Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Hadiah dan Permintaan Maaf


__ADS_3

Malam ini, Athi selalu memikirkan cara untuk memberikan hadiah pada Keil. Karena Keil tidak menginginkannya untuk membeli barang-barang yang tidak berguna, Athi menjadi berputar otak untuk memberikan Keil sebuah hadiah.


Athi memandang ke arah langit-langit kamarnya, sembari memeluk bantal yang sedari tadi ia pegang, “Gimana caranya aku bisa kasih hadiah ke Keil?” gumam Athi yang merasa sangat bingung dengan keadaan.


Ia beranjak untuk mencari dompet yang ia letakkan pada tas sekolahnya. Ia merogoh sedikit ke dalam tas tersebut, dan mengambil dompet yang sudah berhasil ia pegang itu.


Ia membukanya, dan menghitung jumlah uang yang tersisa yang berada di dalam dompetnya.


Athi menunduk sendu, “Sisa 50 ribu. Bisa untuk beli apa? Beli sabun? Masa sih, aku kasih Keil sabun mandi? Udah kayak waktu aku kecil aja, yang ngasih kado ke orang yang ulang tahun, isinya sabun mandi batangan. Cuma satu pula isinya,” gumam Athi, yang merasa malu dengan masa lalunya saat itu.


Athi memandang ke arah uang recehan yang ada di atas ranjang tidurnya. Ia berpikir dengan sangat keras, untuk mencari solusinya.


‘Benda yang bisa dipakai pada musim dingin?’ batin Athi yang mencari jawaban dari setiap pertanyaannya.


Mata Athi tiba-tiba saja mendelik, karena merasa sudah menemukan benda yang ia pikirkan.


“Aku kasih Keil syal aja kali, ya? Kan bisa dipakai buat musim dingin?” gumam Athi dengan sangat bersemangat dengan apa yang ia pikirkan.


“Aku harus tanya ibu!” gumam Athi yang dengan segera berlarian menuju ke arah ibunya.


“Bu!” pekik Athi sembari mencari keberadaan ibunya.


Ibu yang terlihat sedang merajut, merasa sangat terganggu dengan Athi yang berteriak-teriak dari arah kamarnya.


“Aduh ... ada apa sih, Thi? Ibu ada di ruang depan,” ucap ibu, membuat Athi segera berlarian menuju ke arah yang ibu beritahukan.


Melihat ibunya yang sedang merajut, Athi pun mendadak sumringah, karena ia bisa mengikuti ibunya, untuk merajut sehingga bisa menghasilkan sebuah syal, untuk diberikan kepada Keil sebagai hadiah.


“Bu, ajari aku merajut syal, dong!” ucap Athi dengan tiba-tiba, membuat ibunya menurunkan kaca mata berlensa besar yang sedang ia kenakan.


Ibunya memandang Athi dengan sangat heran, “Ada apa, nih? Biasanya ibu ajarin gak mau terus. Ini kenapa tiba-tiba aja mau?” tanya ibu, membuat Athi menyeringai ke arahnya.

__ADS_1


“Anak ibu ini ingin tahu, Bu! Masa ibu gak mau kasih tahu aku cara merajut, sih?” ucap Athi, membuat Ibu membenarkan sikap duduknya.


“Sini, pertama kamu pegang ini dulu, terus masukkan ke sini ...,” ucap ibu menjelaskan langkah demi langkah yang harus Athi lakukan untuk bisa memulai merajut membuat syal.


Segala cara sudah Athi lakukan, saking dirinya ingin sekali memberikan sebuah hadiah pada Keil. Gagal, coba lagi. Itu yang Athi lakukan kali ini. Ia tidak tidak menyerah sampai situ.


Ibunya sering kali marah padanya, karena ia selalu salah melakukan hal yang ibu ajarkan. Akan tetapi, Athi tidak menyerah sampai situ saja. Ia terus belajar dari kesalahan, hingga akhirnya ia berhasil merajut sebuah syal yang sangat bagus.


Athi memandang ke arah syal yang ia pegang, dengan mata yang berbinar. Athi sangat senang dengan pencapaian yang sudah ia gapai. Hanya dengan beberapa kali belajar saja, sudah membuat kemajuan sebesar ini pada dirinya.


Ibunya mengelus pundak Athi, “Bagus, kamu sudah bisa membuatnya dengan cukup sempurna,” ucap ibunya, yang sangat senang melihat kemajuan pesat putri bungsunya itu.


Athi tersenyum ke arah ibunya, “Terima kasih, Bu. Ibu udah ngajarin aku untuk membuat syal ini. Lain kali, aku pasti akan buat yang lebih bagus dari ini,” ucap Athi, yang sangat senang dengan karya pertamanya yang sangat bagus baginya.


“Yap, harus belajar lagi kalau gak mau hilang ilmu yang didapat dengan susah payah,” ucap ibu, membuat Athi mengangguk kecil ke arahnya.


Athi pun segera membawa syal itu ke dalam kamarnya, dengan perasaan yang sangat senang. Ia melayangkan tubuhnya ke atas ranjang tidurnya, dan memandangi syal yang masih ia pegang itu.


Dengan segera, Athi pun bangkit dan membungkus syal tersebut ke dalam kotak yang sebelumnya sudah ia persiapkan.


Dengan sangat teliti, Athi pun menutup hadiah itu, dan segera membungkus hadiah yang sudah susah payah ia buat itu. Akhirnya, ia sudah selesai membungkusnya.


Matanya berbinar memandang ke arah hadiah yang ada di hadapannya itu, “Yap sudah siap! Aku tinggal kasih ke Keil aja deh!” gumam Athi dengan sangat senang.


“Drtt ....”


Athi merasa kalau handphone-nya bergetar. Ia dengan segera melihat isi pesan yang baru saja masuk ke dalam kotak masuknya.


“Aku ada di bawah. Bisa temui aku sebentar?” Isi pesan singkat yang Lucas kirimkan pada Athi.


Dengan perasaan bingung, Athi pun memandang ke arah layar handphone-nya.

__ADS_1


“Lucas, kenapa tiba-tiba ada di bawah? Kenapa ya?” gumam Athi yang bertanya-tanya dengan hatinya.


Dengan segera, Athi pun melangkah menuju ke arah Lucas berada. Athi segera melihat ke arah pintu keluar dari rumah susunnya, dan memang benar ada Lucas di sana.


Athi berlarian, sampai tidak memperhatikan langkahnya saat menuruni tangga. Akan tetapi, itu tidak membuat Athi sampai jatuh ke aspal.


Athi berhadapan dengan Lucas, dengan sangat kaku.


“Hai Lucas,” sapa Athi yang baru saja datang dan berhadapan dengan Lucas.


Dengan wajah yang merona, Lucas pun memberanikan diri untuk memandang Athi.


Melihat ekspresi Lucas yang seperti itu, membuat Athi sangat heran dengan tingkahnya.


“Ada apa, Lucas?” tanya Athi, Lucas tertegun mendengarnya.


Lucas menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “Athi, aku datang ke sini, untuk ...,” ucapan Lucas terpotong, karena ia tidak bisa mengatakannya dengan sangat lancar.


Athi semakin memandangnya dengan dalam, membuat Lucas semakin merasa terpojok karena pandangan Athi yang seperti itu padanya.


Athi mengerenyitkan dahinya, “Kamu kenapa sih? Kok gak jelas gitu?” tanya Athi yang penasaran dengan tujuan Lucas.


Lucas menghela napasnya dengan panjang, “Athanasia, aku datang ke sini, hanya untuk meminta maaf sama kamu. Maaf kalau perkataanku waktu itu membuat kamu tersinggung. Aku tidak mau terus-terusan seperti ini padamu. Aku ingin kita berteman seperti kemarin,” ucap Lucas yang mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke tempat ini.


Mendengar hal itu, mata Athi membulat, karena ia merasa kalau Lucas sudah bisa menyadari kesalahannya. Sejujurnya Athi juga tidak ingin terus-menerus merasa seperti ini dengannya. Athi merasa tidak nyaman, jika terus-menerus seperti ini.


Athi memandang ke arah Lucas, “Iya, aku maafin kamu kok. Maafin aku juga ya, kalau ada ucapan yang salah dari aku,” ucap Athi, membuat Lucas memandangnya dengan sangat senang.


“Terima kasih, Athanasia.”


...***...

__ADS_1


__ADS_2