Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Bimbang


__ADS_3

Lucas mendelik kaget, karena ia mendengar suara Athanasia yang sangat ia rindukan.


Lucas memejamkan matanya, “Saking rindunya aku sama Athi, aku sampai berhalusinasi dengar dia memanggil aku,” gumam Lucas, yang sangat kesal dengan rasa rindunya yang menyiksa.


“Lucas!” teriak Athi lagi, membuat Lucas mendelik, dan menoleh ke arah sumber suara.


Terlihat Athi yang berdiri di hadapannya, sembari berlinang air mata. Hal itu membuat Lucas semakin sedih saja memandangnya.


Tangisan Lucas seketika pecah, karena melihat Athi berada di hadapannya, dengan keadaan dirinya yang sudah sangat jatuh itu.


“Kita harus bicara,” ucap Athi, membuat Lucas tertegun mendengarnya.


Athi mengajak Lucas untuk duduk di tempat seadanya. Mereka saling menumpahkan tangis, karena sama-sama saling merindukan.


“Aku kangen kamu. Kenapa kamu gak kasih kabar ke aku?” tanya Athi, membuat Lucas merogoh handphone-nya dan menyodorkannya ke arah Athi.


Athi mendelik, dan mengambil handphone Lucas, untuk segera memeriksanya.


Athi memeriksa keadaan handphone Lucas, yang terlihat sudah sangat berantakan itu. LCD-nya sudah retak, mungkin sudah tidak bisa disentuh lagi.


Athi mendelik, “Kenapa handphone kamu begini?” tanya Athi yang heran dengan keadaan handphone Lucas.


...-Flashback on-...


Lucas mengayuh sepedanya untuk mengantarkan makanan kepada pelanggannya. Ia tidak memikirkan apa pun, karena ia sudah sangat terlambat untuk mengantarkan makanan tersebut.


Dengan napas yang sudah terengah-engah, Lucas segera melewati jalan yang sangat ramai, sehingga membuatnya harus menahan laju sepedanya.


“Permisi.” Lucas melewati kerumunan.


Lucas segera mengayuh kembali pedal sepeda, dan menyeberangi jalanan.


“Trak!”


Lucas menyadari kalau ada sesuatu yang terjatuh dari sakunya. Ketika sudah di tepi jalan, Lucas segera melihat kembali ke arah benda yang terjatuh.


Lucas mendelik, “Handphone!” pekik Lucas, yang segera berhamburan untuk mengambil handphone-nya.


“Tin ....”


Nahas, tak disangka handphone tersebut justru terlindas mobil yang sedang melaju, melewati perempatan jalan itu.


Lucas memandangnya dengan sangat sendu, karena ia yang sedikit lagi hampir berhasil menggapai ponselnya.

__ADS_1


Dengan perasaan sedih, Lucas segera mengambil handphone-nya, dan seketika tersadar dengan makanan yang harus ia antar.


...-Flashback off-...


Athi terkejut mendengarnya, dan ia tidak menyangka, kalau kekasihnya akan menghadapi ujian terberat dalam hidupnya.


Athi berusaha untuk memeluk Lucas, tetapi Lucas dengan sigap menghindari pelukan Athi, karena merasa sangat malu dengan keadaannya.


Athi mendelik, “Kenapa? Aku mau peluk kamu!” ucap Athi.


Lucas menunduk sendu, “Aku ... sedang tidak layak untuk dipeluk. Aroma tubuhku tidak enak, aku takut kamu mencium aroma yang tidak enak,” ujar Lucas, sontak membuat Athi mendelik karenanya.


Bagi Athi, hal itu tidak ia permasalahkan, karena saat ini yang ia butuhkan hanyalah pelukan dari Lucas saja.


“Aku cuma butuh pelukan hangat kamu aja. Aku gak peduli dengan yang lain,” sanggah Athi, membuat Lucas kembali meneteskan air matanya.


Ia sudah gagal menjadi seorang yang sangat membanggakan untuk kekasihnya.


“Kenapa kamu jadi begini sih?” tanya Athi, yang tak habis pikir dengan keadaan Lucas saat ini.


Lucas tidak mungkin memberitahukan pada Athi, kalau dia seperti ini karena banyak sekali tagihan yang harus ia bayarkan. Ditambah lagi dengan ulang tahun Athi yang sebentar lagi akan tiba. Lucas ingin sekali membelikan Athi hadiah ulang tahun.


Lucas menafikan pandangannya, “Aku cuma iseng,” jawab Lucas dengan sendu, membuat Athi sedih mendengarnya.


Hal itu membuat Athi menjadi sangat bingung menghadapinya.


Lucas memandang ke arah Athi dengan sangat tegas, “Athi, kita putus aja.”


“Deg!”


Hati Athi tiba-tiba menjadi sangat jatuh karena mendengar ucapan Lucas. Ini adalah kali pertama mereka bertemu kembali, setelah sekian lama, dan juga momen ini dipakai untuk memutuskan hubungan mereka.


Betapa hancurnya hati Athi saat ini.


Seketika air mata terus mengalir, membuat Athi menjadi sangat kesal karenanya.


“Apa sih maksud kamu, Lucas?” tanya sinis Athi, sontak membuat Lucas menjadi sangat tertekan.


“Aku gak bisa jadi yang terbaik untuk kamu. Kamu juga pasti malu, kan, punya pacar tukang antar makanan seperti aku?” tanya Lucas, Athi mendelik tak percaya dengan apa yang Lucas katakan.


“Gak gitu, Lucas ....”


“Lebih baik, kita sudahi saja,” ucap Lucas, Athi menjadi sangat bingung karenanya.

__ADS_1


Lucas segera pergi meninggalkan Athi, sontak membuat Athi menjadi sangat tertekan karenanya. Athi menunduk sembari menumpahkan tangisannya, karena ia sudah tidak mampu lagi menerima kenyataannya.


‘Kenapa Lucas tega seperti itu? Padahal aku gak permasalahkan itu,’ batin Athi yang sudah sangat tertekan karenanya.


Lucas berlarian ke arah resto tempat ia bekerja. Ia kembali menjalani kegiatannya menjadi seorang pengantar makanan.


Sampai pekerjaannya itu usai, dan ia pun segera pergi menuju tempat kerja yang kedua.


Lucas mengganti pakaiannya di toilet, dan tak sengaja bertemu dengan teman tokonya, yang bekerja sebelum Lucas melanjutkan shiftnya.


“Jangan malas-malasan. Selesai ganti baju, kau pel lantai toko,” titah temannya, sontak membuat Lucas terkejut.


Selama ini ia sama sekali tidak pernah mencari masalah dengan temannya itu. Ia bahkan sama sekali tidak berinteraksi dengannya, tetapi hari ini, Lucas dibuat terkejut, karena temannya yang mengucapkan kata seperti itu.


Dengan segera, Lucas mengambil kain pel, dan juga sebuah ember berisi air. Ia meniriskan air pada kain pel, dan segera mengusap lantai dengan kain pel tersebut.


Kaki Lucas saat ini sampai tidak terasa lagi. Ia sudah sangat lelah, ditambah harus menunaikan tugasnya pada pekerjaannya di tempat kedua ini.


Memegang kain pel saja, ia sampai gemetar. Ditambah efek sama sekali tidak terkena makanan sejak kemarin. Ingin membeli makanan, tetapi uang makan untuk satu minggu ke depan, harus dipotong karena terlambat hadir hari ini.


Hal itu yang membuat Lucas tidak bergairah.


Kuat sekali dia.


Lucas sudah selesai membersihkan lantai, dan segera kembali pada mejanya. Ia melayani pembeli, dengan segenap hatinya.


Hari yang kejam, lagi-lagi sudah terlewati oleh Lucas.


Kini, ia sudah sampai di depan pintu apartemennya. Ia membuka pintu tersebut, dan terkejut dengan surat-surat yang berserakan di bawah lantai rumahnya.


Hal itu membuat Lucas menjadi sangat frustrasi. Tenaganya diperas, hatinya sakit karena sudah memutuskan hubungan dengan orang yang sangat ia cintai, waktunya terbuang sia-sia, tetapi ia sama sekali belum bisa melunasi tagihan yang terus bermunculan.


Lucas menghela napasnya dengan sangat dalam. Hari ini memang benar, adalah hari paling berat dalam hidupnya.


Lucas duduk menyandar di pojok rumah, karena merasa sudah sangat tertekan denga keadaan.


Ia teringat dengan tawaran yang ditujuan padanya. Ia merogoh saku celananya, dan memperhatikan kartu nama yang saat ini sedang ia pegang.


Hal itu membuat Lucas menjadi sangat bimbang.


‘Apa aku harus menerimanya?’ batin Lucas.


...***...

__ADS_1


__ADS_2