
Malam itu, Athi berdiam diri di kamarnya, merasa sangat sedih karena Agha yang belum membalas pesan singkatnya juga.
Athi memandang layar handphone-nya, sembari memandangi pesan yang hanya ceklis dua saja.
"Dia benar-benar sibuk, ya?" gumam Athi, yang belum kunjung juga dibalas pesannya oleh Agha.
Athi pun memandang langit-langit kamarnya, berusaha untuk menghilangkan kesedihan yang ia rasakan.
"Duh ... baru aja mau bahagia, udah galau begini," gumam Athi, mendadak kesal dengan dirinya sendiri.
Athi teringat dengan anak laki-laki yang selalu memanggilnya dengan sebutan serangga, membuatnya menjadi sangat ilfeel jadinya.
Athi memandang sinis, "Gara-gara dia, mungkin Agha jadi kesel sama ucapannya. Padahal kan ... mungkin aja maksud Agha gak begitu!" gumam Athi, yang malah membela Agha.
..."Tring ...."...
Athi terkejut mendengar notifikasi handphone-nya. Ia sangat excited untuk melihat pesan tersebut, yang ia pikir dari laki-laki yang ia sukai.
"BESOK KAN SABTU, JANGAN MALAS IKUT KEGIATAN KLUB! AKU TUNGGU DI KAFE WAKTU ITU."
Ekspetasi Athi dibuyarkan dengan realita pesan singkat yang masuk, yang ternyata adalah pesan singkat dari Keil, yang mengingatkan tentang kegiatan klub, besok pagi.
Athi mendadak geram karenanya, "Keil ini! Apa capslock-nya beneran jebol? Kenapa setiap kirim pesan selalu pakai kapital?" gumam Athi yang kesal dengan Keil.
^^^"Bawel! Lain kali kalau masih pakai capslock, aku gak mau balas!"^^^
Athi membalas demikian, membuat Keil menjadi sangat geram karenanya.
Keil mengerenyitkan dahinya, "Memangnya salah ngetik pakai capslock? Gak ada ruginya kan, untuk dia?" gumam Keil yang tertular kesal oleh Athi.
Di sana, Athi sejenak melupakan permasalahan Keil, dan kembali memikirkan Agha, yang tak kunjung membalas pesan singkatnya.
Athi pun kembali menatap layar handphone-nya, "Apa ... aku telepon aja, ya?" gumam Athi, yang kesal sendiri dengan keadaan.
..."Dring ...."...
Di sana, handphone Agha berdering, membuatnya terkejut karena suara dering handphone-nya yang terlalu nyaring baginya.
"Engh ...."
Seorang gadis yang tak mengenakan busana terdengar melenguh, dan terbangun dari tidurnya karena mendengar suara handphone Agha yang terlalu keras.
__ADS_1
"Gha, handphone kamu bunyi," pekik gadis itu.
"Biarkan aja, itu telepon dari adikku," jawab Agha, yang ternyata berada di sebelah gadis yang tak berbusana itu.
Agha pun berbalik, lalu memeluk gadis itu dengan sangat erat.
"Tetaplah seperti ini," gumam Agha yang sepertinya sangat kelelahan karena bermain-main dengan gadis itu.
Di sana, Athi merasa sangat sedih, karena teleponnya tak kunjung terhubung dengan telepon Agha. Ia mendadak menjadi cemas, karena Agha yang tak bisa dihubungi.
"Agha sibuk apa, sih?" gumam Athi yang agak kesal dengan sikap Agha terhadapnya.
...***...
..."Dringg ...."...
Athi terkejut karena mendengar dering handphone-nya yang berdering terlalu keras, sehingga membuatnya terbangun dari tidurnya.
..."Bipp ...."...
"Halo?" sapa Athi yang masih setengah sadar itu.
"Halo, Thi! Kamu belum bangun?" tanyanya, membuat Athi mendelik.
"Kamu ikut kegiatan hari ini, gak?" tanyanya.
Athi yang penasaran dan masih setengah sadar, segera melihat ke arah layar handphone-nya. Di sana tertera nama Imel, membuat Athi kembali menempelkan handphone ke telinganya.
"Aku? Ikut," jawab Athi.
"Tolong bilangin ya, aku mau pergi sama ayah. Oh ya, Sua juga katanya mau ada latihan basket. Jangan lupa sampaikan!" ucap Imel, membuat Athi menghela napasnya panjang.
"Jadi, aku sendiri lagi, nih?" tanya Athi yang masih setengah sadar dengan ucapannya.
"Ya ... begitu deh. Udah ya, bye!"
..."Tuuuuttt ...."...
Athi memandang teleponnya seketika, sesaat setelah telepon terputus. Athi menggaruk-garuk rambutnya, karena merasa dirinya sangat malas untuk belajar pagi ini.
"Duh ... males banget! Hari libur tuh harusnya refresh otak! Lah ini malah disuruh belajar lagi!" gumam Athi merasa kesal dengan keadaan.
__ADS_1
Ia bergegas mandi, untuk bersiap menuju ke kafe yang ditentukan Keil tadi malam.
...***...
Athi keluar rumah dengan sangat santai. Hanya mengenakan kaos pendek, kacamata hitam, dan juga celana training seperti biasa. Ia sangat malas untuk berdandan seperti biasa, karena ini adalah hari libur.
"Akhirnya nyaman banget muka! Karena Sua dan Imel gak datang, harusnya cuma ada Keil aja, kan? Jadi ... gak masalah!" gumam Athi yang sangat senang dengan wajah tanpa make up itu.
Athi pun sampai di tempat tujuan. Athi segera mencari tempat duduk yang paling nyaman, untuk dirinya belajar nanti.
Athi melihat ke arah meja yang kosong di pojok ruangan, "Nah! Di situ cocok kayaknya!" gumam Athi, sembari melangkah senang menuju ke arah meja kosong itu.
Athi pun duduk di sana, dan menunggu Keil datang ke tempat ini.
Ia menoleh ke segala arah, "Keil tumben gak datang awal? Biasanya kalau hari libur, dia paling duluan datang?" gumam Athi yang heran dengan keadaan.
Setelah beberapa saat menunggu, Athi pun melihat Keil yang tiba-tiba saja datang dari arah pintu masuk kafe, membuat Athi melongo terheran-heran dengannya.
Keil pun menyadari keberadaan Athi di sudut ruangan. Ia pun dengan segera menghampiri Athi di sana.
"Hey!" sapa Athi dengan sangat bingung, tetapi Keil tak menghiraukannya dan malah duduk di sebelahnya.
Athi memandang Keil dengan heran, karena sepertinya ia mendapati keanehan yang ada di diri Keil.
'Eh ... kok Keil hari ini beda, ya?' batin Athi, yang bingung melihat gaya rambut baru Keil yang ia lihat ini.
Athi kembali memandanginya dengan saksama. Ia melihat Keil dengan sangat heran, karena hanya dengan sedikit mengubah gaya rambutnya saja, sudah membuat Keil terlihat sangat mirip dengan idol yang ia lihat di majalah yang diberikan Imel kemarin.
'Hah, masa sih ... dia ngikutin gaya rambut idol yang kemarin?' batin Athi yang masih tak percaya dengan yang ia lihat di hadapannya.
Keil melirik ke arah Athi, yang saat ini sedang memperhatikan dirinya dengan saksama.
Keil memandang Athi dengan sinis, "Ada apa?" ketus Keil, membuat Athi terkejut dengan keadaan.
"Eh!" gumam Athi, yang bingung dengan keadaan.
Athi berusaha mencerna keadaan, dengan mengedipkan matanya dengan cepat, berusaha mengembalikan kesadarannya dengan segera.
"Keil, kamu ... apa lagi ikuti gaya rambut idol yang kemarin ada di majalah itu?" tanya Athi dengan sedikit menggodanya.
Keil pun menafikan pandangannya, dan segera menuliskan materi yang akan dibahas nantinya.
__ADS_1
"Jangan mengada-ada! Kerjakan aja soal yang ada di depan kamu!" bantah Keil, membuat Athi menoleh ke arah hadapannya.
Athi mendelik, "Ah! Sejak kapan ada lembar soal di sini?" ucap Athi yang kaget dengan keadaan, tetapi Keil sama sekali tidak memedulikannya.