Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Permintaan Maaf Tersembunyi


__ADS_3

Karena merasa sudah sangat kesal dengan Lucas, Athi pun segera menuju ke kantin. Karena perutnya yang terasa sangat lapar, Athi segera membeli makanan yang biasa ia beli untuk mengganjal perutnya yang sudah lapar.


“Pesan siomay satu!” ucap Athi, yang dengan segera dibuatkan pesanannya oleh pemilik dagangan yang ia beli.


Athi menunggu dengan sabar, membuat dirinya merasa agak sedikit tenang, karena sudah bisa melupakan sedikit tentang permasalahannya dengan Lucas.


Keil tiba-tiba saja datang, dan tak sengaja Athi melihatnya dengan saksama.


“Lho, Keil? Tumben ke kantin?” sapa Athi yang heran dengan Keil yang sangat jarang datang ke kantin.


Keil menatapnya dengan dingin, “Memangnya karena jarang ke kantin, aku jadi gak boleh ke sini lagi, gitu?” tanya Keil yang dingin, membuat Athi menjadi sangat kesal padanya.


Belum habis masalah Lucas, sudah ada masalah Keil lagi yang membuatnya kesal.


“Duh ... sama-sama bikin kesal aja!” gumam Athi yang sedikit geram dengan tingkah mereka.


Keil heran mendengar Athi berbicara seperti itu, “Kau samain aku sama siapa?” tanya Keil yang merasa tersinggung dengan Athi yang seperti itu.


Mendengar pertanyaan Keil, Athi jadi tidak enak padanya.


“Ah ... enggak, kok!” ucap Athi sembari menyeringai ke arahnya.


Athi berusaha mencari cara untuk mengalihkan topik pembicaraan. Kebetulan sekali, pesanan Keil sudah siap. Athi jadi terpikir untuk mengajaknya makan bersama.


“Eh Keil, makan bareng, yuk!” ajak Athi, Keil hanya bisa memandangnya dengan tatapan yang sinis.


“Kamu mau alihkan topik?” tanya Keil yang membuat Athi merinding mendengarnya.


‘Gila si Keil, kok paham ya?’ batin Athi kaget dengan Keil yang bisa paham dengan maksudnya.


“Aku dengar.”


“Deg!”


Athi semakin menganga, karena Keil yang katanya mendengar ucapan Athi dalam hati.


“Ka-kamu dengar apa, Keil?” tanya Athi.

__ADS_1


“Suara hati kamu.”


“Masa?” tanya Athi tak percaya dengan apa yang Keil ucapkan.


“Berarti benar, kamu bicara sesuatu di dalam hati?” bidik Keil, membuat Athi semakin bingung.


“Ih apaan sih?” tanya Athi yang tak mengerti dengan maksud Keil.


“Mana bisa aku dengar suara hati kamu? Itu tuh cuma trik psikologi aja!” ujar Keil, “berarti benar, kamu mikir macam-macam di dalam hati?” tanya Keil.


Mendengar ucapan Keil, membuat Athi menjadi tidak bisa berbicara lagi. Ia sudah terlalu stuck untuk bisa berbicara dengan Keil yang tidak jelas itu.


“Ah ... udah ah! Gak jelas juga lama-lama! Kamu tuh sama aja kayak Lucas! Sama-sama gak jelas!” bentak Athi yang lalu meninggalkan Keil di sana.


Keil memandangnya dengan heran, “Heh!” pekik Keil, yang tak dihiraukan Athi.


Keil pun segera menghampiri arah Athi pergi. Di sisi sana, Lucas masih tetap setia memperhatikan Athi. Mendengar ucapan Athi yang tadi, Lucas jadi merasa bersalah karena sudah membuat Athi menjadi marah.


‘Harus minta maaf sama dia,’ batin Lucas yang mau tidak mau harus memutar otak, untuk mencari cara meminta maaf yang baik pada Athi.


Lucas menoleh ke arah pendingin minuman. Ia sangat ingat, Athi sangat menyukai jus kotak itu. Lucas pun terdiam sejenak.


Seumur hidup Lucas, ia tidak pernah meminta maaf pada gadis mana pun, kecuali adiknya. Ia tidak tahu cara meminta maaf yang baik dan benar pada seorang gadis.


“Duh ... gimana, ya?” gumam Lucas yang kebingungan sendiri dengan apa yang akan ia perbuat selanjutnya.


“Kalau aku belikan dia minuman ini, apa akan menjamin diberi maaf padanya?” gumam Lucas lagi, berusaha untuk menimbang dan berpikir.


“Ah, daripada tidak sama sekali? Coba dulu aja, deh!”


Lucas pun membeli minuman kotak itu, untuk melancarkan aksinya meminta maaf pada Athi. Ia mengambilnya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan, kemudian menoleh sedikit ke arah Athi yang sedang bercengkerama dengan Keil di sana.


“Kenapa susah banget mau minta maaf juga?” gumam Lucas, yang sedikit iri dengan Keil yang masih bisa berbincang dengan Athi sehangat itu.


Padahal Lucas tahu, kalau Athi juga sedang kesal dengan Keil tadi. Akan tetapi, Athi sama sekali tidak terlihat marah dengan Keil, bila dipandang dari kejauhan seperti ini.


Lucas tersadar dari lamunannya, dan segera kembali ke kelasnya.

__ADS_1


“Bruk ....”


Lucas tak sengaja menabrak seseorang, saat ia berjalan tak melihat ke arah hadapannya. Orang itu pun terkejut, begitu juga Lucas.


“Lucas? Ngapain?” panggil gadis yang ia tabrak, yang ternyata adalah Sua.


Lucas memandangnya dengan dingin, “Maaf.”


Tanpa basa-basi, Lucas segera pergi meninggalkan Sua di sana. Ia tidak ingin kalau Sua mengetahui tentang permasalahannya dengan Athi.


Melihat tingkahnya yang aneh, Sua pun hanya bisa bertanya-tanya dalam hati tentang kelakuan Lucas yang tidak seperti biasanya.


Lucas kembali ke kelasnya. Ia pun duduk menuju ke tempat duduknya. Ia meletakkan minuman yang baru saja ia beli di kantin, sembari berpikir sejenak.


‘Kalau aku letakkan aja di mejanya, nanti orang lain lihat dan gak paham ini punya siapa. Kalau aku kasih orangnya langsung, dia pasti gak akan terima,’ batin Lucas, yang kebingungan dengan langkah yang akan ia ambil selanjutnya.


Ia pun berpikir mengenai cara yang tepat untuk memberikan minuman ini pada Athi.


‘Kalau minta tolong sama orang, nanti mereka pada iseng ngatain aku bucin! Ah serba salah!’ batin Lucas yang kesal sendiri dengan keadaan.


Ketika melihat sebuah buku dan pulpen yang ada di hadapannya, Lucas terpikir sebuah cara untuk memberikan minuman ini pada Athi.


Ia segera membuka buku dan merobek secuil kertas, untuk ia tuliskan kata ‘Maaf’ di sana. Ia sudah selesai melakukan tugasnya, dan segera meletakkan minuman itu di atas meja Athi, berharap Athi bisa memaafkannya setelah ini.


Setidaknya, hanya itulah yang Lucas bisa untuk meminta maaf pada Athi.


Lucas memandang ke arah minuman yang sudah ia letakkan di meja Athi, ‘Kalau ini gagal, gimana?’ batin Lucas yang sangat kebingungan dengan yang ia lakukan ini.


Ia hanya bisa menghela napasnya panjang, sembari membiarkan takdir bekerja padanya.


Jam istirahat pun selesai. Athi terlihat berjalan memasuki kelas, sementara Lucas hanya menulis-nulis tidak jelas saja di bukunya.


Athi memandang ke arah Lucas yang sepertinya tidak ingin melihatnya. Athi pun tidak ingin kalah darinya, dan segera menafikan pandangannya dari Lucas.


Athi tak sengaja melihat ke arah mejanya, yang sudah terdapat minuman kotak dan secuil kertas bertulikan kata ‘Maaf’ di sana. Melihat hal itu, Athi segera menoleh ke arah Lucas yang duduk di belakang, tetapi Lucas masih berpura-pura tidak melihatnya.


Hal itu cukup membuat hati Athi tersentuh. Athi pun berbalik menghadap ke arah papan tulis, sembari tersenyum karenanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2