Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Terngiang


__ADS_3

"Brukk ...."


"Aduh!" gumam Athi, yang kakinya tak sengaja tertimpa buku yang sedang ia pegang.


Bukunya terlepas, saking khawatirnya dirinya karena tidak fokus dalam membawa bukunya, karena memikirkan kejadian malam tadi bersama dengan Keil.


"Duh ... pake segala jatuh bukunya," gumam Athi sembari menahan sakit pada kakinya.


Athi segera mengambil bukunya yang terjatuh di atas aspal jalan, sehingga membuat buku tersebut terlihat sangat kotor jadinya.


Athi mengerenyitkan dahinya, "Aduh ... pake segala kotor lagi ini buku! Baru juga beli, udah kotor aja! Mana bukunya belum lunas lagi," gerutu Athi, sembari mengibaskan debu-debu yang menempel di sampul buku pelajaran yang baru ia terima kemarin.


Sebagai murid baru, Athi diharuskan untuk membeli buku yang disediakan oleh pihak sekolah, membuatnya terpaksa harus membelinya, walau terpaksa harus mendahulukan uang seragamnya. Ibunya tidak sanggup untuk membayar kedua hal tersebut secara serempak, membuat Athi harus pintar-pintar mengambil hati wali kelasnya, untuk memberikan sedikit keringanan padanya.


Akhirnya, Athi mendapatkan keringanan itu, dan memberitahukannya pada ibunya, bahwa buku yang ia terima bisa dicicil hingga tahun ajaran berakhir.


Kiranya dirasa cukup bersih, Athi pun melanjutkan perjalanannya menuju ke sekolahnya, yang sudah terlihat di ujung jalan sana. Ia pun mempercepat langkahnya, karena merasakan sesuatu yang tidak baik sepertinya.


'Sepertinya ada yang ngikutin aku,' batin Athi merasa khawatir dengan keadaan sekitarnya.


Ia tidak mau kejadian seperti malam itu terulang lagi, karena pagi ini, Athi berangkat ke sekolah pagi-pagi buta.


Athi pun tiba di sekolahnya. Ia menoleh ke segala arah, melihat keadaan koridor utama sekolahnya yang pagi ini sangat sepi, karena mungkin banyak siswa yang belum datang ke sekolah.


"Duh ... baru jam 6 sih. Semoga si Azekeil belum datang," gumam Athi, yang ketakutan dengan kehadiran Azekeil yang tiba-tiba seperti semalam, saat bertemu di festival.


Athi memang datang sangat pagi, demi menghindari bertemu Azekeil, karena ia merasa sangat bersalah dengan Keil, karena sudah memfitnahnya tanpa disaring terlebih dulu.


Ia melangkah melewati koridor dengan perlahan, membuat rasa berdebar di hatinya menjadi semakin terasa karenanya.

__ADS_1


"Mudah-mudahan gak ketemu dia," gumam Athi yang selalu berharap tidak akan bertemu Keil hari ini.


Athi sangat khawatir, jika saja dirinya bertemu kembali dengan Azekeil yang sudah mengetahui rahasianya. Ia sangat khawatir kalau saja Azekeil membeberkan rahasia itu pada teman-temannya yang lain, dan membuat kejadian semasa SMP Athi terulang kembali.


Dengan berangkat sangat pagi, Athi melangkah menuju koridor kelasnya. Hatinya selalu sangat berdebar, karena mungkin saja ia tidak bisa menerima kalau nantinya Keil akan menuntutnya atas tuduhan yang dituduhkan padanya.


Athi menggigit kecil jari tangannya, "Duh ...," gumam Athi yang semakin ketakutan, ketika ia melewati kelas Keil.


Matanya membulat kaget, "Hah!" gumam Athi, yang tak sengaja bertemu dengan Azekeil yang memang sudah menunggunya sejak tadi di depan koridor kelasnya.


Menyadari kedatangan Athi, Keil pun membenarkan sikapnya yang semula menyandarkan tubuhnya pada dinding kelasnya. Ia menatap tajam ke arah Athi.


"Heh," pekik Keil, membuat Athi mengeluarkan keringat yang cukup banyak di keningnya.


"Glekk ...."


Athi memandangnya dengan tatapan yang takut, "Oh, hai Keil," gumam Athi, yang terpaksa saja menegurnya, karena tidak mau terkesan sombong di mata Keil.


Athi segera membalikkan tubuhnya, berusaha untuk pergi dari hadapan Keil. Keil yang melihat gerak-gerik Athi yang mencurigakan, segera menghela napasnya dengan kasar.


"Semalam kamu ngatain aku apa?" tanya Azekeil, membuat kaku sekujur tubuh Athi.


Athi kembali membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Keil, "Ah ... kok kamu udah sampai di sekolah pagi-pagi buta begini, Keil. Rajin banget, ya," gumam Athi, yang tentu saja untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka agar tidak membahas permasalahan kemarin.


Keil memandangnya dengan tatapan sengit, "Aku tanya, semalam kamu ngatain aku apa?" tanya Keil, yang semakin mempertegas pertanyaannya pada Athi, membuat Athi terpojok dan tak bisa lagi menyangkal kali ini.


"Ah ... apa ya? Aku lupa, Keil hehe," jawab Athi dengan nada yang selalu canggung.


Keil mendekat sedikit ke arah Athi, membuat Athi semakin canggung dengan yang Keil lakukan.

__ADS_1


Athi mendelik, 'Hah! Dia mau ngapain?' batin Athi yang khawatir dengan Keil yang sedang menghampirinya.


"Kamu--"


Athi mendelik lalu menutup wajahnya dengan kedua sisi tangannya, "Aku mohon kamu jangan bilang siapa-siapa tentang wajah asli aku tanpa make up ya! Aku gak mau sampai temen-temen aku, Sua dan Imel tahu kalau aku punya wajah yang jelek banget tanpa make up. Aku juga gak mau kejadian sewaktu aku SMP terulang kembali. Aku gak mau! Please, jangan bilang ke mereka, ya?" ucap Athi memotong pembicaraan Keil yang belum sempat ia bicarakan.


Keil mendelik heran ke arahnya, "Kamu kenapa, sih? Maksudnya apa?" tanya Keil, yang tak paham dengan apa yang Athi maksudkan.


Athi merengek di hadapannya, "Pokoknya kamu jangan kasih tahu ke mereka tentang dandanan aku yang di luar sekolah, aku mohon banget, jangan sampai mereka tau, ya? Aku janji akan ngelakuin apa pun yang kamu suruh," ucap Athi yang benar-benar membuat Keil bingung.


Keil memandangnya dengan datar, "Oke, kalau itu mau kamu. Kalau gitu, kamu mau ngelakuin apa yang aku mau, kan?" tanya Azekeil, membuat Athi mendelik bingung.


'Saking paranoid aku, sampai gak sadar ngomong begitu ke Keil,' batin Athi yang kebingungan dengan perkataan Keil.


"Gimana? Beneran mau ngelakuin apa yang aku suruh?" tanya Keil, membuat Athi mendelik kembali ke arahnya.


"I-iya, mau! Asal kamu janji, jangan sampai kasih tau ke mereka soal itu," jawab Athi, membuat Keil tersenyum miring ke arahnya.


"Baiklah. Kalau gitu, kamu harus nurutin semua yang aku mau, selama tiga hari ke depan. Sebagai gantinya, aku gak akan kasih tau ke teman-teman kamu, tentang masalah ini," ucap Keil, membuat Athi mendelik melongo mendengarnya.


"Hah? Yang benar aja, Keil--"


"Kamu mau apa enggak?" tanya Keil, memotong ucapan Athi secara tiba-tiba.


Athi tidak bisa berkilah apa pun lagi di hadapan Keil saat ini. Ia sudah terlalu terpojok dengan keadaan.


Athi, memandang ke arah Keil, "Baiklah, selama tiga hari ke depan, aku siap jadi kacung kamu!" ucap Athi dengan nada yang sangat ketakutan, membuat Keil mendadak tersenyum miring ke arahnya.


"Sip. Itu yang mau aku dengar dari kamu," gumam Keil, membuat Athi tak bisa berkata-kata lagi.

__ADS_1


__ADS_2