
Mereka sudah kembali ke vila, karena hujan deras yang mengguyur ternyata sudah lebih reda dari sebelumnya.
Athi memegangi payung, dengan Keil dan Lucas yang berada di sisi kiri dan kanannya.
Athi menoleh ke arah Lucas dan Keil, yang sejak tadi hanya berdiam diri saja. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka.
Hal itu sontak membuat Athi penasaran, dengan apa yang terjadi dengan mereka.
“Kenapa semuanya diam, sih?” tanya Athi yang heran dengan kelakuan Keil dan Lucas.
Mereka tak memedulikan ucapan Athi, membuat Athi menjadi sangat kesal dibuatnya.
‘Padahal, kalau jadi seperti dulu lagi, pasti akan seru,’ batin Athi, yang memang sama sekali tidak peka dengan keadaan.
Tidak ada orang yang bisa menerima orang yang disukainya mendekat dengan rivalnya. Hal itu terjadi dengan Lucas dan Keil.
Padahal, sebelumnya Lucas dan Keil tidak melakukan hal itu terhadap Kia.
Kia memang menyukai Keil, tetapi Keil tidak menyukainya. Sama seperti Lucas, yang juga tidak menyukai Kia.
Akan tetapi, ketika mereka bertemu dengan Athi, dunia seakan berubah. Mereka jadi rela merebutkan hati Athi.
Entah siapa pemenangnya, dan siapa yang dijadikan pelampiasan saja oleh Athi.
Intinya, mereka sama-sama terluka.
Setelah beberapa jam berjalan, akhirnya mereka sampai pada vila sebelumnya. Di sana, teman-teman mereka ternyata sudah menunggu mereka, dengan memainkan kembang api bersama.
Athi memandang dari kejauhan, cahaya dari kembang api yang terpancar, membuat Athi penasaran dengan permainan itu.
“Wah ... mereka lagi main kembang api! Aku juga mau ikut!” teriak Athi, yang lalu melepaskan payung yang ia pegang, sehingga membuat Keil dan Lucas menjadi risih terkena payung tersebut.
“Duh ... si bodoh itu!” gerutu Keil, yang kesal dengan sikap Athi.
Lucas memandang Keil dengan sinis, “Jangan panggil dia bodoh!” ucap Lucas menegur sang rival, Keil hanya bisa terkekeh kecil mendengarnya.
Athi menghampiri mereka yang tengah asyik bermain kembang api. Mereka yang menyadari kedatangan Athi, sontak tersenyum memandangnya.
__ADS_1
“Eh Athi! Dari mana aja kamu?” tanya Belle yang bingung dengan kedatangan Athi yang tiba-tiba.
“Aku habis jalan-jalan sama Lucas dan Keil,” jawab Athi dengan sangat polos.
Sua dan Imel mendekat ke arah Athi, “Asik, bisa kencan dengan dua orang sekaligus nih!” ledek Sua.
Imel tertawa geli, “Duh ... pasti Athi bingung kan harus milih siapa?” sambar Imel, sontak membuat Athi tidak enak dengan Keil dan Lucas, yang sudah berada di hadapannya itu.
“Ah, hayo pilih antara dua dong! Jangan pilih keduanya!” tambah Sua, yang masih senang meledek Athi.
“Gak! Mereka kan ... sahabat aku. Kita gak akan terpisahkan,” ujar Athi.
Ucapan Athi lagi-lagi membuat Keil merasa sangat sedih, karena ia merasa kalau Athi hanya menganggap dirinya sebagai teman saja. Berbeda dengan Lucas, yang sangat senang karena mereka ternyata masih bisa seperti dulu.
“Ayo kita main kembang api!” ajak Belle, Athi hanya mengangguk sembari tersenyum mendengarnya.
Athi menerima sodoran kembang api tersebut, dan sangat senang karena bisa bermain kembang api bersama dengan teman-temannya.
Imel melangkah menuju ke arah Lucas dan Keil, “Ini, kalian main juga!” suruh Imel, seraya memberikan kembang api itu ke arah mereka.
Keil dan Lucas terpaksa menerimanya, karena mereka bingung dengan Imel yang tiba-tiba saja memberikannya pada mereka.
Sebelum menjadi seorang idol, Lucas sangat bebas berekspresi. Ia sampai menginap di warnet selama berhari-hari, dan tidak berangkat ke sekolah. Semua hal ia lakukan dengan sangat bebas, tanpa paparazzi yang berkeliaran.
Sekarang semua seakan berbeda. Semuanya direnggut oleh sebuah kertas putih bermaterai, bahkan cintanya saja pun direbut oleh kertas tersebut.
‘Ternyata aku rindu masa-masa ini,’ batin Lucas yang sangat merindukan kebebasannya.
Keil juga merasakan hal yang sama. Keil merasa dirinya sangat rindu dengan masa kecilnya yang bahagia, sebelum semuanya terampas seperti saat ini.
Ibunya sudah tiada, dan ayahnya kini harus terbaring di ranjang rumah sakit, dengan jarum infus dan selang yang terpasang di tubuhnya.
Ia harus hidup dengan baik seorang diri, karena kakaknya yang saat ini sedang melanjutkan karir di Amerika, yang tentu saja tidak bisa mengontrol Keil sepenuhnya.
‘Aku rindu masa-masa bersama ibu,’ batin Keil yang sangat sedih mengingat masa-masa indah mereka, saat ibunya masih hidup.
Semua orang tentu memiliki permasalahannya masing-masing, dengan tingkat yang berbeda-beda. Namun, tak bisa dipungkiri, kalau itu semua membuat sesak hati yang mengalami.
__ADS_1
Mereka hebat, bisa tahan dengan segala permasalahan yang ada.
Lucas memandang ke arah Athi dan Keil, “Aku harus pergi malam ini juga,” ucap Lucas, sontak membuat Athi dan Keil terkejut mendengarnya.
“Lho, kenapa pergi cepat banget? Gak mau menginap dulu?” tanya Athi yang masih tidak rela melepas Lucas pergi.
Athi tahu, Lucas sudah menjadi semakin sibuk. Akan sangat jarang bagi mereka untuk bisa kumpul seperti ini lagi.
“Gak bisa, karena aku harus melakukan konser debut dua hari lagi. Kita gak bisa sering ketemu seperti dulu, jadi ... jangan rindu, ya?” ujar Lucas, membuat Keil menyipitkan matanya.
“Aku gak akan rindu, tuh!” umpat Keil, yang masih terdengar jelas di telinga Lucas.
“Hey, aku gak bicara sama kamu, ya!” bantah Lucas, membuat Keil terkekeh mendengarnya.
“Muka kau itu ke aku, wajar aja kalau aku mikir kau bicara sama aku,” ucap Keil yang berusaha membela dirinya di hadapan Lucas.
“Hey, gak gitu ya! Mukaku ke Athi, kok!” sanggah Lucas, masih berusaha berkilah dengan keadaan yang ada.
“Mana ada, mukamu juga ke aku!” sanggah Keil kembali, sontak membuat Athi tertawa mendengar mereka yang bertengkar seperti itu.
“Udah sih, kalian begitu aja diributin?” ujar Athi yang berusaha menjadi penengah di antara mereka yang sudah mulai tersulut emosi.
Sua, Imel dan Belle menertawakan reaksi Lucas dan Keil, karena merasa kalau mereka sangat lucu dalam bersikap.
“Hey Lucas, kenapa kau gak jadi pelawak aja, sih?” tanya Sua sontak membuat Lucas terkejut mendengarnya.
“Apa-apaan? Aku ini bakatnya jadi idol, bukan pelawak!” bantah Lucas, Sua dan yang lainnya hanya bisa tertawa mendengarnya.
“Ah, bener kata Sua, kamu lebih cocok jadi pelawak!” sambar Imel, sontak membuat Keil menahan tawanya.
Lucas memandang kesal ke arah Keil, “Hey Keil, senang banget kayaknya ngelihat aku dipermainin? Mau cari mati, hah?” ucap Lucas yang sedikit kesal dengan Keil.
Keil hanya bisa memandangnya dengan tawa yang masih berusaha ia tahan, “Gitu aja baper? Main sama kita harus kuat-kuat mental,” ucap Keil yang hanya bisa meledek Lucas.
Lucas memandangnya sinis, “Oke, aku gak mau main sama kalian lagi!”
Mereka pun hanya tertawa, mendengar ucapan Lucas yang aneh.
__ADS_1
...***...