Manisnya Cinta Sahabat

Manisnya Cinta Sahabat
Drama Kia Selesai


__ADS_3

Lucas mendelik mendengar penjelasan Keil. Ia tak menyangka, kalau kejadiannya akan seperti itu. Selama ini, Lucas hanya terus menyalahkan Keil, tanpa tahu kejadian yang sebenarnya.


Lucas menatap Keil dengan pandangan yang masih tidak menyangka. Dirinya sudah sangat bersalah karena sudah mengucilkan Keil sejak lama.


"Ja-jadi, itu yang selama ini kamu tutupi?" tanya Lucas yang masih belum percaya dengan Keil.


Keil memandangnya dengan sendu, "Ya. Sebenarnya aku gak akan mau kasih tahu masalah keluarga seperti ini sama kamu. Ya tapi mau gimana lagi? Aku juga gak bisa terus-terusan menghindari kamu, yang terus-menerus berpikir buruk tentang aku. Intinya, aku gak seperti yang kamu bayangin," jawab Keil, membuat Lucas tidak mampu berkata lagi.


Waktu memang tidak bisa diputar kembali, tetapi setidaknya mereka harus berusaha untuk memperbaiki kesalahpahaman di antara mereka.


Satu jalan sudah terbuka, membuat amarah Lucas menjadi sedikit mereda.


Lucas memandang Keil dengan canggung, "Hey, Keil," panggil Lucas, membuat Keil menoleh ke arahnya, "maaf tentang semua salah paham ini," ujar Lucas, membuat Keil menunduk sendu mendengarnya.


"It's okay, Lucas. Waktu memang tidak bisa diulang kembali. Kita gak bisa menghentikan Kia untuk bunuh diri. Namun, paling enggak kita bisa saling mengerti tentang semua permasalahan ini. Ini bukan sepenuhnya salah aku," ujar Keil, membuat Lucas menghela napasnya panjang.


Lucas memandangnya dengan datar, "Ya. Yang lalu biarlah berlalu. Gimana ... kalau akhir pekan ini, kita sama-sama ke makam Kia?" tawar Lucas, membuat Keil mengangguk setuju karenanya.


Keil tersenyum tipis, "Oke. Berkabar aja," ujar Keil membuat Lucas tersenyum tipis ke arahnya.


"Brukk!"


Lucas tiba-tiba saja menghajar Keil, membuat Keil mendelik karenanya.


"Maksudnya apa?" tanya Keil dengan sinis.


"Sejak dulu aku geram. Setidaknya, aku sudah puas menghajarmu sekali," jawab Lucas dengan penuh semangat, membuat Keil hanya memandangnya dengan datar.


"Idiot sekali," umpat Keil yang langsung meninggalkan Lucas di sana.


Lucas memandang kepergian Keil, membuat hatinya merasa lega saat ini.


"Bukan karena Keil membenci Kia, tetapi karena Keil juga punya masalah lain yang aku gak tahu, makanya Keil gak bisa angkat telepon dari Kia," gumam Lucas, yang berusaha untuk membuat dirinya berpikir lebih lega setelahnya.


Kesalahpahaman antara Lucas dengan Keil, membuat dirinya selalu hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah. Kalau Lucas tahu kejadian sebenarnya seperti itu, ia tidak akan terus memusuhi Keil.


"Huft ...."

__ADS_1


Lucas menghela napasnya panjang, dan segera pergi menuju kelasnya.


...***...


Athi memandang kesal ke arah papan tulis, yang berada di hadapannya. Ia sangat kesal dengan pertikaian yang Keil dan Lucas lakukan tadi.


"Mereka beneran bikin aku naik darah, ya!" geram Athi, saking kesalnya dirinya karena tidak bisa bernapas dengan lega.


..."Dringg ...."...


Athi mendelik, karena terkejut mendengar suara dering handphone-nya yang cukup keras, membuatnya harus segera mengangkatnya.


Terlihat nama Zeti yang tertera di layar handphone-nya. Tanpa ragu, Athi pun mengangkatnya.


"Halo kak," sapa Athi.


"Halo, Thi. Kakak ada di lobi sekolahmu. Cepetan ke sini, kakak bawa makanan enak," ujarnya, membuat Athi mendelik dan berbinar jadinya.


"Okey!"


Athi segera memutuskan telepon mereka, dan juga segera menuju ke arah lobi utama sekolahnya.


"Kak Zeti!" sapa seseorang, membuat Zeti seketika menoleh ke arahnya.


Zeti mendelik, "Eh, apa kabar? Kamu sekolah di sini juga?" tanya Zeti pada Lucas yang ada di hadapannya.


"Baik. Ya, aku sekolah di sini juga. Ada perlu apa ke sini?" tanya Lucas, membuat Zeti menjadi malu dibuatnya.


"Aku ke sini mau kasih makanan untuk adikku. Oh ya, kamu habis dari mana? Sudah makan belum?" ujar Zeti.


"Oh, gitu. Tadi aku habis dari belakang sekolah. Kebetulan aku sudah makan roti, Kak," jawab Lucas, membuat Zeti tersenyum.


"Oh gitu. Sudah lama ya kita gak ketemu. Gimana band kalian?" tanya Zeti, membuat Lucas menghela napasnya.


"Kak Zeti belum tahu?" tanya Lucas kembali, membuat Zeti menggelengkan kepalanya, "Kia ... sudah gak ada," ujar Lucas, sontak membuat Zeti mendelik kaget mendengarnya.


"Apa?!" pekik Zeti, membuat semua mata seketika tertuju padanya.

__ADS_1


Lucas menyeringai ke arahnya, "Jangan keras-keras, Kak!" ujar Lucas, membuat Zeti menutup mulutnya secara spontan.


"Kenapa beritanya rapat sekali?" tanya Zeti, membuat Lucas memandangnya dengan datar.


"Nanti aku ceritakan. Kapan ada waktu ketemu, Kak?" tanya Lucas, membuat Zeti berpikir sejenak.


"Nanti aku kirim kabar," ujar Zeti membuat Lucas mengangguk kecil mendengarnya.


"Oke, nomor Kakak masih yang lama?" tanya Lucas, membuat Zeti mengangguk, "kalau gitu aku permisi dulu ya Kak. Mau ke kelas, sebentar lagi masuk," ujar Lucas, membuat Zeti tersenyum.


"Oke."


Lucas pun berlalu pergi meninggalkan Zeti di sana. Karena Zeti adalah seorang agensi, ia jadi mengenal Lucas dan juga teman-temannya, karena dulu mereka hampir saja taken kontrak dengan grup yang menaungi Zeti di dalamnya. Namun, tak disangka band mereka malah redam, tak ada berita setelahnya.


Zeti juga kehilangan kontak Lucas, membuatnya tidak bisa berhubungan lagi dengan Lucas.


"Kakak!" pekik Athi dengan sangat keras, membuat Zeti menjadi sangat terkejut dibuatnya.


Zeti berbalik menghadap ke arah Athi, "Heh, ngagetin aja!" bentak Zeti, membuat Athi menyeringai ke arahnya.


"Ah, Kakak mah! Kayak gak paham adiknya aja," goda Athi, membuat Zeti semakin geram dengannya.


"Adek lucknut," umpat Zeti yang masih terdengar oleh Athi.


Athi memandangnya dengan tatapan datar, "Mana makanan yang Kakak bilang?" tanya Athi dengan nada meninggi, membuat Zeti mendelik kesal ke arah Athi.


"Heh, gak sopan!" ujar Zeti membuat Athi terbahak-bahak mendengar omelan kakaknya itu.


"Cepat sini, aku udah mau masuk tahu," ujar Athi, yang benar-benar parah jika menggoda Zeti.


"Gak ada, makanannya sudah aku kasih kucing," ujar Zeti sembari menafikan pandangannya dari Athi, membuat Athi mendelik ke arahnya.


"Masa Kakak kasih makanannya ke kucing, sih? Yang benar aja, kak!" rengek Athi, yang kesal mendengar Zeti berbicara seperti itu, karena Athi memanglah sangat lapar akibat uang jajannya yang habis karena karaoke koin kemarin.


"Makanya, jangan senga," ujar Zeti, membuat Athi semakin merengek ke arahnya.


"Iya-iya, maaf deh ya!" ujar Athi yang menyesal karena sudah menggoda macan galak.

__ADS_1


Zeti menyeringai karena sudah merasa puas bisa menjahili adiknya juga. Ia menyodorkan kantung plastik berisi makanan ke arah Athi.


Mata Athi seketika berbinar, "Wah ...," Athi mengambilnya, "makasih, Kak!" ujar Athi dengan sangat bersemangat.


__ADS_2