Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Keputusan 2


__ADS_3

“Tak!”


Lucas langsung menarik selang beserta jarum infus yang menempel di tangannya, membuat darahnya seketika mengalir dengan deras.


Ia bangkit dan berlari dari ruangannya, sontak membuat sekertarisnya terkejut karenanya.


“Lucas!” pekik sekertarisnya, yang sangat mengkhawatirkan keadaan Lucas.


Lucas terus berlari, tanpa peduli dengan pekikan sekertarisnya yang sejak tadi sudah memanggilnya.


Lucas yang masih mengenakan pakaian pasien, berlarian menuju ke arah caffee tempat ia berjanji dengan Athi.


Dengan derap langkah, Lucas berlarian hingga tidak memedulikan keadaan dirinya sendiri.


Ia tiba pada caffee yang ia janjikan, dan mendapati kalau ternyata kaffee tersebut sudah tutup dan sudah sepi.


Ia memandang dengan sangat tidak percaya, karena ia sudah melewati kesempatan berkencan dengan Athi.


Lucas menghela napasnya panjang, karena ia sudah merasa kehabisan napas. Ia memeriksa handphone-nya, yang ternyata banyak sekali chat dari Athi.


“Kau lagi ke sini? aku sudah hampir sampai. Kau di mana?”


“Hey, kau sedang ke sini, kan?”


“Kenapa gak angkat telepon? Sedang syuting?”


“Kau sibuk banget ya ... gak bisa dihubungi.”


“Aku pulang saja.”


Beberapa pesan singkat dari Athi, membuat Lucas menjadi sangat merasa bersalah pada Athi.


Kepalanya seketika terasa sangat sakit, dan ia terpaksa harus menundukkan kepalanya sejenak.


Lucas melihat ke arah handphone-nya, dan segera menghubungi Athi.


“Nomor yang ada tuju--”


Mendengar nada itu, Lucas segera berlarian kembali, untuk menuju ke arah rumah Athi. Ia sudah tidak memiliki pilihan lagi, karena ia sudah sangat merasa bersalah terhadap Athi.


Biar bagaimanapun juga, Lucas tidak sepenuhnya merasa bersalah.


Lucas kembali menghubungi, sembari berdoa agar Athi bisa mengangkat telepon darinya.


“Kumohon ... kumohon ... Athi, angkat sekali saja ....”


Tetesan air mata sudah mengalir dengan jelas, saking ia merasa bersalahnya terhadap Athi.

__ADS_1


Di sana, Athi memandang dengan datar handphone-nya yang terus bergetar. Karena merasa tidak tega, Athi pun akhirnya mengangkat telepon dari Lucas.


Telepon terhubung, tetapi Athi sama sekali tidak berbicara.


“Athi, maaf ... aku benar-benar minta maaf ... aku sekarang ada di depan rumahmu, boleh keluar sebentar? Sebentar saja ... kumohon ... sebentar,” ucap Lucas dengan nada yang sudah sangat sendu.


Athi yang merasa kecewa, bahkan tidak ingin menemuinya kali ini.


“Gak mau,” gumam Athi dengan sendu.


“Maaf ... maafkan aku ....”


Lucas berjongkok, dan menyembunyikan wajahnya pada dengkul kakinya.


“Aku yang bodoh! Sudah mau mau menunggu, kau kan tinggal bilang gak bisa, kalau lagi sibuk. Kenapa selalu membuat orang menunggu, sih?” bentak Athi dengan sangat kasar pada Lucas.


Tubuh Lucas seketika bergetar, mendengar Athi berbicara seperti itu padanya.


“Maaf, aku selalu membuatmu menunggu. Padahal, kali ini aku tidak bermaksud begitu, tapi malah ... huuuu ... huuuuu ....”


Lucas sudah tidak bisa menahan tangisnya. Seketika tangisannya pecah, karena merasa sudah sangat bersalah sudah membuat Athi menunggu.


Athi menghela napasnya dengan panjang, “Baiklah, tunggu sebentar.”


Athi dengan segera menuju ke arah Lucas berada. Ia terkejut, saat melihat Lucas yang saat ini sedang memakai baju layaknya pasien rumah sakit.


Athi mendelik kaget, “Ya ampun, kenapa bajumu seperti ini?” tanya Athi yang tidak tahu kebenarannya.


Lucas menangis di hadapan Athi, “Athi, kau sudah lama menunggu, ya? Aku benar-benar minta maaf. Aku bukan tidak mau pergi, aku benar-benar minta maaf, Athanasia,” gumam Lucas dengan nada yang sangat ia paksakan.


Athi terkejut melihat reaksi Lucas yang seperti itu.


Lucas memeluk Athi, sakit dirinya lemas karena sudah tidak bisa menumpu tubuhnya lagi.


Lucas menumpahkan tangisannya di dalam pelukan Athi.


...***...


Athi sudah sampai di dalam kamarnya. Ia benar-benar tidak menyangka, kejadiannya akan jadi seperti ini.


Handphone-nyar berdering, membuat Athi seketika mengangkat telepon dari Lucas.


“Halo, kau sudah sampai rumah? Cuacanya kan lagi dingin, kenapa keluar seperti itu? Minum yang hangat, lalu tidur ....”


“Athi, aku benar-benar minta maaf. Padahal kali ini aku benar-benar mau datang. Aku berkali-kali membuatmu menunggu dan hanya mengecewakanmu. Maaf ... aku benar-benar minta maaf Athi,” ucap Lucas, sontak membuat Athi merasa sedih mendengarnya.


Tangis Athi pun pecah, “Gak kok! Aku yang minta maaf, karena sudah kesal duluan. Padahal aku gak tahu kondisimu.”

__ADS_1


“Kenapa kau minta maaf, jangan minta maaf ....”


“Lucas, aku selalu mengira kalau hanya aku yang merasa berat dan hanya aku yang menunggu. Tapi hari ini, aku melihatmu ternyata pikiranku tidak benar,” ucap Athi.


“Mulai sekarang, aku tidak akan begini lagi. Aku tidak akan membuatmu menunggu lagi. Tolong, jangan minta maaf.”


Athi menghela napas walau masih terisak, “Lucas, ini bukan masalah yang semuanya adalah salahmu. Aku tidak bisa terus menunggumu, dank au juga tidak bisa terus membuatku menunggu.”


Athi menghela napasnya, “Memang kita waktunya tidak pas saja.”


“Maaf,” ucap Lucas.


“Jangan minta maaf,” bantah Athi.


...***...


Esok hari, Athi sangat menyesal telah berbuat seperti ini pada Lucas. Ia tidak bisa terus seperti ini pada Lucas.


‘Aku kira aku akan bisa terus menjadi teman dengan Lucas, ternyata tidak.’


‘Aku gak bisa begini terus,’ batin Athi.


Ia segera mengirimkan pesan singkat pada Lucas, untuk segera menemuinya.


Malam hari tiba, Lucas dan Athi pun bertemu di caffee yang sama dengan yang mereka janjikan sebelumnya.


Di hadapan mereka, kini sudah banyak sekali tersedia makanan. Akan tetapi, mereka sama sekali belum menyentuhnya.


Mereka sama-sama menundukkan pandangannya, karena merasa bingung dengan keadaan.


Athi menghela napasnya untuk mulai membuka pembicaraan, “Lucas ... apa mungkin kau ... masih tidak bisa melupakan aku?” tanya Athi, sontak membuat Lucas memandang ke arahnya dengan sangat terkejut.


“Eh ...,” Lucas menunduk kembali, “iya.”


Athi lagi-lagi menghela napasnya dengan panjang, “Begitu, ya.”


Athi memandang sendu ke arah Lucas, “Lucas, sepertinya aku terlalu egois. Maaf ....”


Lucas memandang Athi dengan sangat tidak mengerti, “Eh, apa maksudmu?” tanya Lucas.


Athi menunduk sendu, “Saat kita putus dan kau bilang kita jadi teman saja. Aku menerima arti kata-kata itu apa adanya.”


Athi terdiam sejenak, dengan Lucas yang masih menyerna perkataan dari Athi.


“Tapi setelah melihatmu yang datang ke depan rumahku kemarin, aku sadar bahwa aku yang sudah yakin untuk putus denganmu, tidak boleh berpikir seperti itu ....”


Lucas semakin mendelik, “Aku gak mengerti maksudmu,” ujar Lucas.

__ADS_1


“Kita sejak awal adalah teman, bukan? Makanya, aku kira setelah waktu berlalu ... dan luka hati kita masing-masing sudah pulih, pasti tidak akan sulit bagi kita, untuk kembali menjadi teman, walaupun kita sudah putus,” ucap Athi menjelaskan pada Lucas.


__ADS_2