Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Pahlawan Kemalaman


__ADS_3

Imel tak sengaja menoleh ke arah laki-laki yang melewati mereka. Mata Imel seketika berbinar, karena melihat ketampanan wajah yang tak biasa ia lihat, pada teman-teman sebayanya itu.


"Wah ... apa dia ya yang diomongin orang paling manis di sekolah?" gumam Imel, membuat Sua dan Athi menghentikan langkahnya, sembari memandang ke arah Imel memandang.


Sua mendelik, "Oh ... si Keil. Dia emang manis dari dulu juga," gumam Sua, yang membuat Athi dan Imel mendelik ke arahnya.


"Kamu kenal sama dia?" tanya Imel dengan sangat bersemangat.


Athi memandang tak percaya, kalau temannya yang satu ini, ternyata mengetahui sedikit tentang laki-laki yang sangat mengesalkan baginya.


"Ya, gak terlalu kenal sih ... tapi dulu kita pernah satu sekolah pas SMP," jawab Sua dengan datar.


Wajahnya memang selalu datar, karena memang sudah bawaan dari sifatnya yang seperti itu.


Mata Imel berbinar, "Terus gimana dia waktu SMP? Imut, gak?" tanyanya, membuat Sua menjadi kesal sendiri mendengar pertanyaan Imel.


Sua mengerenyitkan dahinya, "Ih udah deh, aku gak mau kamu terus-menerus bahas masalah cowok yang sama sekali gak ada faedahnya," gumam sinis Sua, yang langsung pergi meninggalkan Athi dan juga Imel, membuat keduanya merasa heran dengan sikap aneh Sua.


Mereka saling melempar pandangan, tak mengerti dengan apa yang Sua rasakan.


"Sua kenapa?" tanya Athi, membuat Imel menggelengkan kepalanya.


Athi dan Imel segera menuju ke arah Sua yang sudah lebih dulu pergi, meninggalkan mereka ke arah kantin.


Perbedaan sekolah sebelumnya di antara mereka, membuat mereka masih belum paham satu sama lain, tentang masing-masing sifat yang mereka miliki. Namun, bagi Athi itu memang sudah hal yang wajar, karena tidak ada pertemanan yang benar-benar mulus. Pastinya akan ada kerikil yang membuat hubungan pertemanan mereka sedikit terguncang.


Sesampainya di kantin, Athi dan Imel pun bergegas mencari keberadaan Sua. Mereka mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencoba mencari temannya yang satu itu.


"Sua ke mana, sih?" gumam Athi, sembari mencari lagi keberadaan Sua.


"Udahlah, nanti juga dia ke kelas juga," gumam Imel, yang dengan entengnya mengucapkan kalimat seperti itu.


Bagi Athi yang baru merasakan yang namanya menjalin hubungan pertemanan, hal itu tidak bisa sepenuhnya ia terima. Butuh waktu yang sangat lama untuk dirinya bisa diterima sebagai teman, seperti yang Imel dan Sua lakukan padanya saat ini.


Athi memandang sendu ke arah Imel, "Jangan gitu, dong. Kan gak enak kalau musuh-musuhan seperti ini," ucap Athi dengan nada sendu, membuat Imel memandang heran ke arah Athi.


"Ya habis gimana? Aku kan cuma nanya, kenapa dia malah begitu responnya?" tepis Imel, yang masih merasa dirinya paling benar.

__ADS_1


Athi tak bisa berkata apa pun lagi, karena ini adalah pengalaman pertamanya berteman, selama ini. Athi jadi tidak tahu harus berbuat seperti apa pada pertemanan yang seperti ini.


...***...


Dari arah ruang kelasnya, Athi menoleh ke segala arah, karena dirinya khawatir mereka semua yang tiba-tiba saja mengejar dirinya karena merasa terkesima dengan dandanan Athi yang terlalu mencolok, di antara teman-temannya.


Athi menghela napasnya dalam, "Untung aja mereka udah pada balik," gumam Athi yang merasa lega dengan keadaannya.


"Kenapa sih, jadi begini jadinya?" gumam Athi, yang tak habis pikir dengan yang terjadi siang tadi.


...-Flashback on-...


Athi mendelik, karena ia melihat Sua yang sudah lebih dulu mengambil makanan.


"Sua!" pekik Athi yang cukup keras, sehingga membuat semua mata tertuju padanya.


Mereka satu per satu mulai memandangi Athi, karena Athi membuat satu kesalahan. Athi pun mendelik bingung karena pandangan mereka yang seketika saja menoleh secara spontan ke arahnya.


'Waduh, kenapa nih?' batin Athi yang bingung melihat pandangan mereka yang aneh baginya.


Beberapa orang mendekat ke arah Athi dan juga Imel, "Hai, boleh kenalan gak?" sapa seorang anak laki-laki yang terlihat tidak memenuhi standar.


"Aku juga mau kenalan dong," ucap satu lainnya.


"Jangan kenalan sama dia, kenalan sama aku aja," ucap lainnya, membuat Athi dan Imel merasa sangat terusik dengan mereka.


Semakin lama, mereka semakin padat berdiri di hadapan Athi, membuat Athi tak tahu harus bagaimana lagi dalam bersikap.


"Gimana nih, Mel?" tanya Athi, yang sangat bingung dengan keadaan.


Sua menghampiri mereka dengan segera, "Ayo cabut!" ajak Sua, kemudian Athi dan Imel pun berlarian pergi menghindari kerumunan.


...-Flashback off-...


Hal itulah yang membuat Athi masih berada di kelasnya sampai larut malam. Sua dan Imel sudah lebih dulu pulang, karena Athi yang menyuruhnya. Ia masih tidak ingin berpapasan dengan mereka.


"Duh ... serem, harus buru-buru pulang, nih!" gumam Athi yang mulai takut dengan keadaan, kemudian segera berlarian menuju ke luar gedung sekolahnya.

__ADS_1


Dengan perasaan kesal, Athi melangkah menuju ke arah rumahnya. Penerangan yang minim, membuat Athi hanya asal melangkah saja melewati gang yang sempit dan becek, akibat hujan yang mengguyur sudut kota.


Athi mengedarkan pandangan ke segala arah, khawatir ada sesuatu yang tak kasat mata, yang akan mengagetkannya.


"Jangan ganggu ya," gumam Athi, yang masih terus berjalan menyusuri gang sempit itu.


"Krakk ...."


Seseorang terdengar menginjak ranting yang usang, membuat Athi mendelik kaget ke arahnya.


"Siapa itu?!" tanya Athi spontan, beberapa orang terlihat sedang menyunggingkan senyumannya ke arah Athi.


"Gadis manis, kenapa malam-malam begini ke tempat sepi seperti ini?" tanya salah seorang dari mereka, membuat kaki Athi seketika bergetar hebat.


Suasana yang sangat sepi, membuat Athi kehilangan keberaniannya di hadapan para laki-laki yang berdandan seperti berandalan itu.


Athi menahan dirinya, tidak ingin sampai mereka melihat titik lemah Athi saat ini.


"Glekk ...."


Athi tak sengaja menelan kasar salivanya, karena merasa sangat takut dengan keadaan sekitarnya yang memang sudah terlalu sepi. Bayangkan saja, tidak ada siapa pun yang melintas di gang sempit ini.


"Siapa kalian?" tanya Athi dengan sinis.


Mereka perlahan muncul terkena sorotan lampu jalan, yang tidak terlalu jelas. Pandangan mereka sangat tajam, membuat Athi semakin tak kuasa menahan rasa takutnya itu.


Perlahan, Athi pun melangkah mundur hingga beberapa langkah, berniat untuk kembali memutar ke gang yang sebelumnya ia lewati.


"Tukk ...."


Athi tak sengaja menyenggol seseorang yang memiliki postur yang sangat tinggi. Athi pun menoleh perlahan, dengan wajah yang sangat tegang karenanya.


"Happ ...."


Orang itu membekap mulut Athi dengan cepat, membuat Athi tak bisa bernapas dan kehilangan kesadaran seketika.


"Sudah beres," gumam lirih seorang yang membekap Athi menggunakan obat bius.

__ADS_1


"Mari menikmati malam bersama gadis cantik ini," ajak salah seorang dari keempat berandal yang ada di sana.


"Lepasin dia!"


__ADS_2