
Selain itu, Athi juga sangat malu dengan ucapan yang Imel dan Sua katakan. Jantung Athi seketika berdetak lebih kencang dari biasanya, membuatnya hampir saja tidak bisa berpikir dengan jernih.
‘Ucapan Sua bikin aku malu aja. Memangnya, cowok se-perfect Pak Arghi mau sama orang jelek seperti aku? Boro-boro menikah, mungkin saat malam pertama, dia udah menjerit duluan melihat wajah aku yang seperti kaleng rombeng ini!’ batin Athi yang sangat terpukul mengenai wajahnya yang tidak bisa dikondisikan lagi.
Athi mendelik, ‘Kenapa aku malah mikirin malam pertama, sih?’ batin Athi yang baru sadar kalau dirinya sedang berkhayal yang tidak-tidak mengenai Arghi.
“Ah ... udah! Ayo kita ke ruangan klub!” ujar Athi yang saking kesalnya dengan pemikirannya sendiri, membuatnya sangat kesal dengan keadaan.
Melihat Athi yang berjalan mendahului mereka, membuat Imel dan Sua saling melepar pandangan satu sama lain.
“Ah, kamu sih! Athi marah kali, tuh!” tegur Imel, membuat Sua memandangnya dengan sinis.
“Kamu tuh bicara terus! Awalnya juga kamu kan yang mulai!” bantah Sua, membuat Imel mendelik karenanya.
“Sua!” pekik Imel yang kesal dengan ucapan Sua padanya.
Tak ingin menghiraukan, Sua pun pergi dari hadapannya untuk segera menyusul Athi yang sudah berjalan menuju ke arah ruangan klub.
...***...
Athi yang geram dengan pikirannya, membuatnya berjalan hingga tak tentu arah. Saking kesalnya, langkahnya malah membawanya menuju ke ruangan guru, membuat Athi tersadar dan menghentikan langkahnya sejenak.
“Lho, kenapa aku ke ruangan guru, sih?” gumam Athi yang bingung dengan dirinya sendiri.
Saking tak sadarnya, ia sampai berada di depan ruangan yang salah.
Seseorang pun datang dari balik pintu, membuat Athi terkejut melihatnya.
“Pak Arghi,” gumam Athi yang terkejut melihat Arghi yang baru saja datang dari balik pintu.
“Oh, halo Athanasia,” sapa Arghi sembari melontarkan senyumnya.
Jantung Athi sampai berhenti sejenak, mendengar dirinya menyapa Athi seperti itu. Arghi menyodorkan sesuatu ke arah Athi, membuat Athi menjadi bingung karenanya.
“Ini, ambil. Kebetulan tadi saya mau kasih ini ke kamu,” ujar Arghi, membuat Athi menelan salivanya.
Athi dengan tidak enak mengambil minuman ringan yang Arghi berikan, “Terima kasih, Pak,” ujar Athi, membuat Arghi tersenyum dibuatnya.
“Sama-sama,” jawab Arghi, membuat satu panah khayalan tertancap di relung hati Athi.
__ADS_1
Matanya kin menjadi berbinar, saking dirinya senang diperlakukan manis dengan seorang laki-laki.
Athi tersadar dari lamunannya, “Pak, saya harus pergi ke ruangan klub,” ujar Athi membuat Arghi tersenyum.
“Baiklah. Sampai jumpa!” ujar Arghi, membuat Athi tersenyum hangat padanya.
Dengan segera Athi pun pergi meninggalkan Arghi, dan segera memasuki ruangan kelasnya.
...***...
Athi sudah selesai mengikuti kegiatan klub. Kini, ia pun sudah ada di rumah dan sudah merebahkan dirinya di atas ranjang.
Sebagai seorang gadis yang masih labil, Athi terkadang menjadi bingung dengan kehidupan yang sedang ia jalani sekarang.
“Kenapa sih Pak Arghi bersikap begitu sama aku? Apa dia beneran suka sama aku?” gumam Athi yang bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
Terbersit sesuatu di pikiran Athi, “Apa aku lihat tarot aja kali, ya?” gumamnya, yang tanpa basa-basi segera melihat ramalan tarot di handphone-nya.
Athi pun memulai ramalan itu, dan segera melihat apa yang digariskan untuknya.
...“Jodohmu sudah dekat.”...
Athi mendelik, karena ramalan tarot itu mengatakan hal demikian.
Karena kurang yakin dengan jawabannya, ia pun kembali mengundi peruntungannya, dan menemukan jawaban berikutnya.
...“Akan terlibat cinta segitiga.”...
Athi mendelik, karena dirinya yang sangat bingung dengan maksud dari ramalan tarot yang tidak jelas ini.
“Gimana, sih? Tadi katanya jodoh aku deket? Kenapa ini ada cinta segitiga segala?” gumam Athi yang tidak puas dengan jawaban tarot online ini.
...“Tring ....”...
Athi melihat pesan yang baru saja masuk ke dalam handphone-nya. Ia mendelik seketika, saat mengetahui kalau yang ia lihat adalah pesan dari Arghi.
“Wah! Ternyata beneran jodoh aku udah dekat!” gumam Athi yang tidak percaya dengan ramalan asal yang ditujukan untuknya.
Athi memang tidak percaya, tetapi ketika melihat pesan dari Arghi, ia baru percaya dengan ramalan tarot itu, yang katanya jodohnya sudah dekat.
__ADS_1
“Fix! Ramalan pertama benar, dan ramalan kedua salah!” ujar Athi yang saking bahagianya, sampai lupa melihat isi pesan dari Arghi.
“Oh ya, sampai lupa mau baca pesan dari Pak Arghi!” ujar Athi, yang langsung membaca pesan darinya.
“Athanasia, Bapak ada di dekat rumahmu, nih! Kita bisa bertemu sebentar, gak?”
Isi pesan singkat dari Arghi, yang membuat Athi sangat terkejut karenanya.
“Apa? Dia ngajak aku ketemu?!” pekik Athi yang sangat terkejut melihat isi pesan darinya itu.
“Aku harus cepet-cepet make up!” ujar Athi dengan penuh semangat, yang langsung menyambar peralatan make up itu.
Athi mengusap foundation yang tak terlalu tebal, merapikan alisnya, memakai lensa, dan juga menguncir rambutnya secara natural. Athi segera mengganti bajunya dengan baju training pendek, selaras dengan celana training yang memiliki warna senada dengan baju yang ia kenakan.
“Siap!” gumam Athi sembari melihat ke arah cermin besar yang ada di hadapannya.
Athi pun dengan segera keluar dari kamarnya, “Bu, aku keluar sebentar!” pekik Athi dengan sangat kencang, sembari berlalu pergi meninggalkan rumah ini.
Athi pun mencari keberadaan Arghi.
“Pak Arghi di mana, ya? Katanya sih di kafe ini?” gumam Athi yang kesulitan mencari keberadaan Arghi.
“Athanasia!” pekik seseorang yang berada di ujung ruangan, membuat Athi tersenyum mendengar suara pekikannya itu.
Dengan segera, Athi menghampiri Arghi, dan duduk dihadapannya dengan sangat anggun. Wajah sumringah dan senyum berkilauan, mungkin saja sudah terpancar dari wajah Athi saat ini.
“Maaf ya, Bapak ajak kamu ketemu malam-malam seperti ini,” ujar Arghi, membuat Athi melontarkan senyuman ke arahnya.
“Gak apa-apa, Pak! Lagian, rumah saya dekat sini,” ujar Athi, membuat Arghi tersenyum ke arahnya.
“Oh ya, sampai lupa,” ujar Arghi yang segera mengambil sebuah bingkisan yang berada di hadapannya, “ini untuk kamu makan bersama keluarga kamu,” ujar Arghi, membuat Athi merona dibuatnya.
“Terima kasih, Pak! Harusnya gak usah repot-repot,” ujar Athi, berusaha untuk berbasa-basi dengan Arghi.
Wajah Athi saat ini sangat merona, membuat dirinya hampir tak mampu menahan perasaannya di hadapan Arghi.
‘Pak Arghi, gak boleh begini sama saya, lho!’ batin Athi yang masih belum siap jika hal-hal yang Sua dan Imel ucapkan tadi, menjadi kenyataan.
“Athanasia, Bapak akan bicara terus terang,” ujar Arghi dengan nada yang sangat serius, membuat Athi sontak terkejut dibuatnya.
__ADS_1
‘Wah gila ngomongnya cepat banget! Jangan Pak, aku masih belum siap nerimanya! Gimana nanti kalau dia beneran kaget ngelihat aku tanpa make up? Gimana kalau pas malam pertama, dia tiba-tiba aja pingsan? Gimana kalau sehari setelah nikah, aku langsung diceraikan sama dia?’ batin Athi dengan perasaan yang sudah tidak bisa terkontrol lagi.
Athi menghela napasnya dan segera mengambil sikap tegas, “Anu, Pak. Saya masih--”