Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Kelas Tambahan


__ADS_3

"Wah ... namanya kayak penyihir zaman kerajaan aja," gumam Athi dengan tawa yang hampir tak tertahan, membuat bocah bernama Lucas itu spontan memandangnya dengan sinis.


Athi tertegun, ternyata perkataannya membuat Lucas semarah ini.


Lucas pun kembali memandang ke arah jalan, sembari mempercepat langkahnya sedikit.


"Ma-maaf Lucas, aku gak maksud untuk--"


"Rumahmu di jalan ini, kan?" tanya Lucas yang langsung memotong ucapan Athi.


Athi menoleh ke arah yang Lucas tunjuk, "Iya," jawab Athi dengan cepat.


Lucas berbalik, "Sampai jumpa," gumamnya, yang langsung segera meninggalkan Athi tanpa basa-basi.


Athi mendelik bingung, "Lucas!" pekik Athi, membuat Lucas menghentikan langkahnya, "makasih udah nolong Athi," gumam Athi, tetapi tak dihiraukan Lucas.


Lucas segera melangkah kembali meninggalkan Athi di sana, membuat Athi jengkel dibuatnya.


"Apaan sih dia? Kok begitu sih sifatnya?" gumam Athi kesal, karena sikap Lucas yang aneh.


Karena sudah malam, Athi pun bergegas untuk menuju ke arah rumahnya, yang sudah tinggal sedikit lagi sampai.


...***...


Pagi ini, Athi bergegas untuk berangkat menuju ke sekolahnya. Athi melangkahkan kakinya menuju ke arah kelas. Sebenarnya, ia masih agak trauma dengan sikap semua anak laki-laki yang kemarin sudah mengejarnya. Namun, biar bagaimana pun juga, Athi harus tetap bersekolah, dan menimba ilmu dengan benar.


Athi masuk ke dalam ruang kelas. Di sana, ternyata sudah ada Imel dan juga Sua, sedang mengerjakan sesuatu di mejanya.


Athi duduk di bangkunya yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Hai, lagi pada ngerjain apa, sih?" tanya Athi pada mereka.


"PR bahasa Inggris. Aku lupa, gak ngerjain," ucap Imel dengan nada yang sangat kesal.


"Salah sendiri, udah tahu pelajaran ini dua kali dalam seminggu, kenapa pakai gak ngerjain segala?" gumam Sua dengan aneh, membuat Imel mendelik ke arahnya.


"Apa kamu bilang?" tanya Imel dengan sinis, membuat Sua menyunggingkan senyumnya.


"Salah kamu sendiri," ucap Sua yang mengulangi ucapannya pada temannya itu.

__ADS_1


"Awas ya kamu Sua! Gak akan aku traktir es krim lagi," ancam Imel, dengan nada yang tidak terlalu serius.


Ya, ternyata seperti ini rasanya berteman, pikir Athi, yang memandangi mereka dengan tatapan penuh kebahagiaan.


Athi baru menyadari, betapa berwarnanya hidupnya, setelah menjalin hubungan bersama mereka. Padahal, mereka belum lama berteman.


"Eh, aku baru ingat, hari ini ada pelajaran tambahan di kelas bahasa Inggris. Apa kalian mau ikut gabung ke klub?" tanya Sua tiba-tiba, membuat Imel dan Athi mendadak memperhatikannya.


"Eh, boleh tuh! Aku sekalian mengasah bahasa asing aku ini. Beneran pasif banget," ucap Imel dengan sangat antusias.


"Yuk, acaranya jam 2 siang, sepulang sekolah. Jadi, dari sini kita gak usah ganti baju lagi. Langsung aja ke lokasi," ucap Sua, membuat Athi berpikir dua kali untuk ikut bersama mereka.


'Wah, berarti aku harus touch up dulu dong, ya? Jam 2 pasti make up aku udah luntur banget deh,' batin Athi yang merasa risau dengan make up dan penampilannya, yang pastinya akan luntur jika terlalu lama tidak di aplikasikan ulang ke wajahnya.


"Wah ... yuk!" ucap Imel dengan sangat bersemangat.


Imel dan Sua menoleh ke arah Athi, "Kamu ikut kan, Thi?" tanya Sua, membuat Athi mendadak menjadi terkejut.


"Ah? Emm ... aku ...."


Sua memandang malas ke arah Athi, "ayolah ... akan ada para senior kece lho di sana!" ucap Sua, yang sedikit merayu Athi.


"Aku ikut," gumam Athi dengan lirih, sembari memberikan efek keren dari posenya.


Sua dan Imel menggelengkan kecil kepalanya, karena melihat respon Athi yang tak bisa tahan mendengar hal-hal yang berbau ketampanan.


"Baiklah," gumam Sua yang nampak senang mendengar keputusan Athi.


...***...


Siang hari tiba. Athi saat ini sedang berada di dalam kamar mandi siswa, yang letaknya tak jauh dari ruang kelasnya.


Ia memandang dirinya dengan saksama. Wajahnya terlihat sangat kusam, karena terlalu lama berada di dalam ruangan ber-AC.


Ya! Untuk seukuran sekolah besar seperti SMA Galaxy, seluruh ruang kelasnya memanglah menggunakan AC. Itu sebabnya, Athi harus terus membenarkan make up yang setiap tengah hari hampir luntur karenanya.


Athi menghela napasnya panjang, "Lama-lama lelah juga, ya?" gumam Athi yang mulai lelah dengan kegiatan make up yang rutin ia kerjakan, akhir-akhir ini.


Mungkin, karena Athi belum terbiasa untuk make up, ia jadi merasa berat untuk melakukannya secara berkala.

__ADS_1


Athi menghela napasnya sembari menatap dirinya di cermin, "Semangat! Harus ada perubahan! Harus menarik hati kakak senior, biar bisa lebih deket sama mereka!" gumam Athi, yang memperkuat tekadnya untuk mendapatkan salah satu dari mereka, untuk ia dekati.


Athi segera mengaplikasikan make up di wajahnya lagi, dan berusaha menutupi flek hitam yang mengganggu di wajahnya.


Beberapa saat berlalu, Athi pun sudah menyelesaikan dandanannya. Ia tersenyum ke arah cermin, karena dirinya sudah menjadi lebih percaya diri sekarang.


Athi melangkah menuju ke kelasnya, untuk bertemu dengan teman-temannya yang lain.


Athi mencari-cari keberadaan Sua dan Imel, "Sua, Imel," pekik Athi, membuat mereka menoleh ke arahnya.


"Ayo ke laboratorium bahasa," ajak Sua, membuat Athi dan Imel mengangguk senang karenanya.


Mereka pun pergi ke laboratorium bahasa asing. Athi melangkah dengan senangnya, karena koridor sekolahnya juga sudah mulai sepi, sehingga tidak ada laki-laki yang waktu itu mengejarnya.


"Tuh, di situ laboratoriumnya," gumam Sua, membuat Athi dan Imel mendadak tersenyum karenanya.


Mereka menghampiri ruangan itu, dan segera masuk ke dalamnya.


"Permisi!" pekik Sua dengan senangnya.


Mereka yang sudah berada di dalam ruangan itu, segera menoleh ke arah tiga serangkai itu.


Athi seketika mendelik kaget, karena melihat ada Azekeil di sana, yang sudah lebih dulu duduk di tempatnya.


"Hah!" pekik Athi dengan lirih, setelah melihat Azekeil yang sedang menatapnya dengan sinis.


'Jadi dia yang disebut cowok kece sama Sua?' batin Athi yang terheran-heran dengan keberadaan Keil.


"Silakan duduk," ucap seorang guru yang sudah memulai kelasnya.


Athi dan yang lainnya dengan sangat terpaksa duduk di kursi yang masih tersedia. Athi memandang ke arah Keil, yang juga sedang menatapnya dengan sinis.


Athi sampai takut dengan tatapan sinis dari Keil.


"Okay, let's just continue the lesson this time," ucap guru tersebut.


Sepanjang pelajaran berlangsung, Athi hanya memandangi Azekeil saja, karena rasa khawatirnya, padahal Azekeil sama sekali tidak memedulikannya. Ia malah bersikap sangat sinis pada Athi.


'Duh ... mudah-mudahan dia gak kenal sama aku,' batin Athi yang khawatir semua itu sampai terjadi.

__ADS_1


__ADS_2