik, "Gak jelas," gumam Athi yang tak dihiraukan oleh Keil.
Athi pun mengubah gimiknya, "Eh tau gak, tadi aku belajar bahasa Jepang lho di kelas. Begini nih ...," ucap Athi, yang membuat Keil mengalihkan fokusnya ke arah Athi yang tengah bersiap untuk memamerkan sedikit ilmu yang baru saja ia terima.
Athi saat ini, bagai padi yang belum terisi.
"Hajimemashite, watashi na--"
"Bukan na, tapi no," pangkas Keil dengan cepat, membuat Athi menghentikan ucapannya.
Athi mendelik, "Kok kamu tahu, sih? Padahal ... aku cuma mau ngetes kamu aja sih ...," ucap Athi, yang tidak mau terlihat salah di mata Keil.
Dasar wanita.
"Hajimemashite. Watashi no Ikeiru desu. Yoroshiku onegaishimasu," ucap Keil, lengkap dengan aksen layaknya orang Jepang sungguhan, membuat Athi mendelik ke arahnya.
"Wah ... keren!! Itu artinya apa, Keil?" tanya Athi yang terpukau dengan ucapan Keil tadi.
Keil memandangnya dengan dingin, "Artinya, hanya Tuhan yang tahu," jawab Keil dengan nada yang sukses membuat Athi mendelik kesal.
__ADS_1
Athi mengerucutkan bibirnya, "Ih! Gak jelas juga ya kamu lama-lama," gumam Athi yang sudah kesal dengan Keil, tapi Keil sama sekali tidak memedulikannya.
Keil membuka bukunya, untuk melanjutkan membaca pelajaran yang akan dibahas sebentar lagi. Pergerakan Athi yang mencoba mendekatinya, membuat Keil risih dengan tindakannya yang terlalu mencolok itu.
"Ada apa?" tanya Keil, tanpa memandang ke arah Athi.
"Keil ... boleh tau gak, kamu kok lancar banget bahasa Jepang? Itu kenapa?" tanya Athi dengan nada yang sangat manja, membuat Keil harus kuat-kuat menahan dirinya sendiri.
"Ayahku asli penduduk sana," jawab Kiel yang tidak ingin menambah bebannya.
Jawaban Kiel justru membuat bebannya semakin bertambah, karena mata Athi yang tiba-tiba saja mendelik terang, seperti terkena sorotan lampu.
"Beneran? Pantesan kamu jago banget bahasa Jepang! Eh btw, kamu udah pernah ke sana? Di Jepang gimana sih, dingin atau panas? Ada gak salju di Jepang? Terus saljunya mulai bulan apa? Terus-terus, kamu udah pernah ketemu sama Doraemon belum? Atau sama Sasuke gitu? Ih sumpah aku tuh suka banget sama kartun dan anime Jepang sana--" tanya Athi dengan sangat antusias yang tak dihiraukan oleh Kiel.
Kiel mendelik, karena tak tahan mendengar ocehan darinya.
"Duh ... kamu ngapain sih nanya begitu? Datang ke sini bikin rusuh, bawa roti cuma satu doang pula, aku kan juga lapar tahu!" bentak Keil dengan nada yang masih tertahan, karena memang dirinya yang tak pernah bisa berlaku kasar terhadap seorang gadis.
"Baiklah. Aku pernah tinggal di sana, sampai aku minder karena gak bisa bahasa Indonesia waktu awal aku pindah ke tempat ini. Ada empat musim di Jepang yaitu musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Biasanya salju turun pada akhir tahun, dan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Soal Doraemon atau Sasuke, jangan terlalu dianggap karena itu hanya kartun," ucap Azekeil melibas habis pertanyaan dari Athi tadi.
Athi mengangguk-angguk paham, "Oh ... gitu," gumamnya, "ya udah, ini rotinya untuk kamu," ucap Athi sembari memberikan roti itu pada Kiel.
Kiel hanya bisa memandang ke arah Athi, yang sedang menyodorkan roti yang ia bawa.
"Nanti aku ganti rotinya pakai hadiah yang bisa kamu pakai saat musim dingin. Sekarang roti ini aja dulu, sebagai tanda terima kasih karena udah jawab pertanyaan aku," ucap Athi yang terdengar sangat polos, membuat Keil menggelengkan kecil kepalanya.
“Memangnya kamu mau ngapain berjanji seperti itu?” tanya Keil, membuat Athi menjadi bingung menjawabnya.
“Ya ... gak ngapa-ngapain, sih! Aku cuma mau kasih hadiah aja buat kamu. Kemarin kan ... kamu udah kasih aku cokelat. Makanya, aku mau kasih hadiah untuk kamu,” jawab Athi, membuat Keil hanya bisa memandangnya dengan heran saja.
“Aku gak butuh dikasih hadiah, tuh,” ucap Keil, membuat Athi mendadak kesal mendengar ucapannya itu.
__ADS_1
“Tapi aku mau kasih kamu hadiah, gimana dong?” tanya Athi, Keil memandang datar ke arahnya.
“Lebih baik uang yang kamu niatkan untuk membeli hadiah, kamu pakai untuk keperluan pribadi yang lain, gak usah terlalu dipaksakan,” ucap Keil.
Suasana nampak rancu sejenak.
Athi memandang heran ke arah Keil, ‘Ternyata Keil bisa juga berbicara seperti itu. Sedikit perhatian juga sama aku,’ batin Athi yang sedikit terkesima pada Keil.
Keil memandangnya dengan datar, “Kamu kenapa? Kesambet?” tanya Keil, Athi seketika tersadar dari lamunannya.
“Enak aja! Aku gak kesambet tahu! Aku cuma heran aja, kenapa kamu bisa sampai perhatian seperti itu sama aku?”
Pertanyaan Athi membuat Keil tertawa kecil. Keil menyentil kening Athi cukup keras, membuat Athi mengaduh kesakitan karenanya.
“Aduh! Sakit, Keil!” bentak Athi, sembari menggosokkan tangannya pada keningnya.
“Siapa suruh kamu mikir macam-macam. Aku tuh bilang seperti itu sama kamu, supaya kamu berhemat, jangan buang-buang uang untuk sesuatu yang gak penting-penting banget!” bentak Keil, membuat Athi memandangnya dengan sinis.
“Bagi aku, kamu itu penting, kok!” ucap Athi dengan tegas, membuat Keil mendelik kaget mendengarnya.
Wajah Keil seketika merona, karena mendengar ucapan Athi yang seperti itu. mengetahui kalau kondisinya menjadi aneh, Athi pun tersadar dari apa yang ia ucapkan pada Keil tadi.
Athi menutup mulutnya dengan kedua tangannya, “Ups, maaf!” ucap Athi, yang segera pergi dari hadapan Keil.
Keil seketika tersadar dengan sesuatu yang sejak tadi ingin sekali ia ungkapkan.
“Athi!” pekik Keil, membuat Athi menghentikan langkahnya, “soal ayah aku, jangan kasih tahu ke siapa pun,” ucap Keil, membuat Athi mengangguk tanpa melihat ke arahnya.
Karena merasa sudah sangat malu, Athi pun pergi meninggalkan Keil di sana. Keil pun memandang ke arah roti yang Athi berikan padanya, dengan sedikit senyuman.
...*** ...
__ADS_1